Wujud protes Tolak Kesepakatan Budak Seks Korea, Biksu ini Bakar Diri

Iklan Semua Halaman

DUNIA ISLAM

Wujud protes Tolak Kesepakatan Budak Seks Korea, Biksu ini Bakar Diri

Selasa, 10 Januari 2017
Lemahireng.info --- Seorang biksu Budha di Korea, Jung-won menolak kesepakatan yang dilakukan Presiden Park Geun-hye dengan pemerintahan Jepang pada 2015 . Aksi penolakannya tersebut dia lakukan dengan cara membakar diri.

Wujud protes Tolak Kesepakatan Budak Seks Korea, Biksu ini Bakar Diri
ilustrasi
Akibatnya, dia meninggal dunia pada Senin (9/1) waktu setempat di Rumah Sakit Seoul karena kegagalan organ akibat luka bakarnya.

Dalam kesepakatan itu, Presiden Park sepakat menerima Jepang yang ingin memberikan dana bantuan kepada wanita Korea yang dulu dipaksa menjadi budak seks saat Perang Dunia II. Atas kesepakatan tersebut Jung-won menyebut Presiden Park sebagai seorang pengkhianat. 

Jung-won memperjuangkan keadilan bagi perempuan. Dalam kesepakatan tersebut, dengan diberikannya kompensasi maka masalahnya selesai dan termaafkan. Padahal menurut dia tidak semudah itu. 

Komite keadilan sosial dari Jogye Order of Korean Buddhism mengatakan ia telah mengorbankan hidupnya untuk menyampaikan sentimen masyarakat, termasuk permintaan Presiden Park Geun-Hye untuk mengundurkan diri. 

"Kami berharap dengan adanya kehidupan yang hilang (korban jiwa) seperti ini, negara akan segera stabil," kata seorang juru bicara, dikutip dari BBC, Selasa (10/1).[republika]

Kisah pilu Ribuan Budak Seks di Korea Utara

Sebelumnya diberitakan kisah pilu gadis-gadis muda yang dipaksa menjadi penghibur dan pemuas nafsu pejabat Korea Utara ikut tersembunyi. Kisah-kisah tersebut terungkap setelah semakin banyak warga Korut yang berhasil keluar melarikan diri.

Gadis-gadis itu dipilih secara acak oleh para tentara, kadang dari teman sekelas mereka sendiri. Para tentara ini bahkan melakukan penyelidikan rinci apakah gadis-gadis itu masih perawan. Lebih dari puluhan dekade, gadis-gadis itu dipekerjakan  untuk melayani lingkaran elite militer Korea Utara. Mereka dikenal sebagai Gippeumjo atau pasukan kesenangan pemimpin.

Pasukan ini terdiri dari 2.000 gadis Korea Utara, dan mereka  dibagi menjadi tiga kelompok khusus. Pertama untuk melayani seksual, yang kedua memberikan pijatan, dan satu kelompok lagi untuk menyanyi dan menari, di mana mereka bisa diminta melakukannya semi telanjang. Dalam tembok Korea Utara, praktik ini sangat rahasia. 

Namun kisah ini  mulai diketahui dari pembelot yang lari ke China atau Korea Selatan.

Seperti diberitakan oleh News.com.au, Kamis, 28 April 2016, keluarga sang gadis tidak mengetahui ke mana mereka perginya, hanya diberitahukan bahwa mereka ikut andil dalam "proyek penting pemerintah." Sejak saat itu, para gadis tidak diizinkan untuk melihat bahkan berbicara pada keluarga terdekat mereka.

Budak Seks Korea
ilustrasi
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, dikabarkan juga ikut mencari "hiburan" ini untuk kesenangannya, sekitar enam bulan setelah kematian sang ayah.

Kisah ini diungkapkan juga  Mi Hyang, salah satu gadis yang berhasil lari ke Korea Selatan, setelah dua tahun "melayani" Kim Jong Il. Saat itu dia baru berusia 15 tahun, ketika dua pria berseragam tentara menyerobot masuk ke ruang kelasnya tanpa pemberitahuan apapun, dan mulai mencari ke seisi ruang kelas. 

Salah satu dari mereka kemudian menunjuk ke arahnya, dan meminta Mi Hyang untuk ikut dengan mereka. Menurut Mi Hyang, para tentara tersebut mencari informasi dengan rinci tentangnya, bahkan hingga sejarah keluarga dia.

