Dunia Islam saat ini Masih Terjajah oleh Negara Imperialis!

Iklan Semua Halaman

DUNIA ISLAM

Dunia Islam saat ini Masih Terjajah oleh Negara Imperialis!

Minggu, 15 Januari 2017
Lemahireng.info --- Tidak banyak yang berubah dari wajah dunia Islam 2016 yang lalu. Dunia Islam masih diliputi catatan kelam di berbagai wilayah. Masih menjadi objek penjajahan negara-negara kapitalis di bawah komando Amerika Serikat. Umat Islam pun menjadi korban baik harta maupun jiwa. 

Apa yang terjadi di dunia Islam, tidak bisa dilepaskan dari kebijakan dan makar negara-negara imperialis ini yang memusuhi Islam. Tindakan mereka semakin mulus dengan adanya penguasa negeri-negeri Islam yang menjadi kaki tangan Barat. Dan semua itu dikokohkan dengan sistem kapitalisme sekuler yang diadopsi baik secara sadar ataupun terpaksa di negeri-negeri Islam. Beberapa peristiwa penting dunia Islam yang mencerminkan hal diatas antara lain :

Dunia Islam saat ini  Masih Terjajah oleh Negara Imperialis!

Krisis Suriah: Konspirasi Barat dan Pengkhianatan Penguasa Negeri Islam

Krisis berkepanjangan masih terjadi di Suriah. Ditandai dengan kejatuhan Halab ke tangan rezim Basyar Assad pada Desember 2016. Tidak hanya menyasar perumahan penduduk, jet-jet tempur Rusia menghancurleburkan sekolah-sekolah dan rumah-rumah sakit. Bukan hanya membunuh pasien-pasien yang seharusnya dirawat dan dilindungi, tetapi juga dokter dengan tugas sucinya. 

Diperkirakan saat akhir kejatuhan Aleppo, hanya terdapat 35 dokter yang tersisa di Aleppo Timur; satu orang untuk setiap 7.143 orang, dengan asumsi penduduknya berjumlah 250.000 orang. Ribuan orang telah terbunuh dalam pengepungan Aleppo ini

Hampir enam bulan, kota Halab atau Aleppo, dengan penduduk seperempat juta orang, dibombardir jet-jet tempur Rusia dan rezim buas Bashar. Mereka membakar kota dengan bom-bom barrel dan bom cluster yang berdaya rusak mengerikan. Bom itu berisi bom-bom kecil yang meledak dan terbakar di wilayah yang luas, sehingga membakar kota, nyaris tanpa tersisa.

Semua ini melengkapi lebih dari 400ribu rakyat Suriah yang terbunuh akibat keganasan rezim Basyar. Seperti yang diberitakan the Guardian, mengutip Pusat Penelitian Kebijakan Suriah Dalam lima tahun Konflik Suriah 400 ribu warga Suriah telah terbunuh akibat perang, 70 ribu lainnya terbunuh akibat ketiadaan sarana kebutuhan dasar seperti air bersih dan kesehatan. Yang terluka diperkirakan mencapai 11 persen populasi, sekitar 1,9 juta orang. Harapan hidup pun menurun dari 70 pada tahun 2010 menjadi 55,4 pada tahun 2015. Kerugian ekonomi secara keseluruhan akibat konflik diperkirakan mencapai USD 255 miliar. Pengungsi Suriah yang hidup di tenda-tenda yang menyedihkan diperkirakan mencapai 4 juta orang.

Apa yang tejadi di Suriah tidak bisa dilepaskan dari kekhawatiran Amerika berdirinya negara Khilafah di Suriah. Revolusi Suriah berbeda dengan Arab Spring, rakyat Bukan hanya menuntut pergantian rezim tapi juga sistem, merekapun menuntut penerapan syariah Islam dan Khilafah. Mereka juga menolak tawaran Demokrasi Sekuler. Kebijakan asasi utama Amerika adalah tetap mempertahankan Suriah menjadi negara sekuler, mencegah berdirinya negara Khilafah yang mengancam kepentingan penjajahan Barat. Untuk itu Amerika mempertahankan Bashar Assad sampai ada pengganti yang bisa dikendalikan.

Setelah berbagai manuver dilakukan namun gagal, Bashar Assad dan Rusia dengan berkordinasi dengan Amerika menjalankan strategi tunduk atau dihancurleburkan (bumi hangus). Mereka berharap wilayah-wilayah yang dianggap tidak sejalan dengan agenda Amerika tunduk akan tunduk. Sehingga dukungan rakyat terhadap pasukan perlawanan anti Barat akan berkurang. Kelompok-kelompok perlawanan pun akan mau diseret ke meja perundingan untuk menyetujui agenda-agenda Amerika untuk Suriah.

