Aneh bin Ajaib, Khilafah Itu Gagasan Para Ulama, Kok Ditolak .

Lemahireng.info ---   Akhir-akhir ini, Gagasan Khilafah dianggap berbahaya dan ancaman bagi negara indonesia yang mayoritas muslim oleh penguasa dan sebagian kaum muslim. Sehingga mereka berupaya dengan segala cara, bahkan dengan “oqol-otot” untuk menghalangi, menggagalkan, dan mengkriminalkannya.


Semua itu bisa ditunjukkan dengan: pertama, pernyataan Kapolri Jenderal Tito Karnavian angkat bicara terkait masifnya gerakan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang kerap mengusung konsep khilafah. Tito menegaskan, konsep khilafah bertentangan dengan pancasila. “Kalau seandainya itu dilakukan, khilafah ya itu bertentangan dengan ideologi pancasila. Kalau buat ideologi khilafah apa bisa pancasila,” kata Tito di Komplek Mabes Polri, Jakarta, Jumat (28/4). (https://m.merdeka.com/peristiwa/kapolri-tito-khilafah-bertentangan-dengan-pancasila.html).

Kedua, sebagian ormas anshor NU dan banser NU yang menolak gagasan khilafah dan organisasi pengembannya, dengan alasan bertentangan dengan NKRI.

Sikap ini sungguh aneh, bila terjadi pada penguasa negara mayoritas muslim dan ormas yang didirikan oleh ulama, dimana ulama dijadikan panutannya, kenapa? Karena gagasan/ide khilafah ada sebelum NKRI berdiri dan dinyatakan oleh para ulama sebelum Hizbut Tahrir berdiri.

Diantara pernyataan ulama tentang khilafah adalah:

1. Imam Fakhr al-Din al-Raziy penulis kitab Manaqib al-Syafiiy menjelaskan dalam tafsirnya:
Para mutakallimin berhujjah dengan ayat ini (QS. Al-Maidah [5]: 38) bahwa wajib atas umat mengangkat seorang imam yang spesifik untuk mereka. Dalilnya adalah Allah Taala mewajibkan di dalam ayat ini untuk menegakkan had atas pencuri dan pezina. Maka merupakan keharusan adanya seorang yang melaksanakan seruan tersebut. Umat telah sepakat bahwa tidak seorangpun dari rakyat yang boleh menegakkan had atas pelaku kriminal tersebut. Bahkan mereka juga sepakat bahwa tidak boleh menegakkan had atas orang merdeka pelaku kriminal kecuali oleh seorang imam. Karena itu ketika taklif tersebut merupakan taklif yang jazim (pasti) dan tidak mungkin keluar dari ikatan taklif ini kecuali dengan adanya seorang imam, dan ketika kewajiban itu tidak terlaksana kecuali dengan seorang imam, dan itu masih dalam batas kemampuan mukallaf, maka adanya imam adalah wajib. Maka dituntut secara pasti atas wajibnya mengangkat imam seketika itu pula. (Tafsir al-Raziy [Mafatih al-Ghaib] XI/ 181)

2. Imam al-Hafidh Abu Zakariya al-Nawawiy menyatakan:

الفصل الثاني في وجوب الإمامة وبيان طرقها

“Pasal kedua tentang wajibnya imamah serta penjelasan metode (mewujudkan)-nya.” (Raudlah al-Thalibin wa ‘Umdah al-Muftin III/ 433).

3. Imam al-Hafidh Zakariya al-Anshariy menyatakan:

بَابُ الْإِمَامَةِ الْعُظْمَى وَهِيَ فَرْضُ كِفَايَةٍ كَالْقَضَاءِ إذْ لَا بُدَّ لِلْأُمَّةِ من إمَامٍ يُقِيمُ الدِّينَ وَيَنْصُرُ السُّنَّةَ وَيُنْصِفُ الْمَظْلُومِينَ وَيَسْتَوْفِي الْحُقُوقَ وَيَضَعُهَا مَوَاضِعَهَا

“Bab Imamah yang agung. Imamah adalah fardlu kifayah sebagaimana peradilan, karena adalah suatu keharusan bagi umat adanya imam yang menegakkan agama, menolong sunnah, memberikan hak bagi yang didhalimi dan menunaikan hak serta menempatkan hak tersebut pada tempatnya. (Asna al-Mathalib IV/ 108)

4. Imam qurthubi dalam kitab tafsirnya menafsiri surat al baqarah ayat 30

(وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ) [Surat Al-Baqarah 30]

هذه الآية أصل في نصب إمام وخليفة يسمع له ويطاع ، لتجتمع به الكلمة ، وتنفذ به أحكام الخليفة . ولا خلاف في وجوب ذلك بين الأمة ولا بين الأئمة إلا ما روي عن الأصم حيث كان عن الشريعة أصم ، وكذلك كل من قال بقوله واتبعه على رأيه ومذهبه

“Ayat ini (QS. Al-Baqarah [2]: 30) pokok tentang mengangkat imam dan khalifah untuk didengar dan ditaati, untuk menyatukan pendapat serta melaksanakan melalui khilafah, hukum-hukum tentang khilafah. Tidak ada perbedaan tentang wajibnya hal tersebut di antara umat dan di antara para imam kecuali yang diriwayatkan dari al-Asham, yang menjadi syariat Asham, setiap orang yang berkata dengan perkataannya, serta orang yang mengikuti pendapat dan madzhabnya [–Abu Bakr al-Asham adalah tokoh senior Mutazilah–,pen]. (al-Jami li Ahkam al-Qur’an I/ 264).

Ini adalah sebagian pandangan ulama tentang wajibnya khilafah. Bahkan para ulama sepakat tentang wajibnya mengangkat imamah (khilafah).

Jadi, menurut hemat kami, hizbut tahrir yang memperjuangkan tegaknya syari’ah islamiyah dan khilafah yang mengikuti manhaj nabi merupakan upaya mensosialisasikan dan menegakkan salah satu hasanah fiqih islam (fiqih siyasah) yang telah lama telah digagas oleh ulama. Hal ini sama persis dengan hasanah fiqih islam yang lain, misalnya sholat wajib, puasa wajib, menutup surat wajib, wajib nya diterapkan hukum rajam bagi pezina muhshan (pezina berkeluarga).

Jadi, bagi dunia ulama, santri, dan kaum muslimin yang telah mengkaji-memahaminya, maka gagasan khilafah bukan suatu yang aneh atau ancaman.

Apakah kita berani mengatakan para ulama di atas, yang menyatakan gagasan khilafah itu wajib sebagai ide aneh, ancaman, dan berbahaya? Jika hal ini dilakukan oleh santri dan kaum muslimin, maka sikap ini sebagai su’ul adab (adab buruk) terhadap para ulama sekaliber imam qurthubi, imam al hafidh az zakaria an nawawi dll. Wallahu a’lam bi ash shawab. [VM]

Penulis : Fathur Rahman alfaruq (Pengasuh MTI Darul Falah Lamongan)

No comments

Copyright © . Lemahireng Info All Right Reserved - KabarIslam | Berita Panas | Info Cerdas | Viral News | Nasional Hot | Tips Sehat | Updatechno | Breaking .
Powered by Blogger.