Unicorn, Produk Pro-Kapitalis Bikin Hati Miris

Iklan Semua Halaman

DUNIA ISLAM

Unicorn, Produk Pro-Kapitalis Bikin Hati Miris

Minggu, 24 Februari 2019


Unicorn adalah perusahaan rintisan milik swasta yang nilai kapitalisasinya lebih dari $1 miliar. Jumlah unicorn Indonesia tersebut termasuk banyak dibanding negara-negara di Asia Tenggara. Di Asia Tenggara ada tujuh perusahaan unicorn, empat diantaranya berada di Indonesia. Perusahaan tersebut adalah Go-Jek, Tokopedia, Bukalapak, dan Traveloka.

Seperti dikutip dari Sindonews.com- Perusahaan start-up Indonesia seperti Go-Jek, Tokopedia, Bukalapak, dan Traveloka telah menjelma menjadi unicorn, namun perlahan kini mulai dikuasai asing. Kucuran dana besar-besaran dari berbagai investor raksasa mancanegara membuat kepemilikan empat perusahaan rintisan atau startup Indonesia sudah tidak bisa dibanggakan.

Tidak tanggung-tanggung dana yang dikucurkan oleh insvestor asing membuat empat perusahaan unicorn tersebut melejit.

Seperti Tokopedia yang mendapat suntikan sebesar 1,1 miliar dollar AS atau sekitar Rp14,7 triliun dari Alibaba Group pada Agustus 2017 silam.

Sementara Traveloka, mendapat pendanaan dari perusahaan travel asal Amerika Serikat (AS) Expedia pada Juni 2017 senilai 350 juta dollar AS atau sekitar Rp4,6 triliun. Dengan total pendanaan tersebut, Traveloka kini telah mencapai nilai Valuasi lebih dari 2 miliar dollar AS atau setara Rp26,6 triliun.

Adapun CEO Bukalapak Achmad Zaky menyebut Bukalapak telah memiliki valuasi lebih dari Rp13,5 triliun.

Baru-baru ini Go-Jek juga menerima kucuran dana dari Google sebesar 1,2 miliar dollar AS. Hal ini menjadikan valuasi Go-Jek saat ini ditaksir mencapai 4 miliar dollar AS atau lebih dari Rp53 triliun.

Unicorn menjadi salah satu jenis usaha yang dilirik oleh asing kerena menjanjikan keuntungan yang besar bagi para kapitalis. Pangsa pasar yang bagus membuat insvestor asing berlomba-lomba menanamkan modalnya demi meraih keuntungan yang sebesar-besarnya. Hal inilah yang akhirnya menyebabkan perusahaan tersebut dikuasai oleh asing. Tentu saja ini sangat merugikan negara karena seharusnya perusahaan tersebut dikuasai oleh Indonesia.[suaraislam]