Ibnu Shayyad Lebih jauh tentang sosok yang di anggap dajjal pada zaman Para sahabat -->

Iklan Semua Halaman

DUNIA ISLAM

Ibnu Shayyad Lebih jauh tentang sosok yang di anggap dajjal pada zaman Para sahabat

Rabu, 08 Januari 2020


Dalam hadis digambarkan bagaimana observasi Nabi SAW atas Ibnu Shayyad itu melibatkan sekelompok sahabat besar, termasuk Abu Bakar, Umar, Ubay bin Kaeb, Abu Dzar dan Jabir sendiri. Sepertinya ada sesuatu yang penting yang menjadi fokus pikiran Nabi juga para sahabat hingga membutuhkan penyelidikan berulang itu. Apa sesuatu yang penting itu? Apakah sesuatu yang penting ini pengalaman magis Ibnu Shayyad? Kekuatan supranatural dan perilaku magis sudah dikenal di kalangan Arab. Nabi bersama sekelompok sahabat berbondong-bondong datang untuk memastikan suatu kenyataan yang, setidaknya, penting bagi mereka dan umatnya.

Perlu kiranya dimulai dari gejala awal yang mendorong mereka melakukan observasi berjamaah, yaitu hal-hal yang melekat pada Ibnu Shayyad seperti keberadaannya sebagai anak laki-laki yang lahir dari wanita Yahudi yang non-Muslim berada dalam lindungan kekuasaan Islam; anak kecil (ghulam) atau remaja yang mendekati usia balig; lahir dalam keadaan buta sebelah matanya (mamsuhah al-ayn) dan bernasib malang (tali’ah al-nab). Ciri-ciri ini juga terkait dengan identitas popular dari Dajjal, sebagaimana terdapat dalam banyak hadis (lih. Shahih Bukhari, no. 2829), dan karena itu dilakukan observasi. Observasi ini bahkan juga berlangsung secara tidak langsung. Dalam riwayat Abu Dzar, ia mengaku diutus oleh Nabi untuk menemui ibu dari Ibnu Shayyad untuk menanyainya tentang beberapa hal seperti: berapa ibunya mengandungnya dan bagaimana tangisan anaknya saat keluar lahir.

Berbeda dengan Ibnu Umar yang lebih banyak meriwayatkan hadis ini secara lebih singkat, Jabir menyatakan pengakuannya justru turut langsung dalam proses observasi bersama Nabi. Dia menyadari bahwa proses itu dalam rangka identifikasi Ibnu Shayyad sebagai Dajjal atau bukan. Dalam kesimpulannya, Ibnu Shayyad adalah Dajjal, “Rasulullah saw senantiasa yakin bahwa dia itu Dajjal.”

Apakah kesimpulan Jabir ini keliru? Apakah penilaian Muhammad Iqbal tentang para ahli hadis (bahwa mereka sama sekali salah paham hingga menafsirkannya menurut cara mereka sendiri yang polos) menyindir kesimpulan ini?

Dalam banyak hadis, Jabir tidak sendirian menyimpulkan demikian. Nama-nama besar lain dari sahabat Nabi tercatat punya keyakinan yang sama; ada Umar bin Khaththab (Shahih Muslim), Abu Dzar (al-Mu’jam al-Awsath), Ibnu Umar (Shahih Muslim, Shahih Ibn Hibban), termasuk pengakuan Ibnu Shayyad atau Ibnu Sha’id bila dirinya dipandang sebagai Dajjal oleh warga Madinah atau kaum Anshar atau umat Islam. Jabir dan Umar sampai-sampai bersumpah, bahkan Abu Dzar siap bersumpah sepuluh kali atas keyakinannya. Semua kesimpulan dan kesaksian di bawah sumpah ini menjadi dasar bagi para imam dan ahli hadis untuk menyimpulkan hal yang sama. Sebagian mereka, termasuk Imam Muslim, mencatat hadis-hadis Ibnu Shayyad atau Ibnu Sa’id dai bawah nama bab Dajjal.

