Fenomena Tradisi budaya syarat kemusyrikan yang merebak di masyarakat lokal

Iklan Semua Halaman

DUNIA ISLAM

Fenomena Tradisi budaya syarat kemusyrikan yang merebak di masyarakat lokal

Selasa, 03 Januari 2017
LemahirengMedia.info --- Kesenian  Kuda lumping atau sejenisnya biasanya ada pada warga yang melakukan hajatan (sunatan). Biasanya pula diramaikan dengan bunyi-bunyian terompet dan gendang. Sejak puluhan tahun silam atau mungkin lewat,memang tak pernah lepas dari sebuah tradisi. Yakni, upacara memandikan dan mengarak pengantin sunat atau anak yang akan dikhitan. 

Kuda Lumping biasanya disebut juga dengan jaran kepang, yaitu kuda-kudaan yang terbuat dari sesek bambu yang dinaiki orang yang lagi kesurupan. Kuda lumping yang asli terbuat dari kulit binatang seperti wayang kulit, hanya karena kulit binatang harganya mahal maka diganti dengan geribik (kulit bambu). 

Kuda lumping identik dengan kebiasaannya memakan beling dan melakukan aktifitas diluar nalar yang justru menghilangkan rasa malu. Kebiasaan itu menimbulkan pertanyaan dikalangan masyarakat yang kerap kali menyaksikan pertunjukkan kesenian tersebut. Kesenian tradisional ini berlangsung secara turun menurun.

Tradisi turun temurun

Tradisi ini diawali dengan pembacaan mantra penolak bala oleh salah seorang tetua desa. Agar prosesi khitanan berjalan lancar dan sang anak terhindar dari berbagai gangguan dari Batara Kala.

Sudah menjadi tradisi turun-menurun pula seorang bocah lelaki yang akan dikhitan diberi pendamping anak perempuan seusianya, layaknya sepasang calon mempelai. Kedua anak yang juga sering disebut pengantin sunat ini lantas dimandikan dengan air suci. Upacara ini dilakukan agar fisik dan batin si anak menjadi bersih, seputih beras yang dijadikan simbol.

Fenomena Tradisi budaya syarat kemusyrikan yang merebak di masyarakat lokal

Usai dimandikan, pasangan pengantin sunat ini diarak dengan jampana, yaitu kursi tandu yang dipanggul empat orang dewasa. Mereka memutari desa dengan diiringi musik bamplang untuk mengabarkan ke seluruh desa bahwa esok hari si anak akan menjalani salah satu ritual yang dianjurkan agama Islam, yakni khitanan. Dan sepanjang jalan yang dilalui, musik tak henti-hentinya ditabuh. Keramaian kuda lumping mencapai puncak ketika para pemain tampak kesurupan.

Dalam keadaan tanpa sadar, mereka melakukan hal-hal yang tak wajar. Semisal memakan ayam hidup-hidup atau beling (pecahan kaca). Cuma pawanglah yang nantinya dapat menghentikan segala atraksi tersebut, seperti hal memulainya. Para pemain kuda lumping dituntun untuk berbaring di atas tikar. 

Selanjutnya, pawang menyelimuti seluruh tubuh mereka dengan selembar kain. Setelah membacakan mantra, para pemain kuda lumping itu kembali sadar sediakala dan seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Awalnya, menurut sejarah, seni kuda lumping lahir sebagai simbolisasi bahwa rakyat juga memiliki kemampuan (kedigdayaan) dalam menghadapi musuh ataupun melawan kekuatan elite kerajaan yang memiliki bala tentara. Di samping, juga sebagai media menghadirkan hiburan yang murah-meriah namun fenomenal kepada rakyat banyak.

Kini, kesenian kuda lumping masih menjadi sebuah pertunjukan yang cukup membuat hati para penontonnya terpikat. Walaupun peninggalan budaya ini keberadaannya mulai bersaing ketat oleh masuknya budaya dan kesenian asing ke tanah air, tarian tersebut masih memperlihatkan daya tarik yang tinggi. 

Hingga saat ini, kita tidak tahu siapa atau kelompok masyarakat mana yang mencetuskan (menciptakan) kuda lumping pertama kali. Faktanya, kesenian kuda lumping dijumpai di banyak daerah dan masing-masing mengakui kesenian ini sebagai salah satu budaya tradisional mereka. 

Termasuk disinyalir beberapa tahun lalu, diakui juga oleh pihak masyarakat Johor di Malaysia sebagai miliknya di samping Reog Ponorogo. Fenomena mewabahnya seni kuda lumping di berbagai tempat, dengan berbagai ragam dan coraknya, dapat menjadi indikator bahwa seni budaya yang terkesan penuh magis ini kembali naik terdengar lagi, untuk kemudian dikembangkan dan dilestarikan kembali nilai-nilai kebudayaan Indonesia.

Sejarah Singkat awal mula Reog

Tari Reog, mungkin dari kita tidak mengetahui atau mengenal sejarah reog itu sendiri. Padahal Reog ponorogo amat kental akan ajaran Majapahit, dan kita ketahui Majapahit adalah kerajaan Hindu-Budha yang pernah berdiri di Nusantara sekitar tahun 1293 hingga 1500 M.

