Tips Jitu Agar Keluarga Tak Larut Dalam Perayaan Malam Tahun Baru Masehi -->

Iklan Semua Halaman

DUNIA ISLAM

Tips Jitu Agar Keluarga Tak Larut Dalam Perayaan Malam Tahun Baru Masehi

Kamis, 29 Desember 2016
LemahirengMedia.info --- Terompet dan kembang api, dua hal yang tak bisa dipisahkan dari kemeriahan pesta tahun baru. Begitu waktu memasuki pukul 00.00, aneka bentuk kembang api, dengan suara riuh, seketika akan menghiasi langit. 


Diiringi bunyi terompet yang ditiup bersamaan, kembang api pun menjadi tontonan gratis yang memukau. Tak jarang seorang muslim, yang telah faham larangan merayakan pesta tahun baru pun, larut dalam menikmatinya. 

Bahkan dia bersama keluarga; istri dan anak-anaknya menyengaja melambatkan tidur mereka, demi menyaksikan keindahan kembang api di angkasa dan menikmati keriuhan suara terompetnya. Pertanyaannya, bolehkah seorang muslim menikmati kemeriahan pesta tahun baru?

Jawabnya tidak boleh, berdasarkan firman Allah SWT :

“...Dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berguna, mereka lalui (saja) seraya menjaga kehormatan dirinya.” T.Q.S al-Furqon (25) : 72

Meski dalam bentuk kalimat berita, namun ayat ini mengandung perintah. Yaitu perintah untuk segera berlalu ketika kita melewati sekelompok orang yang tengah melakukan kemaksiyatan. 

Seperti ketika kita bertemu sekelompok orang kafir yang tengah menjalankan ibadahnya; bertemu sekelompok umat Hindu yang tengah mengarak sesaji misalnya, atau bertemu sekelompok umat kristiani yang tengah mengadakan misa keagamaan dll. 

Perintah segera berlalu berarti larangan berlama-lama menyaksikan ritual tersebut. 

Bagaimana dengan perayaan tahun baru? Tahun baru adalah bagian dari tradisi umat kristiani. Dalam keyakinan mereka, al-Masih adalah Tuhan. 

Kelahirannya dirayakan pada 25 Desember, dan awal bulan setelahnya dianggap sebagai tahun baru masehi.  Dengan demikian, perayaan tahun baru masehi sangat erat kaitannya dengan keyakinan dalam aqidah mereka.

Dengan demikian, jangankan untuk terlibat pesta, bertemu sekelompok mereka yang tengah merayakannya saja, kita diperintahkan Allah untuk segera berlalu. Termasuk segera berlalu dari kemeriahan pesta kembang api dan terompetnya.

BAGAIMANA DENGAN ANAK-ANAK KITA?

Berdasarkan tingkat nalarnya, anak-anak dikelompokkan dalam dua golongan. Pertama anak usia7 tahun ke atas. Pada usia ini, seorang anak telah mampu menalar dengan baik. 

Sehingga kepada mereka kita harus menjelaskan secara lengkap ketidak bolehan perayaan tahun baru beserta dalil-dalilnya. Juga penjelasan tentang keharaman menggunakan berbagai atribut yang menyerupai orang kafir. 

Lalu, bila mereka melanggar; misalnya tanpa sepengetahuan kita membeli terompet, maka kita harus memberi peringatan keras seraya mengambil terompet itu darinya. 

Berbeda dengan anak-anak dibawah usia 7 tahun. Kemampuan nalarnya sedang tumbuh, dan belum berjalan optimal. Sehingga penjelasan yang diberikan kepada mereka haruslah penjelasan sederhana. 

Misalnya terkait terompet, kita bisa katakan bahwa terompet itu adalah terompet orang kafir. Anak muslim tidak meniup terompetnya orang kafir. 

Lalu, bila ia mendapatkan terompet (misalnya pemberian tetangga) lalu meniupnya dengan bangga. Sikap yang sebaiknya kita lakukan adalah mengalihkannya. Caranya, katakan kepada anak kita bahwa umi dan abi tidak meniup terompet orang kafir, karena umi dan abi seorang muslim. 

Lalu ‘cuekin’ anak kita dengan mainan terompetnya.  Selanjutnya, buatlah mainan tandingan yang lebih seru agar anak berpaling pada kita dan meninggalkan terompetnya.  

Saat anak lengah dan meninggalkan terompetnya itulah, kita dapat segera menyingkirkan jauh-jauh terompet tersebut dari jangkauannya.

Terakhir, di malam tahun baru, mohonlah kepada Allah dalam do’a agar anak-anak kita ditimpa kantuk yang sangat berat dan tidur yang sangat nyenyak hingga telinganya tak mendengar keriuhan pesta.

Inilah upaya yang bisa kita lakukan agar kita dan keluarga terjaga, tidak terlarut dalam kemeriahan pesta tahun baru yang diharamkan.
Wallahua’lam
.
Oleh: Deasy Rosnawati, S.T.P 

(Komunitas Perempuan Peduli Keluarga DPD I MHTI Lampung)