Kiranya, Jabir tidak gegabah terkait masalah penting ini. Ia terlibat langsung dalam observasi karena rasa ingin tahu identitas Ibnu Shayyad. Dalam riwayat Jabir, nama Dajjal sudah muncul di awal, di pertengahan sampai di akhir riwayatnya. Sebelum ia menarik kesimpulan tadi sebagai penutup riwayat, Jabir menceritakan permintaan izin Umar kepada Nabi agar bisa memenggal lehernya saking jengkel terhadap respon lancang Ibnu Shayyad atau, kemungkinan besar, karena kesimpulannya bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal. Namun, Nabi menahannya dan mengatakan, “Jika dia adalah orang yang kamu takuti itu, kamu tidak bisa berbuat apa-apa.” Ini menunjukkan bahwa sahabat sudah punya data sebelumnya tentang seseorang yang menakutkan sehingga ikut observasi untuk memverifikasi kesamaan ciri-cirinya dengan diri Ibnu Shayyad.

Namun, kebanyakan riwayat menyebutkan cara Nabi menahan Umar dengan sabda ini, “Kalau ternyata dia itu adalah dia ini, maka kamu bukan lawannya, karena lawannya adalah Isa putra Maryam. Dan kalau ternyata dia itu bukan dia ini, kamu tidak berhak membunuh seseorang yang berada dalam perlindungan negeri Islam.” Yang dimaksud “dia ini” adalah Ibnu Shayyad sendiri. Lalu, siapa “dia itu”? Nabi sendiri yang mendefinisikannya, yaitu orang yang menjadi lawan Nabi Isa a.s., yang dalam keimanan Islam, akan hadir kembali dan berjuang bersama Imam Mahdi menegakkan keadilan universal sebelum usia dunia berakhir. Lawan Nabi Isa bersama Imam Mahdi adalah Dajjal. Uniknya, baik Isa juga Dajjal disebut sebagai almasih, Isa almasih karena pengelana alam, dan Dajjal almasih karena buta sebelah matanya yang merupakan salah satu ciri Ibnu Shayyad.

Sekali lagi, Nabi tidak pernah menyebut secara definitif Shayyad itu Dajjal. Definisi deskriptif dan indikasi umum seperti di atas juga dikuatkan oleh salah satu riwayat Ibnu Hibban dan Imam Bukhari dalam shahih mereka disebutkan sabda nabi di akhir hadis, “Ibnu Umar berkata, “Lalu Rasulullah SAW berdiri di tengah masyarakat, memuji Allah sebagaimana pujian yang layak untuk-Nya, kemudian menyinggung Dajjal, maka ia berkata, “Aku benar-benar memperingatkan kalian tentangnya. Tidak ada seorang nabi pun kecuali ia memperingatkan umatnya. Nuh sudah memperingatkan umatnya, tetapi aku akan mengatakan tentang dia kepada kalian suatu perkataan yang tidak dikatakan seorang nabi pun kepada umatnya, bahwa kalian akan tahu bahwa dia itu buta sebelah matanya. Sesungguhnya Allah tidak buta sebelah mata.”

Observasi Nabi ini, seperti yang digarisbawahi Muhammad Iqbal, betapa penting dan menentukan. Dari berbagai riwayat dapat disimpulkan bahwa observasi Nabi adalah upaya beliau dan para sahabat memgonfirmasi ciri-ciri Dajjal secara objektif dengan keadaan-keadaan objektif Ibnu Shayyad/Ibnu Sha’id. Argumentasi Ibnu Sha’id untuk meyakinkan Abu Sa’id Al Khudzri bahwa dirinya bukanlah Dajjal justru menguatkan verifikasi objektif Nabi dan para sahabat. Simak riwayat Imam Muslim (hadis no. 5210) berikut:

Abu Sa’id Al Khudri berkata, “Ibnu Sa’id berkata padaku, ‘Aku memaklumi orang-orang. Apa urusan kalian denganku, wahai sahabat-sahabat Muhammad? Bukankah nabi Allah SAW mengatakan bahwa dia (Dajjal) adalah Yahudi, sementara aku telah masuk Islam. Dia (Dajjal) tidak punya anak, sementara aku punya. Allah mengharamkan darinya (Dajjal) Makkah dan Madinah, sementara aku telah berhaji.’ …. Ia berkata, ‘Ingat, demi Allah, sesungguhnya aku tahu dimana sekarang dia (Dajjal) berada, aku mengetahui ayah dan ibunya.'” Abu Sa’id [Al Khudzri] berkata, “Ada yang berkata kepadanya, ‘Apa kamu senang bila kamu adalah orang itu (Dajjal)?’ Ia menjawab, ‘Jika aku ditawari, aku tidak keberatan.'”