Semua ini dalam kordinasi dengan Amerika untuk memuluskan agenda politik negara imperialis itu. Aleppo atau Halab adalah salah satu diantaranya. Amerika menggunakan tangan Rusia untuk membombardir Halab. Kejatuhan Aleppo ke tangan rezim bukanlah karena kekuatan pasukan rezim, akan tetapi persekongkolan para konspirator sesuai rencana yang disepakati antara Russia dan Turki dengan supervisi dari Amerika.

Pendalaman lihat :




Serbuan ke Mosul, Upaya Memecah Belah Irak

Terkait dengan Irak, salah satu peristiwa penting pada 2016, adalah upaya merebut kembali daerah Mosul dari ISIS. Pada 17 Oktober 2016 telah diumumkan dimulainya pertempuran untuk merebut kembali Mosul. Pertempuran yang terjadi saat ini tidak bisa dilepaskan dari rangkaian episode untuk memecah belah Irak berdasarkan basis sektarian: wilayah sunni, syiah dan Kurdi. Ini adalah rencana lama Amerika yang sudah dirancang bahkan sebelum penduduk Irak dilakukan. Rancangan jahat ini sudah dimulai sejak Amerika menetapkan zona larangan terbang di utara Irak tahun 1991. Dengan itu, wilayah Kurdistan menjadi mirip negara (quasi-state). Saat Amerika menduduki Irak tahun 2003, Bremer menetapkan rezim Irak asas sektarian.

Amerikapun mengandalkan al-Maliki dengan sifat sektariannya. Amerika menggunakannya untuk memprovokasi Sunni guna menciptakan permusuhan antara Sunni dan Syiah. Amerika memanfaatkan pandangan ISIS terhadap Syiah dan mempermudah masuknya ISIS ke Mosul untuk meningkatkan keretakan di antara kedua kelompok (Sunni dan Syiah). ISIS juga dimanfaatkan Amerika mendeklarasikan khilafah setelah masuk ke Mosul. 

Maka Amerika memblow up aksi-aksi ISIS dalam bentuk pembunuhan, pembakaran dan pengusiran warga sipil dan Amerika berusaha mengaitkan aksi-aksi ini dengan khilafah.Akan tetapi, Allah menggagalkan aksi-aksi mereka. Masyarakat pun tahu bahwa Khilafah al-Baghdadi tidak lain hanyalah senda gurau (nonsense).

Pendalaman lihat :


Perang Proxy di Yaman, Korbankan Rakyat Sipil

Lebih dari satu tahun sudah konflik di Yaman pecah. Sejak Maret 2015 hingga saat ini, sedikitnya 10 ribu orang tewas dalam perang Yaman. Angka tersebut jauh melebihi perkiraan semula mengenai jumlah korban tewas, yakni 6.000 orang. Fakta itu diungkapkan Koordinator Bantuan Kemanusiaan PBB Jamie McGoldrick dalam sebuah konferensi pers di Sanaa. Angka tersebut diperolehnya berdasarkan informasi resmi dari fasilitas medis yang berada di Yaman.

Konflik Yaman yang telah berlangsung selama 18 bulan juga menyebabkan tiga juta orang mengungsi dari rumahnya. Konflik juga memaksa 200 ribu orang mencari suaka politik di luar negeri. PBB mendapat informasi bahwa 900 ribu dari tiga juta orang itu ingin kembali ke rumah mereka. “Ini adalah tantangan yang sulit, terutama di sejumlah area yang masih terdampak konflik Yaman,” ujar McGoldrick, sebagaimana dilansir Reuters, Selasa (30/8/2016). Sebanyak 14 juta dari 26 juta penduduk Yaman kini memerlukan bantuan makanan. Bahkan, tujuh juta di antaranya menderita krisis bahan pangan.

Lagi-lagi apa yang terjadi di Yaman tidak bisa dilepaskan dari peran Amerika dan Inggris. Yang sesungguhnya terjadi di Yaman adalah perang proxy, antara pengikut Amerika dan Inggris. Sejak lama Amerika ingin merebut pengaruh Inggris di Yaman, kalaupun tidak bisa sepenuhnya, paling tidak memperlemah. 

Untuk itu Amerika menggunakan Houthi dan pengikutnya yang didukung Iran. Sementara Inggris bermain dengan pengikut setianya Hadi dan Saleh dan kelompok-kelompok pendukungnya. Sementara itu keterlibatan Saudi dalam perang ini, tidak lain untuk memuluskan kepentingan Amerika untuk menciptakan kondisi di mana keduabelah yang bertikai , harus menerima jalan kompromi. Jalan yang akan dikendalikan Amerika Serikat.

