Sistem Pendidikan Sekuler telah gagal Membangun Generasi Muda

Lemahireng.info --- Setiap tanggal 2 Mei di Indonesia selalu diperingati sebagai hari pendidikan nasional, alasannya karena dahulu tanggal 2 Mei 1922 telah berdiri lembaga pendidikan taman siswa yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantoro. Padahal jika kita menelaah lebih dalam, sebelum tanggal 2 Mei 1922, telah berdiri lembaga pendidikan yang dipelopori oleh Persyarikatan Muhammadiyyah dan Kyai Haji Ahmad Dahlan yang berdiri tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H / 18 November 1912.


Telah kita maklumi bersama bahwa sejarah umat Islam di Indonesia saat ini telah mengalami deislamisasi sejarah, seolah-olah meniadakan peran umat Islam dalam memerdekakan bangsa Indonesia dari kaum kafir penjajah. Padahal peran Ulama dan santri begitu besar dalam memimpin pergerakan nasional, tetapi sangat disayangkan sejarah yang kita terima saat ini dalam dunia pendidikan justru berbanding terbalik dengan sejarah yang sesungguhnya. Sebagaimana dijelaskan oleh Prof. Dr. Ahmad Mansyur Suryanegara dalam bukunya Api Sejarah 1 dan 2.

Disamping adanya deislamisasi sejarah-sejarah perjuangan umat Islam dalam memimpin pergerakan nasional termasuk dalam dunia pendidikan, kita sepantasnya merenungi kembali setiap tanggal 2 Mei yang selalu diperingati sebagai hari pendidikan nasional. Bagaimanakah kabar pendidikan nasional saat ini ?

Sistem pendidikan sekuler yang ada selama ini terbukti telah gagal dalam membangun generasi muda. Pendidikan dalam sistem sekuler yakni pengembangan sains dan teknologi dilakukan sama sekali tidak berlandaskan nilai agama. Kalaupun ada hanyalah etik yang kenyataannya juga bersifat material. Sementara proses pembentukan karakter peserta didik yang merupakan bagian terpenting dari proses pendidikan justru kurang tergarap secara serius. Maka tidak heran begitu banyak peserta didik yang kering dari nilai-nilai ilahiah sehingga terjerumus kepada kenikmatan semata. 

Pihak BNN Kota Palu melakukan tes urine ke sejumlah Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Hasilnya 223 siswa dinyatakan positif memakai narkoba (merdeka.com, 4/3/2016).

Bahkan di kota Yogyakarta yang terkenal sebagai kota pelajar, tingkat penderita HIV dan AIDS begitu banyak. Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) membeberkan jumlah ODHA (orang dengan HIV dan AIDS) di Yogyakarta dari tahun 1993 sampai 2015 mencapai angka 3.146. Dari angka tersebut, yang sudah masuk fase AIDS sebanyak 1.249. 214 di antaranya adalah mahasiswa. Data ini diungkapkan KPA di Desember 2015 (merdeka.com, 29/1/2016).

Masih banyak lagi kasus-kasus yang mewarnai dunia pendidikan di Indonesia saat ini, dari mulai tawuran antar pelajar, pergaulan bebas, hamil di luar nikah, hingga aborsi dan itu terjadi dikalangan pelajar. Tentunya kita miris mendengarnya, moral bangsa ini semakin terkikis dengan maraknya pergaulan bebas di kalangan pelajar, baik tingkat SMA, SMP bahkan sampai SD.

Disamping banyaknya kasus yang mewarnai pelajar Indonesia saat ini, dunia perguruan tinggi pun tidak kalah berbeda. lulusan perguruan tinggi saat ini sulit mendapatkan pekerjaan di negerinya sendiri. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2014, di Indonesia ada 9,5 persen (688.660 orang) dari total penganggur yang merupakan alumni perguruan tinggi.

Mereka memiliki ijazah diploma tiga atau ijazah strata satu (S-1) . Dari jumlah itu, penganggur paling tinggi merupakan lulusan universitas bergelar S-1 sebanyak 495.143 orang.

Angka pengangguran terdidik pada 2014 itu meningkat dibandingkan penganggur lulusan perguruan tinggi pada 2013 yang hanya 8,36 persen (619.288 orang) dan pada 2012 sebesar 8,79 persen (645.866 orang).

“Tingkat pengangguran terbuka Indonesia berdasarkan pendidikan yang ditamatkan cukup membahayakan,” kata mantan Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Fasli Djalal (Kompas.com, 23/4/2016).

