RAMADHAN, MOMENTUM AMALKAN AL QUR’AN -->

Iklan Semua Halaman

DUNIA ISLAM

RAMADHAN, MOMENTUM AMALKAN AL QUR’AN

Kamis, 07 Mei 2020


Andai penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan menurunkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami). Karena itu Kami menyiksa mereka karena apa yang mereka perbuat itu (TQS al-A’raf [7]: 96). []


Alhamdulillah, kita masih berada di bulan yang mulia, bulan Ramadhan. Di hari yang mulia, hari Jumat. Bersama dengan orang-orang yang mulia, orang-orang  bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa dicurahkan kepada habibina wa maulana, Rasulullah Muhammad SAW.


Marilah kita tingkatkan takwa kita kepada Allah, terlebih lagi di bulan takwa, bulan Ramadhan.  Takwalah yang menentukan derajat manusia di sisi Allah.  Makin tinggi derajat takwa seseorang, maka makin tinggi pula derajatnya di sisi Allah.

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. (TQS Al Hujurat: 13)


Ada satu hari istimewa di bulan ini, yakni hari diturunkannya Al Qur’an. Kita sering mengenalnya dengan istilah Nuzulul Qur’an.  

Sering kita memperingatinya, tapi sayang Al Qur’an belum diterapkan di muka bumi ini secara nyata.
Padahal, mencampakkan Al Qur’an (Hajr al-Qur’an) adalah dosa besar. Allah SWT mencela orang-orang yang berperilaku demikian.

Lalu apa saja perilaku yang termasuk mencampakkan Al Qur’an? Beberapa di antaranya adalah tidak meyakini kebenaran Al Qur’an. 

Tidak mau mendengarkan dan tidak memperhatikan Al Qur’an. Mengimani Al Qur’an, tetapi tidak mau mempelajarinya. Mempelajari kandungan Al Qur’an, tetapi jarang sekali membacanya. Sering membaca Al Qur’an, tetapi tidak men-tadabburi-nya. 

Kadang merenungi makna dan memahami ayat-ayat Al Qur’an, tetapi enggan mengamalkannya. Tidak menghalalkan apa yang telah dihalalkan Al Qur’an. Tidak mengharamkan apa yang diharamkan Al Qur’an. Tidak menjadikan Al Qur’an sebagai sumber aturan dan hukum untuk mengatur kehidupan. Mencari ketenangan dan penyelesaian masalah bukan dari Al Qur’an. 

Semua itu adalah perilaku Hajr al-Qur’an (mencampakkan Al Qur’an).

Al-Hafizh Ibn Katsir mengatakan bahwa Allah  SWT telah mengabarkan tentang keluhan Rasul-Nya atas perilaku kaumnya:
Tuhanku, sungguh kaumku telah menjadikan Al Qur’an ini sebagai sesuatu yang dicampakkan (QS al-Furqan [25]: 30).

Keluhan itu terucap karena perilaku umatnya yang tidak mau memperhatikan dan mendengarkan Al Qur’an. Allah SWT berfirman:

Orang-orang kafir berkata, “Janganlah kalian mendengarkan Al Qur’an dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya agar kalian menang.” (QS Fushshilat [41]: 26).

Jika Al Qur’an dibacakan, mereka merasa risih. Mereka lalu membuat gaduh atau perkataan lain yang secara sengaja dilakukan agar Al Qur’an tidak didengar. Perbuatan ini termasuk dalam kategori Hajr al-Qur’an (mencampakkan Al Qur’an).

Demikian pula tidak mengamalkan Al Qur’an. Tidak melaksanakan perintah-perintah Al Qur’an. Tidak menjauhi larangan-larangan Al Qur’an. Berpaling dari Al Qur’an ke hal lain (seperti lebih senang dan tenang mendengar dan melantunkan syair, musik, lagu atau nyanyian) selain Al Qur’an. 

Sibuk mempelajari perkataan, permainan, pembicaraan atau tuntunan yang diambil dari selain Al Qur’an. Semua itu, menurut Ibnu Katsir, termasuk perilaku mencampakkan Al Qur’an (Lihat: Ibn Katsîr, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 6/108).
Sebaliknya, ada kewajiban untuk mengamalkan Al Qur’an. 

Ibnul Qayyim dalam Zâd al-Ma’âd berkata, “Sebagian salafush shalih mengatakan, sesungguhnya Al Qur’an diturunkan untuk diamalkan. Karena itu jadikanlah aktivitas membaca Al Qur’an sebagai wujud pengamalannya. Ahlul Quran adalah orang yang memahami dan mengamalkan Al Qur’an walaupun ia tidak menghafalkannya. Sebaliknya, orang yang menghapal Al Qur’an, namun tidak memahami dan mengamalkan kandungannya  (meskipun dia sangat perhatian dalam pengucapan huruf-hurufnya), tidak layak menyandang predikat sebagai Ahlul Quran (Ibnu al-Qayyim, Zâd al-Ma’âd, I/338).

Karena itu, Ramadhan ini seharusnya menjadi momentum kita untuk menerapkan Al Qur’an, kembali membumikan Al Qur’an. Caranya tentu dengan mengamalkan seluruh isi Al Qur’an sekaligus berhukum pada Al Qur’an. Jika Ramadhan saja bisa mulia karena Al Qur’an turun di dalamnya, apalagi manusia. Manusia akan mulia jika semua aktivitas kehidupan mereka diatur dengan hukum-hukum Al Qur’an.

Karena itu berhukum pada Al Qur’an adalah sebuah keniscayaan. Tidak boleh tidak. Umat Islam secara keseluruhan wajib berhukum pada Al Qur’an. Berhukum pada Al Qur’an adalah wujud nyata ketakwaan kepada Allah SWT. Jika puasa Ramadhan benar-benar menghasilkan ketakwaan kepada pelakunya, sejatinya mereka akan berhukum pada Al Qur’an. Ketakwaan—tentu dengan mengamalkan Al Qur’an dan berhukum pada Al Qur’an—pasti akan menghasilkan rahmat dan kerbekahan dari Allah SWT. Allah SWT berfirman:

Andai penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan menurunkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami). Karena itu Kami menyiksa mereka karena apa yang mereka perbuat itu (TQS al-A’raf [7]: 96). []