Dalam sejarah Reog, salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bhre Kertabhumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak rekan Cina rajanya dalam pemerintahan dan prilaku raja yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir.

Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan dimana ia mengajar anak-anak muda seni bela diri, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan lagi kerajaan Majapahit kelak.

Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan "sindiran" kepada Raja Bra Kertabumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.

Sedangkan versi lain, juga menjelaskan tentang pengaruh ajaran pagan dalam sejarah Reog. Adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun ditengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri.

Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujanganom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan ‘kerasukan’ saat mementaskan tariannya.

Islam memandang fakta Kuda Lumping

Kesenian Reog / Kuda Lumping dan Sejenisnya,di tinjau tujuannya jika dalam kesenian tersebut mengandung unsur mistik (mendatangkan roh halus), yang membuat pemeran menjadi tidak sadar (seperti orang gila),maka hukum permainan tersebut haram hukumnya. Dan jika sebaliknya bila tanpa adanya bantuan dari jin, setan atau sejenisnya maka hukumnya di perbolehkan. Sekali lagi kalau aktifitas ini murni hanya sebatas kesenian semata tanpa adanya unsur-unsur yang melanggar syariat maka hukumnya boleh atau mubah. Namun melihat fakta dilapangan kesenian rakyat ini sekarang sudah melenceng jauh dan sudah tercampur dengan aktifitas yang rawan kemusyrikan. 

Seharusnya permainan kuda lumping itu tidak dikontaminasi dengan unsur-unsur syirik. Permainan tersebut merupakan budaya masyarakat yang bisa menghibur dengan cara-cara yang tidak boleh melanggar syariat baik dari segi pakaian dan gerakan yang syar i. Seandainya ditambah alunan musik tetapi harus diperhatikan pula alunan musik seperti itu jangan sampai membuat kita lalai kepada mengingat allah swt.

Kerasukan

Permainan kuda lumping yang membuat pemainnya kerasukan merupakan perbuatan yang jatuh pada kemusyrikan sebab ritual yang ditempuh sebelum permainan kuda lumping dimulai adalah meminta bantuan pada arwah dan jin dengan memberikan sesaji dan sebagainya. 

Efek dari hal tersebut adalah orang-orang yang kerasukan dapat melakukan hal-hal yang berada diluar akal manusia, seperti dibacok kebal (tidak mempan), berjalan di atas api atau serpihan kaca tanpa terluka, ditusuk tidak tembus, dan lain sebagainya. Jelas-jelas hal tersebut merupakan perbuatan yang jauh dari ajaran tauhid sebab mengantungkan harapan pada selain Allah. 

Allah berfirman dalam al-Qur’an:

"Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, ..........." QS. Al-An'aam (6) 100

Kesimpulannya Manusia dan jin diciptakan hanya untuk menyembah Allah. Jin dan manusia sama sama tidak tau akan hal yang gaib dan meminta bantuan atau bergantung pada jin sama dengan minta bantuan atau bergantung pada manusia. 

Yang hakekatnya baik manusia dan jin sama-sama sebagai bahan api neraka. Na’udzubillahimindzalik.

Dari Abu Hurairah Ra berkata:“Rasulullah SAW bersabda: “Seorang muslim adalah saudara sesama muslim, tidak boleh menganiaya sesamanya, tidak boleh membiarkannya teraniaya dan tidak boleh merendahkannya. Taqwa (kepatuhan kepada Allah) itu letaknya disini….” 

Dan beliau mengisyaratkan ke dadanya. Perkataan ini diulanginya sampai tiga kali. ”Cukup besar kesalahan seseorang, apabila dia menghinakan (merendahkan) saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap sesame muslim, terlarang menumpahkan darahnya (membunuh atau melukai), merampas hartanya dan merusak kehormatannya (nama baiknya).”

Maka bagaimana mungkin kita mengapresiasi ajaran seperti ini bersamaan dengan status kita sebagai seorang mukmin. Padahal Allah jelas sekali memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menjauhi thaghut atau tuhan-tuhan Palsu yang akan melunturkan tauhid kita.

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus seorang Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan ): “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thaghut itu,” (QS An-Nahl 36)

“Sungguh, bila kamu berbuat syirik, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Az Zumar 65)

Jadi saudaraku, mengetahui bagaimana latar belakang dan faktanya sudah seharusnya kita mengambil sikap yang jelas sebagai seorang muslim. Seharusnya sikap kita adalah menjauhi aktifitas rawan kemusyrikan ini dan selamatkan keluarga kita, kerabat kita, masyarakat kita untuk tidak terjebak kepada fitnah kemusrikan yang dapat membatalkan keimanan kita sebagai umat Muhammad.

“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling darinya dan mereka berkata, ‘Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.’” (al-Qashash:55). (Muhammad Pizaro Novelan Tauhid)

Lebih baik isi hari kita kepada hal yang lebih bermanfaat lagi demi masa depan tauhid umat yang kian hari kian luntur. Allahua’lam

Source :
- http://islammodern-arman.blogspot.co.id/2010/01/hukum-debus-reog-kuda-lumping-dan.html
- https://www.eramuslim.com/konsultasi/konspirasi/sikap-kita-terhadap-reog-dan-tari-pendet.htm#.WGuXS9J95pg