Inilah Kisah Penangkapan Senyap Patrialis Akbar di Grand Indonesia

Iklan Semua Halaman

DUNIA ISLAM

Inilah Kisah Penangkapan Senyap Patrialis Akbar di Grand Indonesia

Senin, 30 Januari 2017
Lemahireng.info --- Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Patrialis Akbar diciduk Komisi Pemberatasan Korupsi (KPK) pada Rabu (25/1) malam. Penangkapan itu dilakukan KPK secara sembunyi-sembunyi sehingga membuat pegawai dan juga pengunjung mal tidak memerhatikan.

KPK menangkap Patrialis di Central Departemen Store (CSD), Grand Indonesia (GI). Dalam penangkapan Patrialis tidak sendiri, melainkan bersama seorang wanita, yaitu Anggita Eka Putri yang sedang ditemaninya memilih beberapa kosmetik.

Inilah Kisah Penangkapan Senyap Patrialis Akbar di Grand Indonesia

Salah seorang pegawai di lokasi membenarkan adanya penangkapan tersebut. Hanya saja, pria yang enggan disebutkan namanya ini mengaku tidak tahu persis bagaimana proses penangkapan. Ia hanya mendengar cerita dari karyawan lain. 

"Iya katanya tanggal 25 itu ada penangkapan KPK di sini, cuma obrolan-obrolan karyawan saja sih saya juga tidak melihat langsung," ujar pria berkemeja hitam di GI, Jakarta Pusat, Ahad (29/1).

Menurut informasi yang dia dapat, Anggita dan Patrialis hanya mendatangi satu outlet make up yang berada di barisan depan CDS. Tidak berapa lama setelah berbelanja kosmetik penangkapan itu terjadi dengan singkat.

"Yang saya dengar cerita dari teman-teman yang masuk katanya dia cuma datang di satu tempat saja dan memang ada penangkapan itu tapi katanya enggak rame," ujar pria tersebut. 

Pada saat penangkapan tersebut kondisi CDS memang sedang ramai pengunjung, sehingga para pegawai tidak begitu memerhatikan siapa saja saja datang. Begitupun dengan Patrialis, apakah dia datang hanya dengan Anggita atau ada orang lain pada Rabu malam itu.

"Kurang tahu (berapa orang), soalnya kalau malam ramai jadi kita masing-masing, baru paginya mereka pada saling cerita kalau ada penangkapan KPK," ujar dia.

Republika mencoba mengunjungi outlet di mana Anggita dan Partrialis bersama, yaitu Lancome. Sayangnya pihak outlet ini enggan untuk memberikan komentar. 

Staf perempuan dengan rambut sebahu ini mengaku tidak tahu soal detail penangkapan. Bahkan dia mengaku tidak tahu di mana lokasi persis penangkapan tersebut.

Ia mengaku bahwa pada hari Rabu tersebut tengah piket pagi. "Saya tidak tahu mba, soalnya saya sift pagi dan sore udah balik," ujarnya di dampingi oleh seorang karyawan pria.

Senada dengan wanita berseragam hitam ini, petugas keamanan yang biasa berkeliling di east mal GI juga memilih bungkam. Dia mengaku enggan untuk memberikan keterangan lantaran pada saat kejadian dirinya tidak di lokasi.

"Ya kan saya selalu berkeliling, mungkin saja pada saat itu saya lagi di mal sebelah, kan GI luas mba," kata pria berinisial DF ini.

Berbeda dengan DF, satpam yang berjaga di pintu masuk dekat dengan lokasi kejadian CDS membenarkan adanya peristiwa tersebut. Namun, hal tersebut pun diketahui setelah penangkapan berlangsung. Pihak KPK tidak ada komunikasi dengan pihak keamanan GI.

"Kita aja abis itu dipanggil (komandan), ditanya ada yang tahu (rencana penangkapan) enggak, kita jawab enggak tahu," ujar pria berseragam biru ini.

Pantauan Republika.co.id, tempat perbelanjaan kosmetik di CDS memang penuh dengan berbagai pilihan merek. Harganya pun kisaran ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Di sana terdapat banyak pilihan jenis kosmetik, dari mulai bedak, lipstik, maskara, eyeliner, foundation, hingga minyak wangi. Para pengunjung yang datang ke outlet pun dari kalangan menengah ke atas. Baik sekadar melihat-lihat hingga membeli yang mereka butuhkan.

KPK menetapkan mantan menteri hukum dan HAM era presiden Susilo Bambang Yudoyono ini sebagai tersangka kasus suap uji materi UU 41 Tahun 2014 pada Kamis (26/1). Patrialis diduga menerima suap dari pemilik pengusaha impor daging dan jeroan PT Impexindo Pratama, Basuki Hariman. 

Basuki diduga telah memberikan uang sebesar 20 ribu dolar Amerika (setara Rp 270 juta) dan 200 dolar Singapura (Rp 1,95 miliar). Namun, uang tersebut tidak diberikan langsung oleh Basuki melainkan melalui perantara yakni pegawai swasta, Kamaludin.

Kamaludin dan Basuki pun diamankan di hari yang sama, para Rabu (25/1) pagi. Kamaludin di amankan di area golf Rawamangun, Jakarta Timur, sedangkan Basuki diamankan di kantornya, di Sunter, Jakarta Utara.

Selain tiga orang tersebut, diamankan juga NG Fenny yang merupakan sekretaris Basuki. Sedangkan tujuh orang lainnya berstatus sebagai saksi. 

Patrialisi membantah menerima uang dari Basuki. Ia mengaku merasa difitnah. Adapun Basuki juga mengaku tidak memberikan pada Patrialis melainkan pada Kamaludin. Kendati demikian KPK yakin akan adanya dugaan suap tersebut dan telah memiliki bukti yang kuat untuk menjerat menjadi tersangka.

"Ya tentu saja kita telah memiliki bukti indikasi uang tersebut sampai pada Patrialis (PAK). Dalam kasus ini PAK diduga menerima hadiah 20 ribu dolar AS dan janji 200 ribu dolar Singapura terkait dengan perkara judicial review UU 41 Tahun 2014 di MK. 

Indikasinya penerimaan uang dari BHR menggunakan perantara hingga sampai ke PAK," kata juru bicara KPK, Febri Diansyah, saat dikonfirmasi Republika.co.id di Jakarta, Ahad (29/1).[rol]