Rangkaian dialog Nabi dan Ibnu Shayyad, pidato beliau di tengah masyarakat, kepelibatan para sahabat, dialog mereka sahabat dengannya semasa hidup Nabi dan setelahnya, termasuk argumentasi objektif Ibnu Shayyad di atas tadi, kian menguatkan observasi yang bersifat objektif. Terlepas dari identitas Ibnu Shayyad itu Dajjal atau bukan, masalah Dajjal adalah masalah umat dan dunia yang diajarkan untuk kelak diidentifikasi oleh umat dan dunia secara objektif melalui indikasi-indikasi yang objektif pula.

Maka, tidak seperti pemikir Pakistan ini yang mengidentifikasi objek observasi Nabi pada pengalaman mistis subjektif Ibnu Shayyad, identifikasinya ini tampak semacam reduksi masalah, atau glorifikasi yang terlampau berlebihan menyelidiki penyelidikan Nabi atas anak kecil lancang Ibnu Shayyad/Ibnu Sha’id sebagai pengalaman mistis, apalagi diklaim itu berlangsung pada saat Ibnu Shayyad dalam keadaan ekstatis, satu keadaan tinggi yang subjektif dari pengalaman sufi. Selain keadaan ekstetis ini benar-benar subjektif dan personal yang zalimnya tidak diketahui kecuali oleh orang yang mengalaminya langsung dan oleh mursyidnya sendiri, sejauh penyelidikan hadis ini, tidak dijumpai kata dan frasa yang menyiratkan, apalagi menyuratkan, keadaan ekstatis ini. Redaksi-redaksi hadis ini hanya menggambarkan Nabi menjumpai Ibnu Shayyad dalam keadaan “sedang bermain dengan anak-anak kecil”, “sedang berkomat-kamit”, “sedang tertidur di balik kain tebalnya dengan mendengkur ringan”, dipanggil oleh ibunya “hingga dia terperanjat” dan “keluar dari kain tebalnya”, lalu di tengah observasi dia kembali ke keadaan semula (berbaring). Tentu saja, Ibnu Shayyad bukan mistikus, namun juga sulit dimengeti keadaan-keadaannya ini lantas diangkat sehebat keadaan ekstetis mistis dan batinnya.

Di akhir, semua redaksi riwayat menyatakan kekecewaan Nabi atas keterlibatan ibu dari Ibnu Shayyad memberitahu kehadirannya. Di akhir setiap pertemuan, Nabi mengatakan, “Seandainya ibunya membiarkan, pasti jelaslah persoalannya”. Persoalan apa itu? Persoalan penting hingga mendorong Nabi mengobservasi langsung dan tak langsung, melibatkan para sahabat, secara berulang kali, dengan dialog yang dibuka dengan menanyakan kesaksian atas kenabian Nabi. Kemungkinan besar identifikasi dan kesimpulan Jabir serta para ahli hadis bukan kepolosan dan spontanitas yang gegabah. Sebagaimana nama Dajjal bukan kreasi Jabir, kesimpulan Jabir juga tampak konsisten dan koheren dalam pemaknaan literal, gramatikal dan kontekstual.

Hadis ini ada kaitannya dengan topik akhir zaman di awal zaman Islam. Penting dan menentukan. Gejala akhir zaman sudah ada sejak awal-awal diajarkan tentang Juru Kemuliaan dan Keadilan Universal, juga tentang Juru Kejahatan dan Penindasan, serta tentang pertempuran antara juru-juru. Jika benar keyakinan Jabir dan sahabat lainnya bahwa Nabi yakin Ibnu Shayyad itu Dajjal, maka Dajjal itu sudah lahir dan akan muncul di masa turunnya Nabi Isa. Karena itu, telah lahirnya Imam Mahdi dan berada sekarang hingga kelak muncul bersama turunnya Nabi Isa bukan sesuatu yang mustahil. Dalam teks-teks suci, Allah telah menjanjikan kemenangan dan kekuasaan mutlak Keadilan Universal, sementara Nabi telah mengenalkan nama juru-juru itu; Isa Al-Masih, Al-Mahdi, Al-Dajjal.

