Isu Radikalisme Ibarat Menggaruk yang Tak Gatal

Iklan Semua Halaman

DUNIA ISLAM

Isu Radikalisme Ibarat Menggaruk yang Tak Gatal

Jumat, 29 November 2019


Kemunculan isu Islam fundamental dan radikal, bahkan digaungkan oleh pejabat negara, menunjukkan bahwa yang memunculkannya tidak memahami doktrin dan peradaban Islam. Konfirmasi lebih tegas mengenai hal itu telah nampak dalam sebuah khuthbah dengan kualitas bacaan Al-Qur’an yang menunjukkan kegagalan pendidikan kita, terutama pendidikan agama. Karena itu, perlu dilakukan pelurusan terhadap pemikiran bengkok akibat pemahaman yang sangat dangkal tersebut.

Dalam pandangan Islam, manusia adalah makhluk yang tidak tahu tentang mana yang benar dan mana yang tidak benar. Karena itu, bisa saja manusia menganggap yang benar sebagai yang tidak benar; sebaliknya yang tidak benar sebagai yang benar. Karena itulah, Allah SWT memberikan panduan atau petunjuk kepada umat manusia berupa wahyu (baca: kitab suci) melalui para utusan-Nya. Dengan kitab itulah, manusia memiliki pengetahuan tentang yang benar dan yang tidak benar.

Karena itulah, seorang penganut agama yang benar, harusnya menjadi fundamentalis dan juga radikal. Seorang muslim, tidak bisa dikatakan sebagai muslim sejati, apabila hidup tidak berdasarkan dasar yang telah diletakkan oleh Allah SWT dan rasul-Nya. Mereka harus tunduk dan patuh kepada ajaran-ajaran yang ada di dalam Al-Qur’an dan juga sunnah Nabi. Karena tunduk dan patuh itulah mereka disebut sebagai muslim, sesuai dengan makna paling literalnya “memasrahkan diri”. Dan pemasrahan diri itu harus dilakukan secara total, bulat-bulat.

Namun, kepasrahan total seorang fundamentalis itu bukan berarti mengabaikan akal. Justru di dalam Islam, akal menempati posisi yang sangat penting. Akal adalah salah satu prasyarat yang harus ada agar seseorang memenuhi kriteria sebagai seorang yang dalam kajian fikih biasa disebut mukallaf. Karena itulah, orang yang kehilangan akal tidak memiliki kewajiban untuk menjalankan hukum-hukum agama. Dengan kata lain, akal disediakan oleh Allah SWT untuk membuat seorang muslim harus meletakkan sikap pasrahnya kepada Allah berdasarkan pemikiran yang radikal, bukan sekedar ikut-ikutan.

Dan memang, jika Islam dipandang dengan pikiran yang radikal, maka akan nampak sebagai agama yang benar-benar valid dari Allah SWT. Ajarannya bersih dari segala upaya manusia yang ingin mengubahnya menjadi salah. Radikal harus juga dipahami dengan benar, mulai dari arti literalnya. Radikal berasal dari kata radix, berarti akar.

Lalu mengapa orang yang beragama secara fundamental dan radikal justru dianggap salah? Itu tidak lain karena terjadi kekeliruan berpikir, disebabkan tidak utuh memahami sejarah dinamika agama-agama di dunia.

Fundamentalisme dan radikalisme yang mestinya berkonotasi positif menjadi negatif disebabkan oleh sejarah yang terjadi di Eropa abad pertengahan yang sering disebut dengan abad kegelapan (the dark age). Dalam masa itu, di belahan bumi lain, tepatnya di pusat pemerintahan Islam, tengah terjadi pembangunan peradaban yang mengantarkan kepada kejayaan dan kemenangan.

Di Eropa, dengan sistem politik yang dalam disiplin ilmu politik religio-integralisme Catholik, tengah terjadi pengebirian terhadap para ilmuan. Dengan kekuasaan agama dan politik yang terkumpul di dalam gereja, para elite Katholik memvonis temuan-temuan ilmiah yang disampaikan oleh para ilmuan sebagai kesesatan atau bid’ah. Galileo misalnya, dengan pandangan barunya bahwa bumi bukanlah pusat tata surya dianggap sebagai bagian dari kaum heretic, sehingga dianggap membahayakan. Gereja dengan kekuasan politik yang dimiliki, menggunakannya untuk menjatuhkan hukuman atas orang yang dianggap melenceng dari doktrin gereja. Galileo dipaksa mengaku bersalah dan meminta maaf, lalu, walaupun tidak jadi dieksekusi, ia dijadikan tahanan rumah sampai akhir hayatnya.

