Ada Tiga point terkait Penghinaan Australia yang membuat TNI Marah

LemahirengMedia.info --- Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana mengatakan, tindakan Panglima TNI untuk menangguhkan sementara kerja sama militer dengan Australian Defence Force (ADF) adalah langkah yang tepat.

"Ini menanggapi insiden di pusat pendidikan pasukan khusus Australia atas tiga hal," ujar Hikmahanto Juwana di Jakarta, Rabu (4/1).

Pertama, pendiskreditan peran Sarwo Edhie dalam Gerakan 30 September PKI. Kedua, esai yang ditulis peserta didik terkait masalah Papua. Ketiga, tulisan Pancasila di ruang Kepala Sekolah yang seolah melecehkan ideologi Pancasila.

Ia menegaskan, penangguhan kerja sama merupakan tindakan yang tepat karena Panglima ADF menjanjikan untuk melakukan investigasi atas hal ini. Penangguhan dilakukan selama investigasi berlangsung hingga hasil nantinya diumumkan.

"Kemungkinan hasil investigasi adalah kesalahan dilakukan oleh oknum personel militer ADF dan bukan merupakan sikap resmi dari ADF, bahkan sikap resmi pemerintah Australia," ujar dia.

Atas tindakan oknum personil tersebut, ADF akan menyatakan akan mengambil tindakan terhadap mereka yang bertanggung jawab.

Ada Tiga Penghinaan Australia yang membuat TNI Marah
Perwakilan Australian Defence Force meninjau persenjataan TNI di PT Pindad
Ia mengatakan, hasil investigasi akan menyelamatkan kerja sama militer TNI dan ADF. ADF dan Pemerintah Australia lebih mengutamakan hubungan baik dengan Indonesia ketimbang melindungi personel milternya.

"Peristiwa ini bagi Indonesia menjadi preseden yang baik agar Australia melalui pejabat-pejabatnya tidak mudah melakukan tindakan pelecehan terhadap tokoh Indonesia ataupun merendahkan isu yang sensitif bagi Indonesia," kata dia.


Indonesia Hentikan Kerjasama Militer, Australia Sudah Kirim Surat Penjelasan


Materi yang dianggap ‘merendahkan’ mengenai Papua Barat yang dipajang di markas pasukan komando Australia (Special Air Service) telah membuat Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) menghentikan kerjasama militer. Keputusan ini menyebabkan masa depan agenda latihan militer gabungan Indonesia - Australia menjadi tidak pasti.

Kepala Angkatan Pertahanan Australia Marsekal Udara Mark Binskin telah menulis surat kepada mitra kerjanya di Indonesia mengenai material yang dianggap merendahkan militer Indonesia.

Supplied: Department of Defence
ABC berhasil mendapatkan konfirmasi bahwa seorang aparat Indonesia telah mengeluhkan mengenai poster pelatihan yang bernada ‘merendahkan’ di markas besar pasukan khusus Australia (SAS) di Perth pada November tahun lalu, yang telah memicu pemimpin Pertahanan Australia berusaha keras untuk untuk menjaga agar hubungan dengan mitra kerja mereka di Jakarta tetap baik.

Juru bicara TNI Mayor Jenderal Wuryanto mengatakan kepada ABC bahwa kerjasama militer antara TNI dengan Angkatan Bersenjata Australia dihentikan segera.

Pasukan komando Indonesia, Kopassus sedang berlatih dengan pasukan komando Australia (Special Air Service) di salah satu unit mereka di Campbell Barrack di Perth (Australia Barat).

Mayjen Wuryanto menolak memberikan pengukuhan mengenai alasan penghentian kerjasama, dengan mengatakan ini adalah masalah teknis, dan selalu ada 'pasang surut dalam setiap kerjasama antar militer kedua negara."

Sejumlah sumber ABC yang mengetahui insiden ini telah memastikan kalau ‘material yang dilaminating’ tersebut berkaitan dengan Papua Barat, salah satu propinsi di Indonesia yang berusaha untuk memerdekakan diri dari Jakarta.

