Bendera Rosul dibakar, Marah atau Sabar?



Oleh Sigit Nur Setiyawan

Menanggapi viralnya oknum Banser NU yang melakukan pembakaran terhadap bendera bertuliskan kalimat tauhid, sontak membuat masyarakat heboh. Reaksi beragam ditunjukkan sesuai dengan tingkat pemahaman masing masing. Ada yang menyumpah serapahin sampai seluruh kebun binatang keluar semua, ada yang mengutuk keras, ada yang menantang duel dan tidak jarang juga yang membela, mencari pembenaran atas tindakan tersebut.

Mereka yang melakukan pasti berpemahaman bahwa yang dibakar adalah bendera HTI. Walau sedari awal HTI tidak pernah mengklaim itu benderanya. Bahkan sampai kampanye terakhir sebelum dicabut tanpa pengadilan pasca Perpu Ormas, HTI mengkampanyekan “Mengenal Bendera dan Panji Rosulullah”. Kampanye tersebut diberi judul MAPARA (Masyiroh Panji Rosulullah). Tak ada dalam pernyataan resmi HTI mengklaim dan mengkampanyekan kalau Liwa dan Rayah adalah bendera ormasnya.

Hal tersebut diaminkan oleh Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum (Polpum) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Soedarmo yang membantah berita yang mengakabarkan kalau dirinya melarang pengibaran bendera tauhid yang identik dengan logo dan lambang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

“Yang kami larang itu adalah bendera dengan simbol HTI, bukan bendera tauhid. Keduanya berbeda, kalau HTI ini mencantumkan tulisan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di bawah kalimat Laillahaillallah,” kata Soedarmo lewat pesan singkatnya, Jakarta, Minggu (Tribun News 23/7/2017).

Kesimpulan bahwa bendera dan panji Rosulullah tetap boleh dibawa dikibarkan dan tidak boleh dipersekusi. Namun jauh panggang dari api. Semua yang disampaikan hanyalah teori semata. Dari pihak aparat kepolisian sampai ormas melakukan persekusi terhadap Liwa dan Rayah. 


Belum lama terjadi pembubaran aksi damai mahasiswa Gema Pembebasan di Kendari yang memprotes kenaikan BBM dan Dolar. Aksi damai tersebut dibubarkan hanya gara gara para mahasiswa mengibarkan bendera tauhid. Pembubaran disertai dengan pemukulan terjadi. Di Riau juga mengalami hal yang serupa. Aksi Gema Pembebasan dilarang mengibarkan bendera tauhid.

Belum genap satu pekan dari peristiwa di Kendari, kini puncak persekusi terhadap bendera tauhid terjadi. Dilakukan oleh oknum Banser NU dalam acara Hari Santri Nasional di Garut. Dalam video yang viral terlihat dengan jelas bagaimana mereka melakukan pembakaran ikat kepala dan bendera dengan bertuliskan kalimat tauhid. 

Dalam waktu yang singkat video tersebut viral dan membutuhkan konfirmasi dan tabayun dari para petinggi ormas. Dalam salah satu kesempatan diskusi di Televisi. Ketua Banser mengklarifikasi kalau tindakan itu adalah tindakan pengamanan. Dia bercerita kalau di acara tersebut ada santri yang membawa bendera, maka Banser mengamankan karena dianggap simbol radikal. Namun karena takut bendera itu jatuh ketempat tempat yang tidak semestinya karena disana ada kalimat tauhid makanya dibakar. Pas ditanya reporter mengapa kalau alasannya untuk diamankan kenapa tidak disimpan dilipat saja? Dan pertanyaan itu tidak dijawab.

Berbeda halnya dengan ketua Banser dalam wawancara televisi, Website resmi Nu merilis bahwa membakar bendera HTI atau simbol HTI berpahala. Dalam web tersebut disampaikan bahwa bendera HTI (walau HTI tak pernah mengklaim itu benderanya) ibarat bom atom yang siap menghancurkan yang dibungkus dengan tulisan tauhid. Makanya harus dimusnahkan. Memusnahkannya berpahala.


