Sejarah panjang Ummu Habibah , Istri Nabi yang ditinggal Murtad Suami pertamanyanya

Iklan Semua Halaman

DUNIA ISLAM

Sejarah panjang Ummu Habibah , Istri Nabi yang ditinggal Murtad Suami pertamanyanya

Kamis, 28 November 2019



Sejarah Hidup Ummu Habibah


Ummu Habibah adalah salah satu istri Nabi Muhammad (SAW), beliau adalah putri dari Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah bin Abd As-Syams bin bin Abd Manaf.


Beliau terkenal dengan nama ‘Ramlah’ dan disebagian riwayat beliau bernama ‘Hind’. Beliau dilahirkan di Makkah 17 tahun sebelum masa Kenabian. Ibunya adalah Safiyyah binti Abi al-Ash bin Abd as-Syams bin Abd Manaf yang mana ibunya adalah bibi dari pihak ayah Usman bin Affan. Beliau menikah dengan Ubaidillah bin Jahsy al-Asadi yang mana Ubaidillah adalah saudara dari Zaenab binti Jahsy yang juga salah satu dari isteri-isteri Nabi (SAW). Setelah masa Kenabian beliau dan Ubaidillah termasuk dari orang-orang yang memeluk Islam pertama kali.

Ummu Habibah mengutamakan Allah dan Rasul-Nya dalam segala masalah, bagi beliau kembali ke kekafiran layaknya kembali kepada api yang membara, oleh karena itu beliau sangat kuat memegang agama Islam yang didasari atas kesadaran dan akal sehat.

Abu Sufyan tidaklah pernah berpikir jika seseorang di antara Qurasih ada yang berani menentang dia apalagi mengabaikan perintahnya di masalah penting dan mendasar. Pada waktu itu, Abu Sufyan adalah seorang pemimpin besar di Makkah yang semua orang mengikuti dan mematuhi perintahnya. Akan tetapi, putrinya sendiri Ummu Habibah justru berani menolak keyakinan ayahnya dan menentang perintahnya setelah memeluk agama Rasulullah (SAW).

Beberapa orang berpikir setelah Ubaidillah bin Jahsy memeluk Islam, beliau hanyalah mengikuti suaminya saja, tapi kenyataannya tidaklah demikian, karena beliau justru memeluk Islam dengan kesadaran dan akal sehat. Sebagai buktinya adalah beliau justru memeluk Islam disaat Islam berada di bawah tekanan dan permusuhan oleh Abu Sufyan dan Bani Umayyah.

Beliau dan Ubaidillah bin Jahsy percaya kepada Allah bersama-sama dan bersaksi atas kenabian Nabi (SAW).

Abu Sufyan menggunakan semua kekuasaannya untuk membujuk putrinya agar kembali ke agama nenek moyang mereka, tetapi dia selalu gagal dengan cara ini. Karena iman beliau adalah iman yang nyata dan kuat di lubuk hati beliau yang terdalam. Hal ini membuat kepribadian Ummu Habibah kuat bahkah lebih dapat menangkis dan menolak segala ancaman dan bujukan dari ayahnya untuk kembali ke agama nenek moyang mereka.

Masuknya putri Abu Sufyan ke agama Islam ini membuat ayahnya marah karena putrinya tidak mematuhi perintahnya dan dia juga tidak mampu mencegah putrinya untuk mengikuti agama Muhammad (SAW), dan lebih dari itu hal ini membuat Ayahnya kehilangan harga dirinya di depan suku Quraish sebagai pemimpin mereka.

Ketika suku Qurasih menyadari bahwa Abu Sufyan tidak rela dan marah terhadap putrinya Ramlah dan suaminya, mereka berusaha untuk bersikap kasar dengan mulai mengganggu dan menyiksa mereka secara fisik dan mental yang membuat Ramlah dan Suaminya tidak betah hidup lama di Mekkah.

Ketika Nabi Muhammad (SAW) memerintahkan umat Muslim untuk berhijrah ke Abyssinia, Ramlah, suaminya dan anak kecilnya Habibah termasuk dari orang-orang pertama yang berhijrah ke Abyssinia untuk menggapai ridha Allah dan untuk melindungi iman dan agama mereka, merekapun berhijrah di bawah dukungan dan perlindungan dari Najasyi.

