Pendidikan Islam masih dalam Cengkeraman Peradaban Barat

Iklan Semua Halaman

DUNIA ISLAM

Pendidikan Islam masih dalam Cengkeraman Peradaban Barat

Sabtu, 11 Maret 2017
Lemahireng.info --- Peradaban secara umum maknanya adalah cara hidup (the way of life) yang terbentuk dari sejumlah pandangan-pandangan hidup (the world view) yang diyakini kebenarannya oleh suatu bangsa atau umat dalam segala bentuknya, baik yang diekspresikan secara nyata (tangibel) seperti perilaku atau bangunan yang khas, maupun yang diekspresikan secara tidak nyata (untangibel) seperti nilai-nilai (values) atau ide-ide (thoughts), misalnya ide kebebasan, HAM, demokrasi, toleransi agama, dll.


Peradaban tersebut sangat berkaitan dengan pendidikan. Karena melalui pendidikanlah peradaban suatu bangsa atau umat akan dibentuk dan diwariskan dari satu generasi kepada generasi selanjutnya. Jadi fungsi strategis pendidikan sebenarnya tak hanya mentransfer berbagai pengetahuan (knowledge) seperti sains dan teknologi untuk memenuhi kebutuhan manusia. 

Lebih dari itu pendidikan adalah instrumen pembentuk peradaban dan pandangan hidup (the world view) bagi suatu bangsa atau umat. Maka dari itu, tidak heran jika negara-negara kapitalis (Barat) dan negara-negara sosialis selalu mengoptimalkan sistem pendidikannya untuk mempertahankan peradabannya yang khas.

Sejak imperialisme Barat yang memuncak pada abad ke-19 dan berlangsung hingga pertengahan abad ke-20, harus diakui umat Islam masih tetap berada di bawah hegemoni Barat. Melalui apa yang dinamakan proses “pembangunan” (developmentalism) pasca kolonialisme hingga tahun 80-an, lalu dilanjutkan dengan “globalisasi” melalui neoliberalisme dari tahun 80-an hingga sekarang, Barat terus berusaha menancapkan pengaruhnya atas Dunia Islam. 

Karena sebab itulah, kendatipun sudah merdeka secara formal dari kolonialisme Barat, negara-negara berkembang di Dunia Islam belum mampu membangun “sistem pendidikan Islam” yang mandiri dan murni, yaitu yang mengacu pada peradabannya sendiri (Peradaban Islam). Pendidikan di Dunia Islam masih mengacu pada peradaban-peradaban lain di luar Islam (yaitu kapitalis atau sosialis).

Kurikulum yang beredar di sebagian besar negeri-negeri Islam sekarang ini merupakan produk kolonial murni. Maksudnya, pengetahun diajarkan dalam kerangka pemikiran dan perspektif sekular Barat. Sebuah sistem pendidikan Islam yang ideal, pertama-tama harus diletakkan lebih dahulu dalam posisinya sebagai pembentuk dan pelestari peradaban Islam. Untuk itu, diperlukan institusi negara yang relevan. Sebab hanya dengan institusi negara saja sebuah sistem pendidikan dapat diarahkan menuju misi yang dikehendaki. 

Termasuk di Indonesia, masih berada di bawah hegemoni Barat, yaitu terpenjara dalam negara demokrasi-sekular yang memisahkan agama (Islam) dari pengaturan kehidupan bernegara.Seperti sekarang, yaitu berada dalam negara demokrasi-sekular, pendidikan Islam memang problematis. Karena pendidikan Islam yang seharusnya menjadi pembentuk dan pelestari peradaban Islam, terpaksa berubah haluan menjadi pembentuk dan pelestari peradaban Barat.

Inilah fakta keras (hard fact) yang ada di hadapan kita, yang mau tak mau terpaksa harus kita akui. Dalam negara demokrasi-sekular saat ini, sistem pendidikan secara umum (termasuk pendidikan Islam), telah ditundukkan hanya untuk melayani kepentingan pasar (kapital), khususnya kepentingan kapitalisme global, bukan lagi diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan luhur dari pendidikan itu sendiri. 

Gagasan-gagasan pokok untuk sistem pendidikan Islam, Ada 4 (empat) hal pokok ;
 
(1) asas sistem pendidikan, 
(2) tujuan pendidikan, 
(3) metode pembelajaran, dan 
(4) kurikulum. Asas sistem pendidikan adalah Aqidah Islam, yang akan menjadi sumber (mashdar) bagi tsaqafah dan peradaban Islam dan sekaligus standar (miqyas) bagi berbagai pengetahuan yang dihasilkan nonmuslim seperti ilmu-ilmu sosial humaniora (humanistic-social sciences) dan ilmu-ilmu sains-teknologi (scientific-technological sciences).

Tujuan pendidikan ada 3 (tiga);
 
(1) Membentuk kepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyyah) bagi peserta didik, 
(2) Membekali peserta didik dengan ilmu-ilmu keislaman (tsaqafah islamiyyah), dan 
(3) Membekali peserta didik dengan ilmu-ilmu yang diperlukan dalam kehidupan, seperti sains dan teknologi. 

Pendidikan Islam merupakan instrumen strategis sebagai pembentuk dan pelestari peradaban Islam. Untuk itu, pendidikan Islam mengharuskan adanya institusi negara yang relevan, yaitu negara yang berdasarkan sistem Islam.

Hanya dalam negara yang berdasarkan sistem Islam saja, pendidikan Islam akan berada dalam jalur misinya yang benar, yaitu sebagai pembentuk dan pelestari peradaban Islam. Dalam sistem sekular ini, pendidikan Islam tidak akan mampu sepenuhnya menjadi pembentuk dan pelestari peradaban Islam, namun sebaliknya akan menjadi pembentuk dan pelestari peradaban Barat. 

Dengan ungkapan yang lebih tegas, pendidikan Islam dalam sistem demokrasi sekular saat ini, hanyalah instrumen imperialisme. Yaitu sekadar alat kapitalisme global untuk mewujudkan kepentingan pasar bagi kelestarian hegemoni Barat atas Dunia Islam. Wallahu a’lam. [VM]

Penulis : Hastuti Yubhar (Pengusaha, pemerhati masyarakat)