Apa pun itu, kiranya tidak perlu ditanggapi sebagai keberatan bila hadis ini dimaknai dalam kerangka pengalaman religius sejauh seseorang di dunia sekarang ini, yang oleh Abid Al Jabiri dipandang kerap sebagai sebagai objek (mawdhu’) hegemoni dan dominasi, hancur rasa meratapi keadaan penindasan dan ketertindasan hingga secara ekstatis menyadari kesadaran fitrahnya dan terbakar dalam nyala api optimisme penantian akan tibanya Hari Keadilan Universal. Dalam pemaknaan ini pula pengalaman-pengalaman seperti ini terakomodasi hingga terakses secara inklusif oleh setiap orang, entah pada tingkat psikis, religius, ataupun mistis.[amf]

Dalam pembicaraan di muka mengenai hal ikhwal Ibnu Shayyad dan pengujian Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya, beliau bersikap tawaqquf (berdiam diri) mengenai masalah Ibnu Shayyad, karena beliau tidak mendapatkan wahyu yang menerangkan apakah Ibnu Shayyad itu Dajjal atau bukan.

Umar Radiyallahu anhu pernah bersumpah di sisi Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, dan beliau tidak mengingkarinya.

Sebagian sahabat juga berpendapat seperti pendapat Umar sebagaimana diriwayatkan dari Jabir, Ibnu Umar, dan Abu Dzar.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Muhammad bin Al-Munkadir [1] dia berkata, “Saya melihat Jabir bin Abdullah bersumpah dengan nama Allah bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal. Saya bertanya (kepadanya), Anda bersumpah dengan nama Allah?” Dia menjawab, “Saya mendengar Umar bersumpah begitu di sisi Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam. tetapi beliau tidak mengingkarinya.” [Shahih Bukhari, Kitab Al-l’tisham bil-Kitab Was sunnah, Bab Ban Ra-aa Tarkan Nakir Min an- Nabiyyi saw Hujjatan Laa min Ghairi Rasul 13: 223; dan. Shahih Muslim, Kitabul Fitan wa Asyrothis Sa’ah. Bab Dzikri Ibni Shayyad 18: 52-53]

Dari Zaid bin Wahab [2] ia berkata, “Abu Dzar berkata, “Sungguh, jika saya bersumpah sepuluh kali bahwa Ibnu Shaid adalah Dajjal lebih saya sukai daripada bersumpah satu kali bahwa dia bukan Dajjal.” [Hadits Riwayat Imam Ahmad]

Dari Nafi, ia berkata, “Ibnu Umar pernah berkata, “Demi Allah, saya tidak ragu-ragu bahwa Al-Masih Ad-Dajjal adalah Ibnu Shayyad.” [Sunan Abi Daud, Ibnu Hajar berkata, “Sanadnya shahih.” Fathul-Bari 13: 325]

Dan diriwayatkan dari Nafi pula, ia berkata, “Ibnu Umar pernah bertemu Ibnu Shaaid di suatu jalan kota Madinah, lalu ia mengucapkan kata-kata yang menjadikannya marah dan.naik pitam hingga membuat ribut di jalan. Lantas Ibnu Umar datang kepada Kafshah sedang berita itu telah sampai pula kepadanya, kemudian Hafshah berkata kepadanya, “Mudah-mudahan Allah memberi rahmat kepadamu. Apakah yang engkau harapkan dari Ibnu Shaaid? Tidakkah engkau tahu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Sesungguhnya dia keluar dari kemarahan yang dibencinya.” [Shahih Muslim 18:57]

Dan dalam satu riwayat lagi dari Nafi’, ia berkata, “Ibnu Umar berkata, “Saya pernah bertemu Ibnu Shaaid (Ibnu Shayyad) dua kali. Setelah saya bertemu yang pertama kali, saya bertanya kepada beberapa orang, “Apakah Anda mengatakan bahwa dia itu Dajjal?” Jawabnya, “Tidak, demi Allah.” Semua berkata, “Anda berdusta. Demi Allah, sebagian Anda telah memberitahukan kepadaku bahwa dia tidak akan mati sehingga menjadi orang yang paling banyak harta dan anaknya. 