Mi Hyang mengungkapkan, gadis terpilih harus memenuhi kriteria yang ketat. Mereka harus di bawah 165 sentimeter, bebas dari bekas luka dan kulit berminyak, memiliki suara yang lembut dan feminin. Dan keperawanan adalah hal yang sangat penting. Para perekrut bahkan menanyakan hal itu secara terang-terangan. 

"Saya merasa sangat malu untuk mendengar pertanyaan seperti itu,” ungkap Mi Hyang.

Setelah dipilih, mereka akan dikirim ke Hong Kong untuk mendapat pelatihan memijat, atau dikirim ke tempat lain untuk belajar menari dan menyanyi. Saat usia 22 hingga 25 tahun, mereka akan berhenti bertugas. Umumnya gadis-gadis ini akan diperistri oleh penjaga elite. Pada akhir tahun 2011, usai kematian Kim Jong Il, kelompok gadis ini dibubarkan dan diizinkan untuk kembali pada keluarga mereka.

Para pejabat pemerintah sangat ingin cerita ini tidak terungkap, sehingga mereka membayar setiap gadis sebesar Rp52 juta dan memberikan berbagai hadiah, agar mereka bersedia tutup mulut. Uang sebesar itu hampir dua kali penghasilan per tahun rata-rata keluarga di Korea Utara. (max/viva/riaurealita)

Patung 'Budak Seks' picu hubungan 2 negara tegang

Hubungan Jepang dan Korea Selatan tegang gara-gara peletakan patung budak seks (jugun ianfu) di luar kantor konsulat Jepang di kota Busan, Korea Selatan.

Seperti dilaporkan BBC, Jumat 6 Januari 2017, pemerintah Jepang telah menarik duta besarnya untuk sementara di Korea Selatan setelah Korsel memasang patung ianfu di depan kantor diplomat Jepang di Busan.

Isu ianfu selama ini sangat sensitif dan kedua belah pihak sebenarnya telah mengupayakan sejumlah perundingan untuk menuntaskan masalah budak seks atau perempuan yang dipaksa bekerja di rumah bordil Jepang pada masa Perang Dunia II.

Dilansir BBC, Korea Selatan sudah lama menyerukan kompensasi bagi para "perempuan penghibur", yang dipaksa bekerja di rumah bordil militer Jepang selama Perang Dunia II.

Namun, menurut Jepang, tuntutan tersebut merupakan pelanggaran terhadap perjanjian yang disepakati untuk menyelesaikan isu budak seks di era kolonial.

Dalam hal ini, Jepang mengatakan patung itu telah melanggar kesepakatan tahun 2015, yang menyatakan bahwa Jepang akan melakukan kompensasi.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada hari Jumat (6/1/2017) seperti dilaporkan BBC, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengatakan bahwa penting bagi kedua negara untuk melaksanakan kesepakatan.

Sebenarnya pada Desember 2015 Korea Selatan dan Jepang sudah mencapai kesepakatan. Dilansir Reuters, pemerintah Seoul saat itu akhirnya menerima permintaan maaf Tokyo atas kelakuan tentaranya di masa lalu yang memaksa sejumlah wanita Korsel untuk melayani kebutuhan seks para tentara Jepang di era Perang Dunia II.

Momentum pada akhir 2015 it sangat bersejarah karena untuk pertama kalinya Jepang menyatakan maaf kepada Korsel atas tindakan tentara mereka di masa lalu. Selama tujuh dekade, masalah tersebut telah mengganjal hubungan kedua negara.

Bahkan saat itu, Amerika Serikat yang merupakan sekutu dari kedua negara, menyambut baik tercapainya kesepakatan antara Korsel dan Jepang soal jugun ianfu. Otoritas AS mengatakan bahwa kesepakatan tersebut akan memperbaiki hubungan antara Jepang dan Korsel yang merupakan dua sekutu besarnya di Asia.

Apalagi, kata otoritas AS, Asia masih menghadapi sejumlah masalah, termasuk konflik Laut Tiongkok Selatan dan masalah Korea Utara. Oleh karena itu, butuh kekompakan di antara sekutu-sekutu AS untuk menghadapi sejumlah problem di Asia. 

Dalam hal ini, membaiknya hubungan Korsel dan Jepang akan membuat negara-negara Asia lebih mudah mengatasi ancaman yang mungkin datang dari Tiongkok dan Korut.[pikiranrakyat]