Wahai Putra - putriku, Cintailah Panji Rasulullah!

Setelah viralnya berbagai video dan foto mengenai panji Rasulullah di media sosial, muncul beberapa tulisan bernada negatif terhadap video dan foto tersebut. 

Membawa panji Rasulullah dituduh antikeberagaman. Ini tentu merupakan stigma negative yang ditujukan kepada umat Islam, padahal mencintai panji Rasulullah merupakan bagian dari bentuk ekspresi kecintaan kaum muslimin kepada Rasulullah dan Islam. 

Bagaimana mungkin membawa panji Rasulullah dituduh antikeberagaman? Islam sendiri justru menjadikan keberagaman sebagai berkah.



Allah SWT telah menjadikan manusia beragam dari berbagai sisi, dari sisi agama, warna kulit, bahasa, suku, status ekonomi dan sebagainya. Allah SWT berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ﴾
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Mahatahu lagi Maha Mengenal (TQS al-Hujurat [49]: 13).

Syihabuddin Mahmud al-Alusi dalam tafsirnya Rûh al-Ma’ânî menjelaskan kata “lita’ârafû” yakni “Kami menjadikan kalian demikian agar sebagian mengenal sebagian yang lain sehingga kalian menyambung kekerabatan serta menjadi jelas nasab dan saling mewarisi, bukan agar kalian saling berbangga dengan nenek moyang dan suku”.

Begitupun ketika muncul foto anak-anak yang membawa panji Rasulullah, langsung dikatakan bahwa anak-anak kita terjangkiti bibit-bibit antikemajemukan dan racun kebencian. 

Sungguh tuduhan yang tidak berdasar. Bisa jadi sang penuduh tidak memahami bagaimana syariat Islam begitu adilnya dalam mengatur kemajemukan dan keberagaman. Bagaimana mungkin anak-anak pembawa panji Rasulullah dituduh membawa bibit kebencian? Ini hanyalah asumsi belaka. 

Faktanya justru kebencian yang menjangkiti sebagian anak-anak hingga menghasilkan anak-anak yang melakukan kejahatan merupakan hasil dari kebebasan berperilaku kehidupan sekulerisme.

Kehidupan sekulerisme telah memproduksi kerusakan generasi yang parah. Tahun 2016 KPAI mencatat bahwa jumlah anak sebagai pelaku kejahatan kekerasan justru cenderung meningkat. Fakta yang didapatkan KPAI mengungkapkan bahwa pada tahun 2014, terdapat 67 kasus anak yang menjadi pelaku kekerasan, sementara itu pada 2015 meningkat jadi 79 kasus. Sedangkan kasus anak sebagai pelaku tawuran juga mengalami kenaikan. Bila pada tahun 2014 ada 46 kasus, tahun 2015 mencapai 103 kasus.( http://lifestyle.bisnis.com/read/20160102/236/506440/catatan-akhir-tahun-kpai-anak-sebagai-pelaku-kejahatan-meningkat)

Beberapa waktu yang lalu kita dihebohkan dengan berita anak usia 12 tahun, AP yang terlibat merampok rumah pengusaha Wevie Viyana di Pamulang, Tangerang. Sementara anak usia 10 tahun, Sy menganiaya temannya Renggo Khadafi (10) hingga tewas pada 28 April 2014 di Jakarta Timur (http://news.okezone.com/read/2014/10/09/338/1050136/ironi-12-anak-sekolah-terlibat-kejahatan-sadis).

Tak hanya itu, anak sebagai pelaku kriminalitas ternyata trennya semakin meningkat setiap tahun. Komisi Nasional Anak mencatat adanya peningkatan kasus kriminalitas yang dilakukan oleh anak. Jika pada tahun 2013 terdapat 730 kasus yang melibatkan anak sebagai perilaku kriminal anak. 

Angka tersebut meningkat pada tahun 2014 menjadi 1.851 kasus. Pada tahun 2013 sebanyak 16% pelaku kriminalitas berusia dibawah 14 tahun. Sedang pada tahun 2014 meningkat sebanyak 26%. (http://www.gresnews.com/berita/sosial/21041-kasus-kriminalitas-anak-meningkat-pada-2014/0/#sthash.B7btY4mO.dpuf).

Anak yang dididik untuk bertaqwa tidak akan melakukan semuanya itu. Anak yang bertaqwa dididik untuk taat kepada Allah. Allah mengharamkan mencuri, membunuh, dan berbagai tindak kriminal lainnya. Anak yang bertaqwa tidak akan berani melanggar perintah Allah meskipun orangtuanya tidak selalu bisa mengawasinya.

Panji Rasulullah sendiri merupakan panji yang bertuliskan dua kalimat syahadat. Yaitu ketauhidan bahwa tidak ada Tuhan Kecuali Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Dua kalimat ini merupakan dasar keimanan seorang muslim. Keimanan yang diperoleh melalui kesadaran akan menjadikan pemeluknya orang yang bertaqwa. Bukankah kita ingin menjadikan diri kita, anak-anak kita termasuk bagian dari orang-orang yang bertaqwa.

Sebagai orang tua dan guru kita berkewajiban mendidik anak-anak kita menjadi anak yang shalih. Karena kita berharap bisa mendapatkan pahala yang terus mengalir karena kita mencetak anak-anak shalih yang senantiasa mendoakan orangtuanya. 

Dalam doa kita selalu memohon kepada Allah dikarunia keturunan yang Qurata A’yun dan bisa menjadi Imam bagi orang-orang bertaqwa. Dalam doa ini kita memohon kepada Allah supaya anak-anak kita menjadi pemimpin bagi Orang bertaqwa, tidak hanya bertaqwa saja.

