Sekali Lagi Jangan ! Apakah anda termasuk yang Gagal Paham soal Khilafah ?

Iklan Semua Halaman

DUNIA ISLAM

Sekali Lagi Jangan ! Apakah anda termasuk yang Gagal Paham soal Khilafah ?

Jumat, 24 Februari 2017
Lemahireng.info --- Hati siapa tak pilu, melihat dan mendengar ungkapan penolakan Khilafah. Hati siapa yang tak gundah, Khilafah dituding sebagai ancaman, sumber radikalisme, dan monster yang menakutkan. Tiada itu semua terjadi, kecuali di masa kini tatkala lepasnya pemikiran politik Islam dalam benak kaum muslimin. Umat saat ini lebih silau bersama pemikiran politik sekular, semisal demokrasi. Silau akan kehebatan sosialisme, dalam tatanan komunisme. Sungguh ini merupakan bencana terbesar bagi umat Islam.


Polemik seputar Khilafah bukan kali ini saja. Banyak buku telah dikarang untuk menyembunyikan ide-ide besar ini. Sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh pula. Sepandai-pandai mereka menghinkan dan menyembunyikan ide Khilafah, akhirnya umat akan tahu pula. Merujuk pada rujukan yang sahih, dan melihat pengembannya yang salih dan gigih.

Berkali-kali, penjelasan Khilafah diulang-ulang. Agar umat itu mengenal kebenaran Khilafah. Sayangnya ada ‘oknum’ yang mencoba peruntungan dunia, demi memuaskan nafsunya. Penelitian demi penelitian, recehan demi recehan, hingga rekeningnya gendut dengan uang panas yang tidak berkah. Pikirannya pun dibuat kacau balau. Ke mana-mana dagangan pembusukan Khilafah. Sungguh, semua itu akan dicatat oleh Allah. Bersiaplah engkau mempertanggungjawabkan di akhirat kelak. Rugi dunya ora dadi opo, rugi akhirat bakal cilaka.

Jika manusia yang diberi akal oleh Allah mau memahami hakekat Khilafah. Maka faham salah itu tidak akan pernah ada. Salah faham masih bisa diluruskan dengan berjidal ahsan, namun jika faham salah apa mau dikata? Kebenaran meski sudah jelas pun tak akan berterima. Umat Islam sesungguhnya umat Muhammad. Ke mana-mana mengklaim sebagai pengikutnya yang taat. Giliran urusan politik dalam pemerintahan umat masih belum berkhidmat kepada Nabi Muhammad.

Bukankah Muhammad juga sebagai seorang Khalifah suatu negara? Beliau berkirim surat kepada kepala negara asing mengajak mereka masuk Islam. Aslim Taslam. Suatu contoh dalam hubungan politik internasional, yang tidak mungkin dilakukan oleh ketua RT atau kepala suku. Bukankah Muhammad juga komandan perang sekaligus Khalifah? Beliau memerintahkan umat Islam untuk terjun di medan laga demi menegakkan kemuliaan Islam. Suatu contoh mulia yang tidak mungkin orang yang tidak memiliki kekuasaan politik mampu mengerahkan pasukan.

Lantas, atas dasar apa menolak ide Khilafah dan menghinakan para pengembannya? Khilafahlah sesungguhnya perwujudan nyata contoh negara Rasulullah Saw. Jangan lantas menyamakan ide selain Islam, semisal demokrasi dan sosialisme itu seperti Islam. sungguh itu perumpamaan yang tidak wajar.

Jangan Gagal Paham

Bagi umat Islam di Indonesia, jangan lupa bahwa H. Sulaiman Rasyid (Rektor IAIN Lampung, w. 26 Januari 1976), menjelaskan al Khilafah ialah suatu susunan pemerintahan yang diatur menurut ajaran agama Islam, sebagaimana yang dibawa dan dijalankan oleh nabi Muhammad Saw semasa beliau hidup, dan kemudian dijalankan oleh Khulafaur Rasyidin. Kepala negaranya dinamakan ‘KHALIFAH”, (Fiqh Islam, hlm 494.)

Fiqh Islam karangan H Sulaiman Rasyid dijadikan rujukan dan kajian di banyak perguruan tinggi Islam dan sekolah-sekolah. Buku FIQH ISLAM ini merupakan pegangan wajib pada Perguruan Tinggi di Indonesia dan Malaysia. Sayangnya kajian itu tinggal kajian dan sekadar kepuasan intelektual. Akibatnya, sekadar teori dan tak mampu diaplikasi. Sadisnya ada yang memperolok-olokan istilah KHILAFAH. Berlepas dari pemahaman dan latar belakang keilmuannya.

Justru dengan kesadaran dan kecerdasan spiritual H. Sulaiman Rasyid (ulama’ Indonesia), menegaskan bahwa ” kaum muslim (ijma’ yang mu’tabar) telah bersepakat bahwa hukum mendirikan Khilafah itu adalah fardhu kifayah atas semua kaum muslim. (Fiqh Islam, hlm 495.)