Abu Sufyan dan kepala suku lainnya di Mekkah tidak berhenti mengganggu kaum muslimin sehingga membuat mereka tidak betah di Mekkah yang akhirnya terpaksa berhijrah dan tinggal di Abyssinia dalam damai dan ketenangan.

Kaum musyrikin Mekkah mengirim agen mereka kepada Najasyi untuk menghasutnya agar melawan Muslim dan meminta kepadanya agar mengembalikan umat muslim kepada mereka. Mereka juga menyebarkan fitnah bahwa umat muslim memiliki pandangan dan keyakinan yang tidak baik tentang Yesus dan ibunya Maryam, hal ini dilakukan agar Najasyi marah karena dia adalah seorang penganut Kristen.

Setelah pertemuan antara Najasyi dan agen dari Mekkah, maka Najasyi mengundang pemimpin dari kaum Muhajir untuk hadir di pertemuan khusus dan meminta mereka untuk mengungkapkan realitas agama mereka dan keyakinan mereka tentang Yesus dan ibunya Maryam.

Najasyi meminta mereka untuk membacakan beberapa ayat Al-Qur’an yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad (SAW).

Dengan bacaan beberapa ayat Al-Qur’an, maka Najasyi merasakan kebenaran agama Islam di hatinya. Bahkan dia sampai menangis hingga jenggotnya basah dan mengatakan bahwa apapun yang telah diwahyukan kepada Nabi (SAW) adalah adalah sama halnya dengan apa yang Yesus ajarkan.

Kemudian ia menyatakan bahwa ia telah dipercaya dengan Kenabian Nabi Muhammad (SAW).

Tapi, hal yang perlu dicatat bahwa komandan Najasyi tidak memeluk Islam dan ia tetap pada keyakinannya untuk tetap memeluk agama Kristen.

Terlepas dari itu Najasyi menyerukan dukunganya terhadap kaum muslim yang berhijrah ke tampatnya dan menolak permintaan kaum musyrikin Mekkah.

Oleh karena itu, Ummu Habibah berpikir bahwa masa ketidaknyamanan telah selesai dan sekarang beliau bisa hidup dengan tenang.

Tapi, lebih dari itu beliau tidak tahu bahwa takdir telah menentukan pilihan lain baginya.

Hikmah Allah menempatkan beliau dalam ujian yang sangat sulit yang banyak pria pandai dan cerdas pun mungkin tidak bisa lulus ujian ini, tapi Ummu Habibah mampu lulus dalam ujian ini.

Pada suatu malam Ummu Habibah bermimpi buruk bahwa suaminya Ubaidillah berada di lautan yang penuh badai dan kegelapan mengelilingi dia.

Ummu Habibah terbangun dengan rasa takut dan cemas dan dia tidak ingin mengatakan kepada siapapun tentang mimpi ini.

Kemudian ternyata mimpi beliau ini menjadi kenyataan, karena beliau menyaksikan bahwa suaminya Ubaidillah menjadi murtad dan berpindah agamanya dari Islam ke Kristen.

Kemudian suaminya menghabiskan waktunya dengan minum anggur (minuman keras) siang dan malam.

Ubaidillah memberi Ummu Habibah dua pilihan, yaitu perceraian atau dia harus keluar dari Islam dan memeluk Kristen.

Oleh karena itu Ummu Habibah kebingungan diantara tiga hal :

Pertama, beliau harus menerima permintaan suaminya untuk memeluk Kristen dan menjadi murtad yang berimplikasi kepada kehancuran hidupnya dunia dan akhirat, oleh karena itu beliau tidak akan pernah menerima hal ini.

Kedua, beliau harus kembali ke rumah ayahnya di Mekkah yang memaksa beliau hidup dalam situasi yang sangat sulit dibawah atmosfer kediktatoran.

Ketiga dia harus tinggal di Abyssinia tanpa seorang pelindungpun dan hidup dalam kesulitan.

Diantara pilihan ini maka Ummu Habibah memutuskan untuk tinggal di Abyssinia dan menunggu pertolongan Tuhan.

Selang beberapa waktu kemudian, takdir yang baik terjadi untuknya.