Anak yang bertaqwa seperti ini tidak akan dihasilkan oleh kehidupan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Anak dalam kehidupan sekuler diajarkan untuk mengisi hidupnya dengan sekehendak hawa nafsunya. 

Berbeda dengan anak yang bertaqwa merupakan hasil dari pendidikan yang menancapkan aqidah yang lurus kepada Anak, bahwa ia merupakan makhluk Allah dan ia diciptakan Allah untuk beribadah kepadaNya, sehingga sebagai makhluk ia harus taat dan patuh kepada aturan penciptanya. Ia hidup untuk mencari keridloan Allah, ia akan mengendalikan hawa nafsunya menuruti apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi apa yang dilarangNya.

Itulah pentingnya menanamkan aqidah yang kokok kepada anak, supaya ia bisa menjadi anak shalih dan bertaqwa. Dimulai dari pengenalan kalimat tauhid pada panji Rasulullah, makna kalimat tersebut, dan konssekuensi dari keimanan terhadap kalimat tersebut.

Tak hanya itu seorang anak yang bertaqwa, ia akan menjadikan Rasulullah sebagai teladan dalam hidupnya. Anak yang bertaqwa mengimani Rasululullah Muhamad SAW sebagai pembawa aturan dari Allah, supaya cara hidup manusia di dunia ini tidak salah dan supaya cara beribadah kepada Allah tidak menyimpang.

Untuk menjadikan Rasulullah sebagai teladan tentu dalam pendidikan kepada anak perlu digambarkan utuh seperti apa kehidupan Rasulullah. Faktanya Rasulullah bukanlah sekedar rohaniawan sebagaiman gambaran ide sekulerisme. Rasulullah dalam kehidupannya senantiasa membawa Islam dalam setiap denyut kehidupan dan aktifitas beliau. 

Beliau melaksanakan Islam di masjid, di pasar, di dalam rumah bahkan juga di pemerintahan dan medan perang. Termasuk aktifitas beliau adalah menyerahkan panji kalimat tauhid kepada para pemimpin medan pertempuran. Di antara dalilnya adalah sabda Rasulullah saw. ketika Perang Khaibar, “Sungguh aku akan memberikan ar-Râyah kepada seseorang, ditaklukkan (benteng) melalui kedua tangannya, ia mencintai Allah dan Rasul-Nya, Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya.” (HR Muttafaqun ’alayh).

Maka mengajarkan anak-anak kita mencintai panji Rasulullah adalah dalam rangka menanamkan kecintaan kepada Rasulullah. Bahkan para shahabat Rasulullah yang begitu cintanya kepada Rasulullah senantiasa berebut untuk diberi amanah membawa panji Rasulullah.

 Salah satu contohnya ditunjukkan pada saat perang Khaibar, dimalam hari dimana keesokan paginya Rasulullah saw akan menyerahkan bendera/panji-panji kepada seseorang:
«فَبَاتَ النَّاسُ يَدُوْكُوْنَ لَيْلَتَهُمْ: أَيُّهُمْ يُعْطَاهَا؟»
Malam harinya, semua orang tidak tidur dan memikirkan siapa diantara mereka yang besok akan diserahi bendera itu. (HR. Bukhari) Bahkan Umar bin Khaththab sampai berkata:
«مَا أَحْبَبْتُ اْلإِمَارَةَ إِلاَّ يَوْمَئِذٍ»
Aku tidak mengharapkan kepemimpinan kecuali pada hari itu. (HR. Bukhari)
Kisah diatas menunjukkan betapa pentingnya kedudukan bendera dan panji-panji didalam Islam.

Orang yang diserahi oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk membawanya memiliki kemuliaan yang sangat tinggi.

Rasulullah sendiri beliau sebagai kepala Negara sekaligus Rasul yang menerapkan wahyu yang dibawanya dari Allah telah mencontohkan bagaimana mengatur dan menyikapi keragamanan di tengah-tengah masyarakat. Saat beliau hijrah ke Madinah beliau membiarkan penduduk Madinah tetap dengan agamanya setelah beliau seru untuk masuk Islam. Bagi yang tidak mau masuk Islam, maka tidak boleh dipaksa, bahkan harta, nyawa dan kehormatan mereka dijaga sebagaimana kaum muslimin.

Terakhir, mengenalkan panji Rasulullah yaitu panji liwa dan royah hakikatnya adalah pengenalan sistem Khilafah, yaitu sisttem pemerintahan warisan Nabi kepada anak-anak kita. Mengenalkan Khilafah sebagai sebuah kewajiban dari Allah, manhaj Nabi serta kebaikan-kebaikannya dan kegemilang yang pasti akan melingkupinya merupakan bagian dari pendidikan politik Islam kepada anak-anak kita. 

Dan apa yang dilakukan orangtuanya untuk memperjuangkannya merupakan bentuk sayang orangtua untuk menghadirkan kehdupan yang lebih baik bagi generasi di masa mendatang, yaitu kehidupan Islam dalam naungan Khilafah. Yang pada masa lalu terbukti mampu mencetak anak-anak yang shalih dan bertaqwa, dan demikian pula yang akan terjadi di masa mendatang, insya Allah. ( voaislam )

No comments

Copyright © . Lemahireng Info All Right Reserved - KabarIslam | Berita Panas | Info Cerdas | Viral News | Nasional Hot | Tips Sehat | Updatechno | Breaking .
Powered by Blogger.