Tak terima Ulama dilecehkan, seorang Kyai karismatik asal Semarang angkat bicara

Iklan Semua Halaman

DUNIA ISLAM

Tak terima Ulama dilecehkan, seorang Kyai karismatik asal Semarang angkat bicara

Sabtu, 04 Februari 2017
Lemahireng.info --- Tak terima Ulama dilecehkan, seorang Kyai karismatik dari Semarang, Jawa Tengah angkat bicara. 

Beliau adalah mudhir pondok, Ma'had Al Madba Al Islamy, KH Nashrudin namanya. Beliau mengatakan, tanpa Ulama, manusia tak ubahnya seperti hewan. 



Tak mengerti cara beribadah, tak mengerti bagaimana jual beli yang benar dll. 

Dan secara tegas beliau menyampaikan bahwa tanpa ulama manusia akan menjadi hewan meskipun wujudnya manusia. [djnet]

Kriminalisasi Ulama : Siapa Menabur Angin, Dia Menuai Badai

Senada dengan Kyai Haji Nasrudin, Pengamat sosial Ainun Dawaun Nufus menilai bahwa fenomena pelecehan Ulama menjadi bukti bahwa Inilah demokrasi, inilah kapitalisme, inilah kegagalan rezim neolib. Tindak terhadap ulama tidak bisa dilepaskan dari dukungan negara-negara Barat terutama Amerika, yang terus memelihara antek-anteknya untuk menjamin kepentingan penjajahan.

Ini adalah realitas yang menyakitkan di Indonesia di hari-hari belakangan ini, dengan upaya sistematis untuk melawan umat dan ulama-nya, dan pressure yang keras terhadap umat, jadi apakah ini yang diinginkan oleh rezim yang berkuasa? Apakah mampu orang-orang dalam pemerintahan rezim ini membayangkan bahwa hal-hal itu akan menstabilkan mereka atau bahwa mereka akan mendapatkan ketenangan pikiran pada saat mereka menjadi musuh atas sebagian besar umat ?

Para ulama adalah wali Allah yang beriman kepada-Nya, senantiasa mendekat diri kepada-Nya dengan ketaatan dan amal shalih. Hidup dan mati mereka benar-benar diabdikan untuk Allah. Karenanya, siapa memusuhi para ulama, Allah nyatakan perang terhadap-Nya. Siapa yang diperangi Allah, pasti akan celaka dan binasa. Allah Ta’ala berfirman di hadits Qudsi :



“Siapa memusuhi wali-Ku maka Aku nyatakan perang terhadapnya.” (HR. Al-Bukhari)

Imam al-Nawawi Rahimahullah dalam “Al-Tibyan fii Aadab Hamalah Al-Qur’an” menukil perkataan Imam Abu Hanifah dan Imam al-Syafi’i Rahimahumallah, “Jika ulama bukan wali-wali Allah, maka tidak ada yang menjadi wali Allah.”

Makna ‘Aadaa (memusuhi) mencakup membenci, memusuhi, dan menyakiti dengan perkataan dan perbuatan. Masuk di dalamnya mengkriminalisasi ulama. Siapa yang berani berbuat demikian, Allah maklumatkan kepadanya akan memeranginya. Kata Ibnu Taimiyah, “Siapa yang diperangi Allah, pasti Allah menghancurkannya.”

Al-Hafidz Abul Qasim Ibnu ‘Asakir Rahimahullah -ulama besar adab 6 Hijriyah- menyatakan 

“Bahwasanya daging para ulama itu beracun.” (Tabyin Kadzbil Muftari: 29)

Beliau menyebutkan kebiasaan yang sering terjadi dan sudah maklum bahwa orang-orang yang merendahkan (menghinakan) ulama maka Allah akan bongkar boroknya. Dan sesungguhnya siapa yang gemar menfitnah ulama dengan lisannya maka Allah menghukumnya sebelum kematiannya dengan kematian hati.

Sudah saatnya bagi siapapun untuk memahami bahwa umat Islam, telah menginginkan tegaknya Islam, dan tidak akan menerima sebuah pengganti untuk Islam, dan bahwa mereka tidak akan pernah terintimidasi oleh tekanan atau bahkan kematian. dan bahwa pemerintahan Islam di bawah negara Khilafah adalah kerinduan mereka. 

Rezim saat ini harus melihat jalan ini secara serius untuk memahami bahwa mereka tidak punya pilihan selain berjuang di sisi umat dan hukum Syariah Allah SWT di dalam Negara Khilafah Rasyidin yang Kedua, dan pada hari itu semua akan senang berada di bawah naungannya, baik para penguasa maupun yang di bawah kekuasaannya, kaum Muslim dan non – Muslim.[hti]