Pernikahan dengan Nabi Muhammad (SAW)

Setelah masa perceraian Ummu Habibah selesai, keberuntungan dan kesejahteraan datang padanya.

Di suatu pagi hari Budak dari Najasyi, Abrahah berkunjung ke rumah beliau dan menyapanya dengan sangat sopan dan berkata : Raja Najasyi mengirimkan kabar terbaik untuk Anda dan mengatakan bahwa Nabi Muhammad (SAW) ingin menikahi Anda.

Ketika Ummu Habibah mendengar pesan ini beliau menjadi sangat bahagia dan menangis secara tidak sadar karena Allah telah memberikan pesan kesejahteraan.

Lalu beliau mulai mengambil semua perhiasannya, dari anting-anting hingga cincin dan memberikan semuanya kepadas Abrahah sebagai hadiah. Bahkan jika masih ada harta yang beliau punya di dunia ini pun, maka beliau akan berikan kepada Abrahah saking senangnya.

Lalu ia menyuruh Abrahah untuk memilihkan Khalid bin Said bin Ash, sebagai wali pernikahannya karena dia lebih dekat daripada orang lain denganya.



Kerajaan Najasyi terletak di sebuah bukit yang mana terdapat pohon-pohon yang indah, kerajaan Najasyipun dihiasi dengan karpet berharga dan dihadiri oleh orang-orang penting seperti dari para sahabat nabi Jafar bin Abi Tholib, Khalid bin Sain bin Ash dan Abdullah bin Hudzafah dan warga penduduk Abyssinia.

Ketika mereka semua berkumpul maka Najasyi memberikan sambutan:

“Saya bersaksi tiada Tuhan Selain Allah, Rasulullah (SAW) telah menuliskan surat kepada saya agar saya menikahkan Ummu Habibah kepada beliau (SAW), dan sudah diterima oleh Ummu Habibah dengan mas kawin 400 dinar.” Kemudian Khalid bin Said menyambut : “Saya sebagai wakil dari Ummu Habibah telah menyetujuinya dan menerima mas kawin 400 dinar.” Ketika acara ini selesai dan para hadirin ingin keluar maka Najasyi mengatakan : “Duduklah, sesungguhnya walimatul’ursy adalah sunnah para nabi di saat upacara pernikahan.” Kemudian Najasyi menyuruh pelayannya untuk mengeluarkan makanan-makanan dan kemudian para hadirin menikmatinya.

Setelah mereka selesai makan, baru kemudian mereka pergi.

Ummu Habibah mengatakan ketika beliau menerima mas kawin, beliau mengirim 250 gram emas untuk Abrahah yang telah menyampaikan kepadanya kabar baik ini.

Setelah itu Abrahah datang kepadanya dan memberikan kembali apa pun yang beliau berikan kepadanya dan mengatakan kepada Najasyi yang telah meminta Abrahah agar dia tidak menerima apa pun dari Ummu Habibah, kemudian Najasyi memerintahkan istri-istrinya untuk mengirimkan parfum yang baik di hari besoknya kepada Ummu Habibah.

Kunjugan Yang Penuh Berkah

Kafilah Ummu Habibah pindah ke Madinah dengan kapal dan hadiah yang telah disiapkan Najasyi untuknya.

Setelah mendekati Madinah mereka baru menyadari bahwa nabi (SAW) sedang pergi keluar dari Madinah untuk menaklukkan Khaibar.

Ketika Nabi (SAW) pulang dengan kemenangan, beliau berkata:

Saya tidak tahu.

Apakah Saya harus senang atas kemenangan ini ataukah atas kedatangan Ja’far?

Kemudian Ummu Habibah pergi ke Nabi Muhammad (SAW) dan beliau berbicara tentang upacara pernikahannya dan beliau telah memberi Abrahah pesan untuk nabi (SAW).

Dan nabi (SAW) pun menjadi sangat senang mendengar berita ini.

Ummu Habibah dan Safiyyah pergi ke rumah nabi bersama dengan Utsman bin Affan untuk menetapkan perayaan besar bagi sepupunya Ummu Habibah.


Ketika Abu Sufyan mendengar berita ini maka dia sangat marah dan berkata:
Orang ini (Nabi Muhammad SAW) adalah orang yang susah untuk dikalahkan.