Pendalaman lihat :



Muslim Rohingya, Menderita Tanpa Pembela

Umat Islam di wilayah Rakhine atau Arakan, Burma, sebagaimana juga diakui oleh Amnesty Internasional, hingga saat ini terus menghadapi berbagai aksi kekerasan dan pembunuhan massal oleh para ekstrimis Budha dengan disaksikan sendiri oleh pihak pemerintah Burma.Umat Islam Rohingya yang sejatinya telah tinggal di wilayah Rakhine atau Arakan sejak abad ke 8, kini tidak punya negara atau stateless.

Pemerintah Burma terus melakukan tindakan dzalim: membatasi gerak muslim Rohingya, tidak memberi hak atas tanah, pendidikan dan layanan publik. Badan pengungsi PBB, UNHCR, menyebut, akibat penyerangan yang terus terjadi, puluhan ribu kaum Muslim tewas, ratusan ribuan lagi terpaksa lari ke berbagai wilayah seperti Bangladesh, Malaysia atau Thailand dan Indonesia. 

Mereka, “manusia perahu”, terkatung di lautan mencari suaka ke negeri yang aman, namun tetap kembali terusir, seolah tak ada bagian di bumi ini untuk berlindung. Menurut UNHCR, sekitar satu juta orang muslim Rohingya kini terpaksa hidup di luar Myanmar, tapi belum ada negara ketiga yang bersedia menerima mereka secara permanen. 

Dengan semua kebijakannya itu, tak dapat ditutupi, pemerintah Burma memang berniat untuk menghabisi muslim Rohingya (muslim cleansing). Negara yang disana ada peraih nobel perdamaian, yang mestinya melindungi, justru menyebut mereka “A threat national security”.

Pada 9 Oktober 2016 Distrik Maungdauw Utara Provinsi Rakhine, sekelompok orang menyerang 3 pos polisi di Tatmadaw. Pemerintah secara serta merta menuduh militan Rohingya bertanggungjawab dalam serangan itu. Jam malam dan operasi militer diberlakukan sebagai responnya. Akibatnya, lebih 200 orang tewas dalam operasi militer selama 2 pekan. 

Human Right Watch melaporkan pembumihangusan pemukiman Rohingya kembali terjadi. Pembakaran diikuti makin gencarnya operasi militer kepada sipil Rohingya, dengan alasan memerangi ekstremis. 30.000 orang mengungsi bahkan meregang nyawa. Akses bantuan dan pergerakan luar dibatasi oleh rezim bengis ini. Kemana lagi saudara muslim kita dapat berlindung? Sementara penguasa negeri muslim seperti bungkam dan tidak berbuat apa-apa.

Kenyataan di atas tentu amat memilukan. Muslim Rohingya adalah bagian tak terpisahkan dari umat Islam dunia yang saat ini berjumlah lebih dari 1,6 miliar orang. Bagaimana mungkin umat Islam yang demikian banyak itu tidak mampu melindungi saudaranya yang sedang teraniaya hebat. 

Dimana izzah atau kemuliaan umat? 

Fakta ini, bersama dengan penderitaan serupa yang dialami oleh umat Islam di Pattani, Thailand Selatan, Moro, Philipina Selatan serta Irak, Afghanistan dan Palestina, menunjukkan satu hal: umat Islam lemah tak berdaya setelah payung dunia Islam, daulah Khilafah, runtuh pada 1924.

Muslim Turkistan Timur (Xianjiang) Terus Diteror Rezim Komunis China

Nasim Muslim di wilayah Turkistan Timur (Xianjiang) yang diduduki China masih menyedihkan. Bukan saja mendapatkan prilaku brutal seperti penangkapan, penyiksaan, dengan tuduhan teroris, umat Islam juga dipersulit menjalankan ibadah mereka. Rezim komunis China ini melarang pegawai negeri, anak-anak pelajar , mahasiswa untuk menunaikan ibadah berpuasa di bulan ramadhan. 

Pada bulan juni 2016, sebuah situs web yang dikelola biro pendidikan di wilayah Shuimogou ibukota Urumqi, memposting pengumuman menyerukan agar mencegah para siswa dan guru dari semua sekolah untuk memasuki masjid dan mengikuti kegiatan keagaman selam bulan ramadhan. Masjid-masjid pun diawasi secara ketat. Ibadah haji pun diperketat.