Dan demikianlah anggapan mereka hingga hari ini. Lantas kami berbincang-bincang, kemudian kami berpisah. Kemudian bertemu lagi sedangkan sebelah matanya telah buta, lalu saya bertanya, “Sejak kapan mata Anda demikian?” Dia menjawab, “Tidak tahu.” Saya bertanya, “Apakah Anda tidak tahu padahal mata itu ada di kapala Anda sendiri?” Dia berkata, “Jika Allah menghendaki, Dia menciptakan yang demikian ini pada tongkatmu.” Lalu dia mendengus seperti dengus himar. Kemudian sebagian sahabat saya menganggap bahwa saya telah memukulnya dengan tongkat saya sehingga matanya cidera, padahal demi Allah saya tidak merasa (berbuat) sama sekali.”

Setelah itu Ibnu Umar datang kepada Ummul Mukminin dan bercakap-cakap dengannya, lalu Ummul Mukminin berkata, ” Apa yang engkau inginkan darinya? Tidakkah engkau tahu bahwa ia pernah berkata, “Sesungguhnya pertama kali yang mengutusnya (membangkitkannya) kepada manusia ialah kemarahan.” [Al-Kahfi. 57-58]

Ibnu Shayyad mendengar apa yang diperbincangkan orang mengenai dirinya dan dia sangat terganggu karenanya, oleh sebab itu dia membela diri bahwa dia bukan Dajjal dengan argumentasi bahwa identitas Dajjal seperti yang dikemukakan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam itu tidak cocok diterapkan pada dirinya.

Dalam sebuah riwayat dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, ia bercerita, katanya. “Kami pernah melakukan haji atau umrah bersama Ibnu Shayyad (Ibnu Shaaid), lalu kami berhenti di suatu tempat dan orang-orang pun berpencar hingga tinggal saya dan Ibnu Shaaid. Saya merasa sangat ketakutan kepadanya, mengingat apa yang dikatakan orang tentang dia. Dia membawa perbekalannya dan meletakkannya bersama perbekalanku. 

Lalu saya berkata. “Sesungguhnya hari sangat panas. sebaiknya engkau letakkan di bawah pohon itu.” Lalu ia melaksanakannya. Lantas kami dibawakan kambing. lalu ia mengambil mangkok besar seraya berkata, “Minumlah, wahai Abu Sa’id'” Saya jawab, “Sesungguhnya hari amat panas, dan susu itu juga panas.” Saya berkata demikian itu hanya karena saya tidak suka minum sesuatu dari tangannya atau mengambil sesuatu dari tangannya. Ia berkata, “Wahai Abu Sa’id, ingin rasanya aku mengambil tali lantas kugantungkan pada pohon, lalu kucekik leherku karena kekesalan hatiku terhadap apa yang dikatakan orang banyak mengenai diriku. 

Wahai Abu Sa’id, kalau orang-orang kesamaran terhadap hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam maka tidaklah ada kesamaran atas kalian kaum Anshar. Bukankah engkau termasuk orang yang paling tahu tentang hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam ? Bukankah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda bahwa Dajjal itu mandul, tidak punya anak, sedangkan saya punya anak yang saya tinggalkan di Madinah? Bukankah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda bahwa Dajjal itu tidak bisa memasuki kota Madinah dan Makkah, sedang saya datang dari Madinah dan hendak menuju ke Makkah?”