Akhlaq Mulia Ummu Habibah

Disebutkan dalam sejarah bahwa sebelum Mekah ditaklukkan, Abu Sufyan berkunjung ke Madinah untuk memperbaharui Perjanjian Hudaibiyah.

Dia pergi ke rumah Ummu Habibah dan ingin duduk di karpet nabi (SAW) tapi putrinya tidak membiarkan dia untuk duduk di karpet itu.

Abu Sufyan bertanya: Putriku, saya ini tidak pantas untuk duduk di karpet ini atau karpet ini tidak pantas untuk saya duduki?

Ummu Habibah menjawab: ini adalah karpet nabi (SAW) dan Anda masih musyrik, oleh karena itu tidak boleh bagi anda untuk duduk di atasnya.

Abu Sufyan mengatakan: Putriku tercinta aneh, Anda sudah terkontaminasi pikiran aneh karena saya sudah lama tidak melihat Anda.

Ummul Mukminin, Ummu Habibah adalah salah satu wanita yang sangat menjaga dan taat dengan hukum syariat, beliau banyak berdoa dan menekankan pada masalah-masalah agama.

Beliau dikenal karena pikirannya yang cermelang dan beliau memiliki hubungan yang sangat baik dengan Aisyah karena Aisyah memiliki peran yang sangat penting dalam pernikahannya.

Ummu Habibah ingin menyenangkan istri-istri Nabi (SAW) yang lain seperti Aisyah dan Ummu Salamah, karena alasan ini beliau mengatakan kepada Aisyah atas apa yang terjadi diantara Aisyah dan Ummu Habibah bisa juga terjadi diantara istri-istri Nabi (SAW) yang lain, oleh karena itu beliau meminta maaf kepadas Aisyah.

Aisyah pun mengatakan: Aku memaafkanmu dan saya meminta Tuhan untuk membuat Anda bahagia karena Anda telah membuat saya bahagia.

Ummu Salamah mengatakan hal yang sama juga kepada Ummu Habibah.

Ketika umat Islam dan suku Quraish menetapkan perjanjian Perdamaian Hudaibiyah, Abu Sufyan tidak sedang berada di Mekah dan wakilnya yang merupakan salah satu dari kepala Quraish lah yang menandatangani perjanjian ini.

Bani Khazaeh adalah sekutu Muslim dalam isi perjanjian Hudaibiyah, dan seharusnya suku Quraish tidak boleh memprotes keberadaan suku ini, akan tetapi beberapa orang bodoh dan konyol justru menyerang suku Bani Khazaeh ini.

Suku Quraish mengerti bahwa mereka membuat kesalahan dan menyadari jika umat Islam menyerang mereka, maka mereka akan kehilangan pertempuran.

Karena alasan ini mereka mengirim Abu Sufyan kepada Nabi Muhammad (SAW) dengan tujuan untuk bernegosiasi dengan beliau untuk memperpanjang perjanjian damai selama lebih dari 10 tahun.

Sementara Abu Sufyan berpikir tentang antara perdamaian dan perang, maka dia tetap pergi ke Madinah.

Di jalan dia berpikir bagaimana muslim bisa menang dan mencari alasan kenapa suku Quraish menjadi lemah.

Dia juga berpikir bahwa ketika ia tiba di Madinah di mana ia bisa tinggal?

Dia mengatakan kepada dirinya sendiri: Ramlah lebih dekat daripada saya walaupun dia adalah menjadi istri nabi (SAW) tapi dia adalah putri saya dan saya ayahnya karena alasan ini dia akan membantu saya.

Akhirnya, Abu Sufyan tiba di Madinah. Pada awalnya dia pergi masjid di Madinah untuk mengunjungi nabi (SAW), sesampainya dia disana ia melihat Nabi (SAW) sedang duduk dengan para sahabatnya, ia berbicara kepada nabi tentang masalahnya dan meminta nabi (SAW) untuk memenuhi permintaanya agar nabi (SAW) bersedia memperpanjang jangka waktu perjanjian Perdamaian Hudaibiyah lebih dari 10 tahun, akan tetapi nabi (SAW) tidak menerima dan menolak permintaannya.

Permintaan Ummahatul Mukminin terhadap Nabi (SAW)

Setelah beberapa permintaan dari istri-istri nabi untuk meningkatkan tunjangan mereka dan mengembangkan kehidupan mereka.