Lantas atas dasar apa penolakan Khilafah begitu massif di negeri mayoritas muslim ini? Penolakan Khilafah sama saja tidak menghormati ulama’ Indonesia yang telah mumpuni dalam kajian fiqh Islam. Padahal ilmu itu lahir dari lisan para ulama’. Sadarilah bahwa KHILAFAH adalah ajaran Islam. Bukankah kita semua telah bersyahadat sehingga kita layak disebut sebagai seorang muslim?

Khilafah bukanlah perjuangan romantisme belaka. Penghadangan perjuangan penegakkan Khilafah sama halnya menunjukkan kegagalan intelektual. Sistem demokrasi, liberalisme, sosialisme, dan kapitalisme saat ini sudah terbukti sekadar janji dan penuh kemadharatan. Allah telah membukakan semua cela dan belangnya. Tiada pilihan lagi bagi orang yang masih sehat dan waras untuk menilik kembali Khilfah yang dinanti. Perjuangan ini bukan dengan duduk manis menunggunya datang. Perjuangan ini harus diusahakan dengan sekuat tenaga, meski para pembenci itu terus menerus ada.

Landasan ini berdasarkan sumber hukum Islam:

1) Al Quran
“Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu“. (QS. Al-Maaidah 48).

Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu (Al Maidah: 49)

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.(An Nisa’:59)

2) As Sunnah
“Siapa saja yang melepaskan ketaatan, maka ia akan bertemu Allah pada hari kiamat tanpa memiliki hujjah. Dan siapa saja yang meninggal sedang di pundaknya tidak ada baiat, maka ia mati seperti mati jahiliyah (dalam keadaan berdosa).” (HR. Muslim).

Dari Nu’man bin Basyir, dari Hudzaifah radhiyallahu ’anhu berkata: Rasulullah SAW bersabda:

“Akan ada fase kenabian di tengah-tengah kalian. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudian akan ada fase Khilafah berdasarkan metode kenabian. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudia akan ada fase penguasa yang zalim. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Lalu akan ada fase penguasa diktator. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Selanjutnya akan datang kembali Khilafah berdasarkan metode kenabian. Kemudian beliau SAW diam.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabarani)

3) Ijma’ sahabat
Setelah Rasulullah Saw wafat, sahabat lebih menyibukkan diri mengangkat khalifah (pengganti) beliau, padahal menguburkan jenazah setelah kematiannya adalah wajib. Sahabat menunda dulu pemakaman Beliau. Rasulullah Saw wafat pada dhuha hari Senin dan belum dikuburkan selama malam Selasa hingga Selasa siang saat Abu Bakar dibaiat. Kemudian jenazah rasulullah Saw dikuburkan pada tengah malam, malam Rabu. Jadi, penguburan jenazah Rasulullah Saw ditunda selama dua malam dan Abu Bakar dibaiat terlebih dahuluh sebelum penguburan jenazah.

Para sahabat seluruhnya juga telah berijma’ (sepakat) sepanjang kehidupan mereka mengenai kewajiban mengangkat khalifah. Meski mereka berbeda pendapat mengenai seorang yang dipilih sebagai khalifah, mereka tidak berbeda pendapat sama sekali atas kewajiban mengangkat khalifah, baik ketika Rasul Saw wafat maupun saat Khulafaur Rasyidin wafat. Walhasil, ijmak Sahabat merupakan dalil yang jelas dan kuat atas kewajiban mengangkat khalifah!

Oleh karena itu Khilafah merupakan seruan Islam. Bahkan mewujudkannya merupakan keberkahan bagi kehidupan. Karena khilafah merupakan institusi yang akan menerapkan syariah Islam secara kaffah. Sehingga Islam itu Rahmatan lil ‘Alamiin. Ya Allah, melalui tulisan ini kami telah sampaikan kepada umat Muhammad. Persaksikanlah karena hanya Engkau Yang Maha Melihat. Tunjukilah hidayah bagi saudara kami yang belum memahami makna dan arti Khilafah sejati. Sebaik-baik tempat meminta pertolongan hanya kepada-Mu.

Make Khilafah Great Again. Semua akan terdiam ketika menyaksikan fajar Khilafah itu betul-betul nyata. Kesudahan bagi orang-orang yang meragukan; dan ketundukan bagi negara adidaya dunia yang menjajah umat manusia. Khilafah akan tampil di depan, layaknya panglima yang menyeru pasukan di medan perang. Wallahua’lam bisshowwab.[visimuslim]

Senandung untuk Sahabat:

Kami tahu jalan yang hendak kami tempuh itu, sukar;
Banyak duri, onaknya dan lubang-lubangnya;
Jalan itu berbatu-batu, berlekak-lekuk, licin, dan jalan itu… belum dirintis!
Dan biarpun kami tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu,
Meskipun patah di tengah jalan, kami akan mati dengan merasa berbahagia;
Karena jalannya sudah terbuka dan kami ada turut membantu mengadakan jalan itu;
Biarkan kami tegak berdiri lantang bahwa Khilafah adalah pasti, bukan sekadar janji, kawan!

Penulis : Hanif Kristianto (Lajnah Siyasiyah-Dep. Politik-HTI Jawa Timur)