Kata Abu Sa’id, “Begitulah, hingga aku hampir menerima alasannya.” Kemudian Ibnu Shaaid, “Ingatlah, demi Allah, Sesungguhnya saya mengenalnya dan mengetahui tempat kelahirannya serta mengetahui di mana ia sekarang berada.” Abu Sa’id berkata: Saya berkata kepadanya, “Celakalah engkau pada hari-harimu.” [Shahih Muslim 18:51-52]

Dan dalam suatu riwayat Ibnu Shayyad berkata, “Ingatlah, demi Allah, sesungguhnya saya mengetahui di mana sekarang dia (Dajjal) berada, dan saya juga mengetahui tempat kelahirannya serta mengetahui di mana ia sekarang berada.” Abu kau senang jika laki-laki itu adalah engkau?” Dia menjawab, “Kalau disindirkan kepadaku, maka aku tidak benci.” [Shahih Muslim 18: 51]

Dan masih ada beberapa riwayat lagi tentang Ibnu Shayyad yang sengaja tidak saya sebutkan karena takut terkesan terlalu panjang, dan lagi karena beberapa orang muhaqqiq seperti Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, dan lain-lainnya menolaknya karena kelemahan sanadnya. [Periksa: An-Nihayah (Al-Fitan wal Malahim) karya Ibnu Katsir dengan tahqiq DR. Thaha Zaini; dan Fathul-Bari karya Ibnu Hajar 13; 326]

Timbul kemusykilan di kalangan para ulama mengenai masalah Ibnu Shayyad ini, sebagian mereka mengatakan bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal dan mereka beralasan dengan sumpah beberapa orang sahabat bahwa dia adalah Dajjal beserta kondisinya sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Abu Sa’id ketika sedang bersamanya. Dan sebagian lagi berpendapat bahwa dia bukan Dajjal dengan mengemukakan alasan hadits Tamim Ad-Dari.

Dan sebelum saya kemukakan perkataan kedua belah pihak secara lengkap, baiklah saya bawakan hadits Tamim seutuhnya:

Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Amir bin Syurahil Asy-Sya’bi suku Hamdan, bahwa ia pernah bertanya kepada Fatimah binti Qais, saudara wanita Adh-Dhahhak bin Qais, salah seorang muhajirah (peserta hijrah wanita) angkatan pertama. Amir berkata kepada Fatimah, “Sampaikanlah kepadaku sebuah hadits yang engkau dengar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam secara langsung tanpa melalui orang lain.” Fatimah menjawab, “Jika engkau menginginkan akan saya lakukan.” Amir berkata, “Benar, ceritakanlah kepadaku.” Fatimah berkata, “Dahulu saya kawin dengan Ibnul Mughiroh, salah seorang pemuda Quraisy yang baik pada waktu itu, lalu ia gugur dalam jihad pertama bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika saya menjanda, saya dilamar oleh Abdur Rahman bin Auf, salah seorang kelompok sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam meminangku untuk mantan budaknya yang benama Usamah bin Zaid, sedang saya pernah mendapat berita bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Barangsiapa yang mencintai aku hendaklah ia mencintai Usamah.”

Maka ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan pinangannya kepada saya, saya berkata, “Urusanku berada di tanganmu, karena itu nikahkanlah saya dengan siapa saja yang engkau kehendaki.” Lalu beliau bersabda, “Pindahlah ke rumah Ummu Syarik.” Dan Ummu Syarik ini adalah seorang wanita yang kaya dari kalangan Anshar yang suka melakukan infaq di jalan Allah dan biasa dikunjungi tamu-tamu. Lalu saya berkata, “Akan saya laksanakan.” Kemudian beliau bersabda, “Jangan lakukan, sesungguhnya Ummu Syarik itu seorang wanita yang sering didatangi tamu-tamu, dan aku tidak suka kerudung (jilbab)mu terlepas atau pakaianmu terbuka dan tampak betismu, lalu dilihat oleh kaum itu apa yang tidak engkau sukai.

Tetapi berpindahlah ke rumah putra pamanmu yaitu Abdullah bin Amr Ibnu Ummi Maktum” (seorang lelaki dari Bani Fihr, yaitu Fihr Quraisy, yang dari kalangan merekalah Abdullah dan Fatimah ini dilahirkan). Lalu saya -kata Fatimah melanjutkan- pindah ke sana. Ketika masa ‘iddah ku telah habis, saya mendengar tukang seru Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerukan Ash-Sholaatu Jaami ‘ah (Shalatlah dengan berjama’ah). Lalu saya pergi ke masjid dan shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan saya berada di shaf wanita yang ada di belakang shaf laki-laki.