Rezim komunis Cina ini berusaha mencabut identitas Islam dari muslim Xianjiang. Mereka melarang muslimah yang berpakaian sesuai syariat Islam dan pria muslim berjenggot untuk naik bis-bis umum. Tahun lalu pemerintah Cina memaksa imam di Xinjiang menari di jalanan dan bersumpah tidak akan mengajarkan agama yang membahayakan jiwa anak-anak. Seluruh imam di Xinjiang dikumpulkan di lapangan dan dipaksa menari dan bernyanyii sambil mengayunkan pamflet bertuliskan “Pendapatan kami berasal dari Partai Komunis Cina bukan dari Allah”.

Untuk memperlemah umat Islam di Xianjiang, pemerintah China disamping melakukan penangkapan dan penyiksaan , juga melakukan kejahatan demografis dengan mengerahkan imigran suka Han ke Turkistan Timur. Sementara itu, wanita muslim dipaksa untuk melakukan aborsi untuk menekan pertambahan penduduk dari muslim. Suku Han inilah yang kini mendominasi segala aspek di sana, yang menimbulkan persaingan merebutkan air dan sumber alam di daerah-daerah dan pekerjaan di perkotaan.

Dalam laporannya, Amnesty International menyebutkan di sektor pertanian, petani Uyghur bertambah miskin karena kebijakan pemerintah. Diperparah lagi dengan dengan kenaikan pajak dan praktik-praktik yang diskriminatif serta korup. Di beberapa daerah, para petani Uyghur terpaksa menjual hasil panen mereka melalui instansi pemerintah yang membelinya dengan harga yang terlampau murah ketimbang di pasar. Sementara itu petani Han dibolehkan berdagang tanpa kesulitan yang berarti dari pemerintah. Hingga saat ini perhatian dunia terhada derita umat Islam di sana sangatlah minim, termasuk dari dunia Islam.

Nasib umat Islam di wilayah-wilayah lain juga tidak kalah menyedihkannya. Di Asia Tengah, umat Islam harus menghadapi rezim-rezim eks komunis anti Islam yang sangat represif. Ribuan aktifis-aktifis Islam di kawasan ini, dipenjara, ditangkap hingga dibunuh, tanpa proses pengadilan yang obyektif. Seperti biasa, tuduhan teroris selalu dipakai, meskipun para aktifis Islam tidak menggunakan senjata dalam perjuangannya.

Kematian sang penjagal Karimov di Uzbekistan pada September 2016, tidak menghentikan kejahatan penguasa yang melanjutkan kebengisannya. Tentang kejahatan Karimov ini, Human Rights Watch mengatakan: “Presiden otoriter Uzbekistan, Karimov, yang dilaporkan meninggal pada 2 September 2016, meninggalkan warisan penindasan (represif) politik dan agama. 

Selama pemerintahan Karimov, yang berlangsung lebih dari 26 tahun, pihak berwenang telah menangkap ribuan orang atas tuduhan yang bermotif politik, menyiksa mereka secara rutin di penjara dan kantor polisi, dan memaksa jutaan warga, termasuk anak-anak memetik kapas dalam kondisi yang kejam. Pasukan pemerintah Uzbekistan membunuh ratusan demonstran damai di kota Andijan pada 13 Mei 2005, dimana tidak seorang pun yang diberikan keadilan. 

Saat ini ada 6 ribu aktivis Hizbut Tahrir di penjara-penjara Uzbekistan, yang belum dibebaskan hingga ini. Rezim Asia Tengah lainya, rezim Kazakhtan yang mewarisi kejahatan ala komunis, tidak kalah anti Islamnya. Mereka melarang penggunaan hijab oleh pelajar muslimah dengan alasan mengancam sekulerisme.

Hingga saat ini, Palestina, Pakistan, Afghanistan, dan beberapa wilayah negeri Islam lainnya masih dijajah. Di sisi lain, umat Islam di negara-negara Eropa, yang menjadi minoritas, harus menghadapi serangan akibat Islamophobia semakin meningkat. Yang menjadi korbannya adalah para muslimah yang menggunakan hijab, laki-laki muslim, termasuk masjid-masjid yang dibakar atau dilempari kotoran.

Terkait dengan apa yang terjadi pada tubuh umat Islam, Ismail Yusanto juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia, menegaskan bahwa umat Islam di seluruh dunia amat menantikan kehadiran kembali Khilafah Rasyidah yang akan menyatukan umat Islam dengan persatuan yang hakiki, lalu dengan kekuatan itu membebaskan negeri-negeri muslim dan melindungi warganya, termasuk di Suriah, dan negeri-negeri lainnya, dari penguasa yang dzalim.

“Khilafahlah yang akan menerapkan syaria secara kaffah sedemikian sehingga Islam rahmatan lil alamin bisa terwujud secara nyata. Oleh karena itu, umat Islam terus berjuang bahu membahu bagi tegaknya kembali al khilafah itu,” tegasnya. [HTI] Farid Wadjdi