Menteri Pertahanan Marise Payne memastikan keluhan ini berkenaan dengan “material pengajaran dan komentar” di fasilitas pelatihan bahasa militer di Australia, dan menyebabkan sejumlah kerjasama militer dengan Indonesia sekarang dihentikan.

“Indonesia telah memberitahukan Australia kalau kerjasama pertahanan akan ditangguhkan," kata Senator Payne dalam sebuah pernyataan.

"Sebagai akibatnya, beberapa interaksi antara kedua organisasi Pertahanan telah ditunda sampai masalah ini diselesaikan. Kerjasama di bidang-bidang lain akan tetap berjalan."

Menteri Pertahanan mengatakan Australia telah berkomitmen "untuk membangun hubungan Pertahanan yang kuat dengan Indonesia" dan akan "bekerja sama dengan Indonesia untuk mengembalikan kerjasama penuh [diantara kedua negara] sesegera mungkin”.

Australia menulis surat ke Indonesia mengenai material tersebut

Instruktur yang merasa terhina adalah anggota dari Korps Pasukan Khusus (Kopassus). 
Menurut laporan yang diperoleh ABC, pada tanggal 23 November tahun 2016 lalu, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Australia (ADF), Marsekal Udara Mark Binskin telah menulis surat kepada mitra kerjanya di Indonesia mengenai material yang dinilai merendahkan tersebut.

Seorang sumber diplomatik yang mengetahui korespondensi ini mengatakan Kepala Angkatan Pertahanan Australia dalam suratnya tersebut memastikan militer Indonesia kalau material yang merendahkan yang dipajang di perth tidak merefleksikan pandangan dari Angkatan Pertahanan Australia ADF), dan material itu merupakan insiden yang terpisah.

Kepala Angkatan Darat Australia Letnan Jenderel Angus Campbell juga telah menulis surat kepada mitra Indonesia pada tanggal 24 November 2016 untuk memastikan kalau Australia tidak mendukung material itu.

Angkatan Pertahanan Australia belum menjawab pertanyaan ABC, tapi sejumlah pejabat tinggi mengaku terkejut atas komentar dari militer Indonesia.

Masa depan latihan gabungan AL Australia – Indonesia belum jelas

Indonesia dan Australia direncanakan akan berpartisipasi dalam latihan militer Angkatan Laut multinasional pada bulan Februari 2017 mendatang.

ABC News: Nadia Daly
Hingga kini belum dapat dipastikan berapa lama penangguhan ini akan berlaku atau apakah penangguhan ini akan mempengaruhi agenda latihan gabungan antara militer Indonesia dan Australia.

Menurut rencana Angkatan Laut Indonesia dan Australia akan berpartisipasi dalam latihan gabungan multinasional pada Bulan Februari mendatang. 

Juru bicara Angkatan Laut Indonesia mengatakan dirinya baru mengetahui penyataan Panglima Militer mengenai penangguhan kerjasama militer Indonesia dengan Australia.

“Apakah agenda latihan gabungan ini akan dilanjutkan atau tidak, saya akan memberitahukan anda lebih lanjut,” kata Laksamana Pertama Jonias Mozes Sipasulta. 

“Saya perlu mendapatkan keterangan lebih rinci terlebih dahulu. Kami biasanya tidak menangguhkan kerjasama dalam bentuk pendidikan dan pelatihan tapi sekarang saya mendengat kita telah menangguhkan seluruh bentuk kerjasama.”

Hingga insiden ini terjadi hubungan militer antara kedua negara terus meningkat. 
Kerjasama militer antara kedua negara terakhir kali ditangguhkan pada tahun 2013 menyusul terungkapnya skandal penyadapan telepon.

Dokumen yang didapatkan ABC dan Guardian Australia mengungkapkan pada tahun 2009, intelejen Australia berusaha melakukan penyadapan telepon milik mantan Presiden Indonesia ketika itu Susilo Bambang Yudhoyono.

Source : [australiaplus][Republika]

No comments

Copyright © . Lemahireng Info All Right Reserved - KabarIslam | Berita Panas | Info Cerdas | Viral News | Nasional Hot | Tips Sehat | Updatechno | Breaking .
Powered by Blogger.
close