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam usai melakukan shalat, beliau duduk di atas mimbar sambil tersenyum seraya berkata, “Hendaklah tiap-tiap orang tetap berada di tempat shalatnya.” Kemudian beliau melanjutkan, “Tahukah kamu, mengapa saya kumpulkan kamu?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengerti.” Beliau bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku tidak mengumpulkan kalian karena senang atau benci. Aku kumpulkan kalian karena Tamim Ad-Dari, seorang pengikut Nasrani, telah berbai’at masuk Islam dan dia bercerita kepadaku tentang suatu masalah yang sesuai dengan apa yang pernah aku sampaikan kepada kalian mengenai Masih Ad-Dajjal.

la bercerita bahwa ia pernah naik perahu bersama tiga puluh orang yang terdiri atas orang-orang yang berpenyakit kulit dan lepra. Lalu mereka dihempas ombak selama sebulan di laut, kemudian mereka mencari perlindungan ke sebuah pulau di tengah lautan hingga sampai di daerah terbenamnya matahari. Lantas mereka menggunakan sampan kecil dan memasuki pulau tersebut. Di sana mereka berjumpa seekor binatang yang bulunya sangat lebat hingga tak kelihatan mana qubulnya dan mana duburnya, karena lebat bulunya. Mereka berkata kepada binatang itu, “Busyet kamu! Siapakah kamu?” Binatang itu menjawab, “Aku adalah Al-Jassasah.” Mereka bertanya, “Apakah Al-Jassasah itu?” Dia menjawab. “Wahai kaum, pergilah kepada orang yang berada di dalam biara ini, karena ia sangat merindukan berita kalian.” Kata Tamim. “Ketika binatang itu menyebut seseorang, kami menjauhinya, karena kami takut binatang itu adalah syetan.

Lalu kami berangkat cepat-cepat hingga kami memasuki biara tersebut, tiba-tiba di sana ada seorang laki-laki yang sangat besar tubuhnya dan tegap, kedua tangannya dibelenggu ke kuduknya, antara kedua lututnya dan mata kakinya dirantai dengan besi. Kami bertanya, “Siapakah engkau ini?” Dia menjawab, “Kalian telah dapat menguak beritaku, karena itu beritahukanlah kepadaku siapakah sebenarnya kalian ini?” Mereka menjawab. Kami adalah orang-orang dari Arab. Kami naik perahu dan kami terkatung-katung di laut dipermainkan ombak selama satu bulan, kemudian kami mencari tempat berlindung ke pulaumu ini dengan menaiki sampan kecil yang ada di sini lantas kami masuk pulau ini, dan kami bertemu seekor binatang yang bulunya sangat lebat hingga tidak kelihatan mana qabulnya dan mana duburnya karena lebat bulunya.

Lalu kami bertanya, “Busyet kamu, siapakah kamu?” Dia menjawab, “Aku adalah Al-Jassasah.” Kami bertanya, “Apakah Al-Jassasah itu?” Dia menjawab, “Pergilah kepada lelaki ini di dalam biara, karena dia sangat merindukan berita kalian.” Lalu kami bergegas menemui dan meninggalkan dia, dan kami merasa tidak aman jangan- jangan dia itu syetan.” Dia (lelaki itu) berkata, “Tolong kabarkan kepada kami tentang desa Nakhl Baisan.” Kami bertanya, “Tentang apanya?” Dia berkata, “Tentang kurmanya, apakah berbuah?” Kami menjawab, “Ya.” Dia berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya pohon-pohon kurmanya itu akan tidak berbuah lagi.” Dan dia bertanya lagi, “Tolong beritahukan kepadaku tentang danau Ath-Thabariyah.” Kami bertanya, “Tentang apanya?” Dia bertanya, “Apakah ada airnya?” Kami menjawab, “Airnya banyak sekali.” Dia berkata, “Ketahuilah sesungguhnya airnya akan habis.” Selanjutnya dia berkata lagi, “Kabarkan kepadaku tentang negeri ‘Ain Zughor.” Kami bertanya, “Tentang apanya?” Dia menjawab, “Apakah sumbernya masih mengeluarkan air yang dapat digunakan penduduknya untuk menyiram tanamannya?” Kami menjawab, “Airnya banyak sekali, dan penduduknya menggunakannya untuk menyiram tanaman mereka.” 

