INILAH 3 ALASAN KUAT MENGAPA KITA PERLU I’TIKAF

Tidak terasa kita sudah berada di sepuluh terakhir bulan Ramadan. Biasanya, di sebagian tempat, momen terakhir bulan puasa tidak digunakan untuk melejitkan semangat ibadah. Tapi banyak disibukkan dengan persiapan hari raya, belanja baju lebaran, urusan mudik dan sebagainya. Padahal sepuluh hari terakhir menjadi penentu bagi kita untuk mendapatkan kesempatan beribadah di malam Lailatul Qadar.



Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam telah mencontohkan bagaimana seharusnya kita melewati hari-hari terakhir di bulan yang agung ini. Disebutkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki sepuluh Ramadhan terakhir, beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah (dengan meninggalkan istri-istrinya), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” (HR. Bukhari-Muslim)

Kebiasaan beliau ini dilakukan dengan cara beritikaf di masjid. Berikutnya amalan ini pun menjadi tradisi umat Islam setiap kali memasuki hari terakhir bulan Ramadhan. Setidaknya Ada beberapa alasan mengapa itikaf itu penting untuk dikerjakan oleh setiap muslim. Di antaranya adalah:

Pertama; Itikaf Termasuk Sunnah Muakkadah

I’tikaf termasuk sunah muakkadah (sangat dianjurkan), karena Nabi sallallahu alaihi wa sallam biasa melakukannya. Bahkan beliau tidak pernah meninggalkan ibadah yang satu ini sampai beliau wafat. Aisyah radhiallahu anha menuturkan:

كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

“Biasanya (Nabi sallallahu’alaihi wa sallam) beri’tikaf pada sepuluh malam akhir Ramadan sampai Allah wafatkan. Kemudian istri-istrinya beri’tikaf setelah itu.” (HR. Bukhari, no. 2026 dan Muslim, no. 1172)

karena itu, sebagian ulama salaf heran dengan orang-orang yang meninggalkan i’tikaf, padahal Nabi sallallahu alaihi wa sallam senantiasa melaksanakannya.

Ibnu Syihab Az-Zuhri berkata, “Sangat mengherankan umat Islam yang meningalkan I’tikaf. Padahal Nabi sallallahu laihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya sejak masuk Madinah sampai Allah cabut nyawanya.”

Kedua; Ajang untuk menempa Iman

I’tikaf yang dibiasakan Nabi sallallahu’alaihi wa sallam di akhir hayatnya dengan beri’tikaf sepuluh malam akhir Ramadan. Hari-hari dalam menjalani I’tikaf bagaikan pembinaan iman secara intensif dan hasilnya sangat positif. Hal ini dapat dirasakan secara langsung pada saat menjalani I’tikaf. Dampaknya juga positif pada kehidupan manusia ke depannya hingga memasuki Ramadan berikutnya.

Sungguh kita semua menginginkan sendainya semua umat Islam menghidupkan sunnah ini dengan cara yang benar. Sesuai yang dilakukan oleh Nabi sallallahu’alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Dan ini menjadi salah satu wasilah bagi kita untuk melatih jiwa dan bisa bertahan untuk mendapatkan kemenangan dalam menegakkan nilai-nilai Islam.

Ketiga, kesempatan untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar

Tujuan dasar dari i’tikafnya Nabi sallallahu’alaihi wa sallam adalah ingin mendapatkan Lailatul Qadar. dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu’anhu, ia berkata:

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اعْتَكَفَ الْعَشْرَ الأَوَّلَ مِنْ رَمَضَانَ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ الْعَشْرَ الأَوْسَطَ فِي قُبَّةٍ تُرْكِيَّةٍ (أي : خيمة صغيرة) عَلَى سُدَّتِهَا (أي : بابها) حَصِيرٌ قَالَ : فَأَخَذَ الْحَصِيرَ بِيَدِهِ فَنَحَّاهَا فِي نَاحِيَةِ الْقُبَّةِ ، ثُمَّ أَطْلَعَ رَأْسَهُ فَكَلَّمَ النَّاسَ ، فَدَنَوْا مِنْهُ ، فَقَالَ : إِنِّي اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوَّلَ أَلْتَمِسُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ، ثُمَّ اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوْسَطَ ، ثُمَّ أُتِيتُ فَقِيلَ لِي : إِنَّهَا فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ ، فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَعْتَكِفَ فَلْيَعْتَكِفْ ، فَاعْتَكَفَ النَّاسُ مَعَهُ

“Sesungguhnya Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh awal Ramadan. Kemudian beri’tikaf di sepuluh tengah Ramadan di tenda kecil. Dipintunya ada tikar. Berkata (Abu Said): “Beliau mengambil tikar dengan tangannya dan beliau bentangkan di sekitar tenda (Kubbah). Kemudian beliau mengeluarkan kepalanya dan berbicara dengan orang-orang. Dan orang-orang pada mendekat kepada beliau. Kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya saya beri’tikaf di sepuluh pertama untuk mendapatkan malam ini (lailatul qadar). Kemudian saya beri’tikaf di sepuluh pertengahan, kemudian didatangkan kepadaku dan dikatakan kepadaku, “Sesungguhnya ia (lailatul Qadar) berada di sepuluh akhir. Siapa di antara kalian yang ingin beri’tikaf, maka beri’tikaflah (pada sepuluh akhir). Maka orang-orang berdi’tikaf bersama beliau.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga sering menekankan para sahabatnya untuk mencari fadhilah malam Lailatul Qadar di sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Beliau bersabda.

الْتَمِسُوْ مَا فِيْ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُ كُمْ أَوْ عَجَزَ فَلاَ يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِي

“Carilah di sepuluh hari terakhir, jika tidak mampu maka jangan sampai terluput tujuh hari sisanya,” (HR. Bukhari-Muslim)

Demikian beberapa alasan penting mengapa kita harus beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Tentu semua ini tidak lain sebagai ajang bagi kita untuk memperbaiki diri agar senantiasa menjadi hamba yang bertaqwa.[kiblat]

Fakhruddin

Sumber: Islamqa.info

No comments

Isi komentar adalah tanggapan pribadi,tidak mewakili kebijakan kami. Admin berhak mengubah/menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah, pelecehan dan promosi. Setiap komentar yang diterbitkan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Copyright © . Lemahireng Info All Right Reserved - KabarIslam | Berita Panas | Info Cerdas | Viral News | Nasional Hot | Tips Sehat | Updatechno | Breaking .
Powered by Blogger.