Sistem pendidikan sekuler dalam cengkraman kapitalisme terbukti telah gagal dalam membangun generasi muda, dan itu akan berbanding terbalik dalam sistem pendidikan Islam, karena Islam memandang bahwa penyelenggaraan pendidikan adalah kewajiban negara dan negara wajib memfasilitasi pendidikan secara gratis untuk rakyatnya. Tujuan dari pendidikan Islam adalah terbentuknya kepribadian Islam yang terwujud dari pola fikir dan pola sikap yang Islami yang ditanamkan sejak dari kecil, menguasai tsaqafah Islam, menguasai ilmu pengetahun dan teknologi berikut ilmu terapan yang tepat guna.

Proses pembentukan karakter Islami menjadi perhatian khusus dalam sistem pendidikan Islam, dan itu berbanding terbalik dalam sistem pendidikan sekuler saat ini yang lebih mengedepankan aspek intelektual saja tetapi kurang memperhatikan proses pembentukan karakter, sehingga banyak orang-orang yang cerdas tetapi tidak memiliki akhlak yang baik.

Berdasarkan sirah Nabi Saw sebagaimana disarikan oleh Al Baghdadi (1996) menjelaskan bahwa negara memberikan pelayanan pendidikan secara cuma-cuma (bebas biaya) dan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh warga untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dengan fasilitas sebaik mungkin. Kesejahteraan dan gaji para pendidik sangat diperhatikan. Sistem pendidikan bebas biaya dilakukan oleh para sahabat (ijma), termasuk pemberian gaji yang sangat memuaskan kepada para pengajar diambil dari baitul mal. Contohnya, Madrasah Al Muntashiriah yang didirikan Khalifah Al Munthasir di Kota Baghdad. Di sekolah ini setiap siswa menerima beasiswa sebesar satu dinar (4.25 gram emas). Kehidupan kesehatan mereka dijamin sepenuhnya. Fasilitas seperti perpustakaan, bahkan rumah sakit dan permandian tersedia lengkap di sana.

Maka tidak heran jika dalam sistem pendidikan Islam bisa melahirkan generasi yang gemilang seperti Imam Abu Hanifah, Imam Maliki, Imam Syafi'i dan Imam Hambali yang ahli dalam bidang fiqh, Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam bidang Hadis, Al Battani seorang ahli astronomi, Ibnu Sina seorang yang ahli dalam bidang kedokteran, Ibnu Batutah adalah seorang pengembara, Al Khawarizmi adalah seorang ahli matematika dan masih banyak yang lainnya. 

Henry Margenan dan David Bergamini dalam The Scienthis sebagaimana diolah oleh Jujun S. Surisumantri telah mendaftar sederetan cabang ilmu pengetahuan yang telah dikembangkan sebagai hasil perkembangan pemikiran dan ilmiah di kalangan kaum Muslimin pada masa jayanya. Dalam bidang matematika seperti teori bilangan, al-Jabar, geometri analit dan trigonometri. Dalam bidang fisika mereka telah berhasil mengembangkan ilmu mekanika dan optika. Dalam kimia telah berkembang ilmu kimia. Dalam bidang astronomi kaum muslimin telah memiliki ilmu mekanika benda-benda langit. Dalam bidang geologi, para ahli ilmj pengetahuan muskim telah mengembangkan Geodesi, Minerologi dan Meteorology. Dalam bidang biologi, mereka telah memiliki ilmu Pisiologi, anatomi, botani, zoologu, embriology dan pathologi. Dalam bidang sosial telah berkembang pula ilmu politik. Dan masih banyak yang lainnya. 

Maka pentingnya bagi kita untuk merenungi kembali setiap tahun diperingatinya hari pendidikan nasional.Perlunya bagi kita untuk memikirkan sebuah sistem pendidikan yang akan menyelamatkan dunia pendidikan di Indonesia yang saat ini sudah kehilangan arah, itulah pentingnya sistem pendidikan Islam yang akan mewujudkan manusia-manusia yang memiliki kepribadian Islam, menguasai tsaqafah Islam, ahli dalam ilmu pengetahuan dan teknologi berikut ilmu terapan yang tepat guna. []

*Ketua BE Korda BKLDK Kota Bandung / Mahasiswa Prodi Ilmu Pendidikan Agama Islam Universitas Pendidikan Indonesia

No comments

Copyright © . Lemahireng Info All Right Reserved - KabarIslam | Berita Panas | Info Cerdas | Viral News | Nasional Hot | Tips Sehat | Updatechno | Breaking .
Powered by Blogger.