Lambat Tangani peniista agama, Hukum Sekuler Memang Tidak Bisa Diandalkan

Iklan Semua Halaman

DUNIA ISLAM

Lambat Tangani peniista agama, Hukum Sekuler Memang Tidak Bisa Diandalkan

Jumat, 02 Desember 2016
LemahirengMedia.info. Ada ungkapan, “Seseorang yang tidak belajar menutup mulutnya, dia akan mencelakakan dirinya sendiri”. Ungkapan ini pas dialamatkan pada Ahok, yang ucapannya di Kepulauan Seribu memicu amarah umat Islam dan menyeretnya sebagai tersangka penistaan Al-Qur’an.

Sayangnya, status “tersangka” tidak juga membuat Ahok jera. Pasca Aksi Damai 411, Ahok kembali melontarkan fitnah bahwa peserta aksi tersebut adalah peserta bayaran.

Untuk membuat keadaan lebih buruk, Ahok masih bisa melenggang bebas walau sudah ditetapkan tersangka. Ini aneh, mengingat para tersangka kasus lain, seperti Dahlan Iskan dan Buni Yani, serta merta langsung ditahan!

Lambatnya proses hukum dan kesan tebang pilih dalam kasus Ahok menegaskan kembali bahwa hukum sekular sama sekali tidak bisa diharapkan.

Penegakan hukum di negara sekuler tidak lepas dari prinsip “tajam ke bawah, tumpul ke atas”. Mereka yang dekat dengan kekuasaan dan uang bisa lolos dari jeratan hukum, sementara mereka yang miskin dan lemah bisa dengan cepat dijebloskan ke hotel prodeo.

Lebih parah lagi bahwa hukuman terhadap penista agama ternyata hanya dipenjara! Padahal Islam mensyariatkan bahwa penista agama seharusnya mendapat hukuman mati.

Ibn Qayyim Al Jauziyah menjelaskan dalam Ahkam Ahlidz Dzimmah bahwa jumhur ulama sepakat jika seorang non-Muslim ahli dzimmah pelakukan penghinaan terhadap agama Islam, maka batallah pernjanjiannya dan layak dihukum mati.

Menilik bahwa status tersangka masih membuat Ahok bisa petantang-petenteng seenaknya seharusnya menyadarkan bahwa hukum sekular adalah hukum tumpul. Sekalipun dihukum, maka hukumannya tidak selaras dengan tuntutan syariat.

Karena itu, selayaknya Ahok dituntut dan dihukum berdasarkan ketentuan syariat. Selain itu, tuntutan ini perlu dibarengi dengan tuntutan untuk menegakkan institusi yang akan menghukum penista Al-Qur’an seperti Ahok dengan #syariah Islam, yakni #Khilafah Islamiyyah. Wallahu a’lam.