Soal HTI, Fahri Hamzah: Pemerintah Sok Tegas Hanya Karena Ada Tekanan Dibelakang Layar

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah masih menyesalkan keputusan pemerintah membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) secara sepihak. Pemerintah melalui Menko Polhukam Wiranto disebutnya terlalu memaksakan kehendak.



"Enggak usah sok tegas. Hanya karena ada tekanan di belakang layar, yang kita enggak tahu siapa itu," kata Fahri usai berkunjung di Kantor Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo, di Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, Sulsel, Jumat, 12 Mei 2017.

Menurut Fahri, pemerintah seharusnya punya kemampuan berpikir yang luas dan dalam. Untuk memutuskan sesuatu, kata dia, tidak boleh terburu-buru. Pada kasus HTI, misalnya, pemerintah bisa lebih dulu membangun komunikasi dengan ormas bersangkutan.

"Tetap harus bicara, bertemu, komunikasi. Ada prosedur dan metode sesuai hukum. Jangan terkesan pemerintah itu perang dengan rakyatnya, dengan kelompok-kelompok, ormas, apapun namanya," Fahri menambahkan.

Fahri juga menyebut alasan pemerintah membubarkan HTI sebagai kecurigaan yang berlebihan. Selama ini HTI dianggapnya tidak pernah terbukti mengancam kedaulatan negara.

"Yang boleh dilakukan adalah menindak kriminalitas. Kalau enggak ada, enggak usah. Bicara saja dulu. Kan belum tentu juga pemerintah memahami Hizbut Tahrir itu apa," ujar Fahri.

"Orang enggak pernah diberi peringatan sebelumnya. Tiba-tiba dibubarkan. Nanti, semua (ormas lain) juga bisa dibubarkan," dia melanjutkan.

Fahri mengungkapkan rencananya memanggil perwakilan pemerintah ke DPR dalam waktu dekat. Diharapkan kedua pihak bisa mendiskusikan bagaimana prosedur seharusnya dalam menghadapi ormas, termasuk yang disebut mengancam.

"Kita harus punya jiwa yang lapang supaya bisa berhadapan dengan dinamika masyarakat, yang semakin merdeka."

(SAN)

No comments

Copyright © . Lemahireng Info All Right Reserved - KabarIslam | Berita Panas | Info Cerdas | Viral News | Nasional Hot | Tips Sehat | Updatechno | Breaking .
Powered by Blogger.
close