Dikatakan bahwa Ummu Habibah meminta nabi (SAW) baju Soholi (Soholi: tempat atau suku di Yaman).

Kemudian, Nabi (SAW) meninggalkan istri mereka selama kurang lebih satu bulan sampai Surah Al-Ahzab ayat 28-29 turun yang menceritakan tentang istri-istri Nabi (SAW), ayat tersebut adalah :


يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ قُل لِّأَزۡوَٰجِكَ إِن كُنتُنَّ تُرِدۡنَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيۡنَ أُمَتِّعۡكُنَّ وَأُسَرِّحۡكُنَّ سَرَاحٗا جَمِيلٗا . وَإِن كُنتُنَّ تُرِدۡنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَٱلدَّارَ ٱلۡأٓخِرَةَ فَإِنَّ ٱللَّهَ أَعَدَّ لِلۡمُحۡسِنَٰتِ مِنكُنَّ أَجۡرًا عَظِيمٗا


Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: "Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut´ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar”


Setelah turunnya ayat-ayat ini istri nabi lebih suka tinggal dengan nabi.
Kemudian Nabi (SAW) memutuskan untuk berbagi waktu dan tunjangan mereka.

Ummu Habibah setelah wafatnya Nabi (SAW)

Kejadian penting pada kehidupan Ummu Habibah setelah Nabi (SAW) wafat, berhubungan dengan pemblokadean dan tentang teror terhadap khalifah ketiga, Utsman bin Afan. Yang mana pada waktu itu Utsman bin Affan terlibat dalam protes pemblokadean dengan mengirim seseorang ke Ali bin Abi Tholib dan Ummu Habibah dan juga kepada istri nabi lain untuk meminta mereka membantu menyelesaikan pemblokadean makanan dan minuman.

Ali bin Abi Tholib pun pergi untuk membantu, tetapi beliau tidak berhasil.

Kemudian Ummu Habibah naik unta dan pergi menuju rumah Utsman dan mengatakan kepada demonstran bahwa beliau ingin mengambil kembali devisa Bani Umayyah yang ada di tangan Utsman, karena alasan ini bahwa itu adalah harta benda anak yatim dan janda.

Beliau mencoba untuk memasuki rumah Utsman dan memberinya makanan dan minuman, tetapi para demonstran melawan beliau dengan memotong tali pengikat untanya.

Beliau hampir jatuh dari unta tetapi orang-orang menahannya dan membawanya ke rumah.

Setelah kematian Utsman beliau mengirim kemeja berdarah Utsman melalui Naman bin Bashir ke kakaknya Muawiyah, tapi Muawiyah justru menggunakan kemeja berdarah itu untuk menghasut orang terhadap Ali bin Abi Tolib.

Wafatnya Ummu Habibah

Menurut sejarah yang ada beliau telah melakukan perjalanan ke Damaskus dan beberapa perawi percaya bahwa beliau meninggal di sana, karena di pemakaman Bab Al-saghir ada kuburan yang terkait dengannya, tetapi beberapa perawi percaya bahwa beliau meninggal dalam usia 74 tahun di tahun 44 (setelah Hijrah) di Madinah.

Marwan Hakam mengatakan bahwa jenazah beliau dimakamkan di pemakaman Baqi’.

Ummu Habibah dan Periwayatan Hadist
Ummu Habibah telah meriwayatkan beberapa hadist dari Nabi Muhammad (SAW) dan Zaenab binti Jahsy.


Saudaranya-saudaranya seperti; Abu Bakar Said Sagfi, Aujarah Ghorayshi, Shahr bin Hushab, Musa bin Rafiya, Asim bin Abi Saleh dan yang lainnya telah banyak meriwayatkan riwayat tentang beliau. Dalam Sihahu Sittah telah diriwayatkan 65 dari Ummu Habibah tentang nabi (SAW).

Dikatakan juga bahwa Ummu Habibah, mengutip dari isteri-isteri Nabi (SAW): Rasulullah (SAW) bersabda: Jika seorang muslim solat 12 rakaat nafilah selama sehari dan semalam maka Allah akan membuatkan dia istana di surga (HR. Muslim :728)