Dia berkata lagi, “Tolong beritahukan kepadaku tentang Nabi orang ummi, apakah yang dilakukannya?” Kami menjawab, “Beliau telah berhijrah meninggalkan Makkah ke Yatsrib.” Dia bertanya, ” Apakah orang-orang Arab memeranginya?” Kami menjawab, “Ya.” Dia bertanya lagi, “Apakah yang dilakukannya terhadap mereka?” Lalu kami beritahukan bahwa beliau menolong orang-orang Arab yang mengikuti beliau dan mereka mematuhi beliau.” Dia bertanya, ” Apakah benar demikian?” Kami menjawab, “Benar.” Dia berkata, “Ketahuilah bahwasanya Iebih baik bagi mereka untuk mematuhinya. 

Dan perlu saya beritahukan kepada kalian bahwa saya adalah Al-Masih (Ad- Dajjal), dan saya akan diizinkan keluar. yang nantinya saya akan berkelana di muka bumi, maka tidak ada satu pun desa melainkan saya singgahi selama empat puluh malam kecuali Makkah dan Thaibah (Madinah), karena kedua kota ini diharamkan atas saya. Setiap saya hendak memasuki salah satunya, saya dihadang oleh seorang malaikat yang menghunus pedang, dan pada tiap-tiap lorongnya ada malaikat yang menjaganya.”

Fatimah berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda sembari mencocokkan (menusukkan) tongkat kecilnya di mimbar, ” inilah Thaibah. inilah Thaibah, inilah Thaibah,” yakni Madinah. “Ingatlah. Bukankah aku telah memberi tahukan kepadamu mengenai hal itu?” Orang-orang menjawab “ya” selanjutnya beliau bersabda, ,”Saya heran terhadap cerita Tamim yang sesuai dengan apa yang telah saya ceritakan kepada kalian, juga tentang kota Madinah dan Makkah. Ketahuilah bahwa dia berada di laut Syam atau laut Yaman. Oh tidak, tetapi dia akan datang dari arah timur… dari arah timur… dari arah timur…” dan beliau berisyarat dengan tangan beliau menunjuk ke arah timur. Fatimah berkata. “Maka saya hafal ini dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [Shahih Muslim 18: 78- 83]

Ibnu Hajar berkata, “Sebagian ulama beranggapan bahwa hadits Fatimah binti Qais ini sebagai hadits gharib yang hanya diriwayatkan oleh perseorangan, padahal sebenarnya tidak demikian. Hadits ini di samping diriwayatkan dari Fatimah binti Qais juga diriwayatkan dari Abu Hurairah, Aisyah. Dan Jabir radhiyallahu ‘anhum.” [Fathul-Bari 13: 328]

[Disalin dari kitab Asyratus Sa’ah edisi Indonesia Tanda-Tanda Hari Kiamat, Penulis Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabl MA, Penerjemah Drs As’ad Yasin, Penerbit CV Pustaka Mantiq]
_________
Foote Note
[1]. Dia adalah Abu Abdillah Muhammad bin Al-Munkadir bin Abdullah bin Hudair bin Abdul Uzza At-Taimin, seorang tabi’i dan salah seorang Imam yang alim, meriwayatkan hadits dari para sahabat, wafat pada thun 131H [Tahdzibut Tahdzib 9 : 473-475]
[2]. Daia adalah Abu Sulaiman Zaid bin Wahab Al-Juhami Al-Kufi, meriwayatkan hadits dari banyak sahabat seperti Umar, Utsman, Ali, Abu Dzar dan lain-lainnya. Dia seorang terpercaya yang banyak meriwayatkan hadits, wafat tahun 96H [Tahdzibut Tahdzib 3 : 427]