Blunder... sekali lagi blunder. Inkonsistensi antara ketua dengan web site. Mengamankan dengan membakar itu berpahala itu satu hal yang sangat berbeda.

Maka wajar reaksi sangat keras dilakukan oleh kaum muslimin. Namun dalam diskusi di media sosial banyak orang yang seolah olah bijaksana. Mengutip banyak kisah bagaimana Rosulullah adalah pribadi yang penyabar, pemaaf, murah hati dan lain sebagainya.

Rosulullah itu penyabar, pemaaf dalam perkara yang beliau sendiri sebagai korban persekusi. Dalam sirah disebutkan bagaimana perlakuan kafir Qurais yang menaruh kotoran unta dikepala beliau ketika beliau sujud. Beliau marah? Tentu saja tidak. 

Bahkan ketika beliau sangat terancam pada saat melakukan kontak dakwah kepada penduduk Thaif. Namun justru perlakuan penduduk Thaif melakukan pelemparan batu kepada beliau. Tubuh beliau terluka, beberapa gigi tanggal, dan terompah yang dikenakan lengket dengan kaki saking banyaknya darah yang mengucur hingga ke kaki beliau. Namun apakah beliau marah? Tentu saja tidak. Bahkan tatkala ada tawaran menghancurkan penduduk Thaif dari malaikat Allah, Rosulullah justru memaafkan penduduk Thaif. Mengapa Rosulullah memaafkan? Karena yang menjadi korban persekusi adalah pribadi beliau bukan Islam dan Kemuliaan kaum muslimin.

Mereka yang sok bijak tersebut lupa, bahwa dalam Sirah Nabawiah Rosulullah digambarkan sebagai sosok yang bukan haya pemaaf saja. Namun beliau sangat tegas dalam kepemimpinan negara. Tatkala surat beliau kepada Kisra dirobek, sumpah serapah di iringi doa terucap dari lisan beliau yang mulia. Semoga Allah merobek robek kekuasaan Kisra. Dan tak lama singgasana kisra dirobek, kisra dibunuh, Yang kemudian digantikan anak wanitanya. 

Ingatkah kita tatkala terjadi pelecehan Bani Qunaiqo terhadap wanita muslim di sebuah pasar? Begitu mendengar berita tersebut, Rosulullah meminta Bilal mengumandangkan adzan walau belum masuk waktu shalat. Titah beliau 1. Suapkan pasukan kita berangkat ke perkampungan bani Qunaiqa. Akhirnya beberapa oknum Yahudi yang terlibat langsung dieksekusi mati yang lainnya diusir dari Madinah.

Tidak kah kita lupa bagaimana peristiwa penghianatan Yahudi Bani Quraidzah dalam perang Ahzab? Tindakannya bani Quraidzah yang sangat mengancam eksistensi kaum muslimin dibalas dengan tegas oleh Rosulullah. 300 atau 500 orang laki laki dieksekusi mati. wanita dan anak anak ditahan menjadi budak. 

Marilah kita menganalisa. Pembakaran bendera Rosulullah termasuk yang mana? Pribadi kita menjadi korban? Atau kehormatan kaum muslimin yang terciderai? Dan bagaimana sikap kita yang sesuai dengan Rosulullah? Bersabar dan memaafkan? Atau berlaku keras dan tegas kepada mereka?

#BelaKalimatTauhid
#BelaBenderaTauhid

Wallahualam

No comments

Isi komentar adalah tanggapan pribadi,tidak mewakili kebijakan kami. Admin berhak mengubah/menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah, pelecehan dan promosi. Setiap komentar yang diterbitkan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Copyright © . Lemahireng Info All Right Reserved - KabarIslam | Berita Panas | Info Cerdas | Viral News | Nasional Hot | Tips Sehat | Updatechno | Breaking .
Powered by Blogger.