Kasus inilah, dan tentu saja banyak kasus lainnya, yang menyebabkan para saintis yang mempercayai temuan mereka menganggap orang yang menjadikan doktrin agama sebagai orang-orang yang tidak sesuai dengan kebenaran objektif. Bahkan akibat lebih lanjut dan besarnya adalah muncul gerakan untuk memisahkan antara agama dengan negara. Negara tidak boleh lagi didasarkan pada agama (Katholikisme), tetapi harus didasarkan kepada kebangsaan. Maka muncullah konsepsi politik baru yang disebut dengan nation-state yang beroposisi biner dengan konsepsi religio-integralisme Catholic yang sudah berjalan sejak lama.

Dalam perjalannya, agama melahirkan banyak sekte yang antara satu sama lain saling mengklaim kebenaran ada dipihaknya. Itulah di antara yang menyebabkan Sidney Hook, salah satu filsuf eksistensialis asal Amerika tidak setuju dengan Karl Marx yang mengatakan bahwa agama bagaikan candu. Menurut Hook, agama lebih para daripada itu. Sebab, candu membuat orang jadi tidur. Sedangkan agama menyebabkan orang jadi berkonflik dan saling bunuh. Padahal mereka sama-sama berpegang kepada doktrin yang salah. Sebab, sekte mereka bahkan berasal dari doktrin yang salah, karena sudah diubah-ubah teksnya.

Tentu ini sangat berbeda dengan Islam. Ajaran Islam yang bersumber utama dari Al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad SAW., bisa dipertanggung jawabkan orisinalitasnya. Al-Qur’an secara doktriner dinyatakan oleh Allah sendiri akan dijaga keasliannya. Itu terbukti di antaranya bisa dihafalkan oleh banyak orang, bahkan oleh anak kecil sekalipun, yang itu tidak terjadi pada kitab suci agama lain. Banyaknya penghafal itu menutup celah untuk memalsukannya. Sedangkan sunnah Nabi, walaupun ada banyak celah pemalsuan, tetapi dalam konteks metodologis, ia telah dikaji dengan sangat teliti untuk menentukan shahih dan tidaknya. Selain itu, Al-Qur’an yang pasti orisinil itu bisa menjadi batu ujian. Jika bertentangan dengan al-Qur’an, maka secara umum bisa dikatakan tidak shahih.

Karena itu, menggunakan istilah radikal dan fundamental adalah kekeliruan yang sangat fatal. Itu ibarat menggaruk titik yang tidak gatal.

Jadi mengapa isu radikalisme dan fundamentalisme terus digaungkan? Kemungkinan yang paling mungkin adalah seperti ini:

Isu radikalisme dan fundamentalisme sejatinya adalah buatan Amerika yang awalnya digunakan untuk membasmi pemimpin-pemimpin negara yang memiliki nyali untuk melakukan perlawanan. Saddam Hussein dan Khaddafi adalah diantara korbannya. Hal itu juga makin jelas ketika Hillary Clinton menyatakan bahwa ISIS sesungguhnya adalah buatan Amerika.

Nah, memunculkan isu tersebut merupakan bagian dari skenario global yang disusupkan kepada rezim yang gagal untuk membangun kepercayaan rakyat, terutama karena Pemilu yang sarat dengan kecurangan dan kegagalan mencapai pertumbuhan ekonomi yang telah dijanjikan. Tentu saja masih banyak janji lain yang tidak bisa ditunaikan. Karena itulah, diperlukan isu yang bisa menyedot perhatian publik luas. Dan pilihan paling strategis adalah isu radikalisme dan fundamentalisme. Begitulah cara rezim gagal mengalihkan perhatian. Seolah menggaruk, tetapi sekali lagi, yang digaruk sesungguhnya adalah bagian yang sama sekali tidak gatal. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Oleh: Dr. Mohammad Nasih, Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidh al-Qur’an Monash Institute, Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