Jakarta Unfire, Film Kontroversi Tentang Ketimpangan Sosial di Jakarta -->

Iklan Semua Halaman

DUNIA ISLAM

Jakarta Unfire, Film Kontroversi Tentang Ketimpangan Sosial di Jakarta

Senin, 26 Desember 2016
LemahirengMedia.Info --- Jakarta Unfair, Film Terlarang kisah tentang penggusuran akhirnya dirilis. Setelah sukses memproduksi film dokumenter “Rayuan Pulau Palsu,” WATCHDOC bersama komunitas film indie pekan ini merilis trailier Film “Jakarta Unfair” yang memotret ketimpangan sosial yang dialami warga Jakarta, korban penggusuran Pemprov DKI dibawah pimpinan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.


Menurut laporan LBH Jakarta, Pemprov Jakarta telah melakukan 113 kali penggusuran selama tahun 2015 dan 325 titik terancam digusur tahun 2016. Setidaknya 70% penggusuran dilakukan sepihak dan tanpa solusi yang sepadan.

Kini, beberapa titik rawan gusur telah rata dengan tanah. Dalihnya masih sama: penertiban dan normalisasi (RTH, waduk atau sungai) demi kehidupan yang lebih layak.

Pendiri WATCHDOC, Dandhy Dwi Laksono mengatakan, saat WATCHDOC sedang di puncak krisis energi dan logistik setelah mendukung Ekspedisi Indonesia Biru dan memproduksi “Rayuan Pulau Palsu”. Tapi Jakarta justru sedang gencar-gencarnya menggusur. 113 lokasi telah diratakan sepanjang 2015 dan 325 lainnya rentan menjadi target di tahun 2016 (LBH Jakarta).

“April lalu kami pun menyurati beberapa kampus di Jabodetabek, komunitas film indie, atau pers mahasiswa. Isinya, memanggil mereka untuk bergabung dalam program “bela negara”.” kata Dandhy melalui laman Facebook, bercerita proses produksi Film Jakarta Unfair.

Ada 15 relawan yang menjawab panggilan itu, dan selama 6 bulan kamera mereka merekam tanpa imbalan.

“Akhir pekan ini mereka merilis trailernya, dan akhir bulan nanti filmnya kami harap sudah menghiasi layar-layar tancap di kampung-kampung hingga kampus-kampus dunia,”tuturnya.

Film Jakarta Unfair ini disutradarai Ndy Anastasia dan Dhuha Ramadhani. Mereka akan berusaha menjawab satu pertanyaan penting dari debat panjang tentang penggusuran di Jakarta: apakah semua ini adil?

Bagi Dandhy, Film dokumenter “Jakarta Unfair” membawa satu argumen penting, bahwa penggusuran mematikan sumber-sumber ekonomi warga.

Sebab di mata mereka, rusun hanya menjawab satu hal kecil: urusan tempat tidur. Hal yang tak pernah menjadi persoalan bagi mereka yang bahkan terbiasa tidur di kolong-kolong jembatan.

Film Jakarta Unfair mendapat banyak apresiasi dari netizen, diantaranya Mahmud Syaltout dari Universitas Indonesia.

“Karya teman-teman mahasiswa, komunitas film indie, dkk dan kemudian diramu dengan baik oleh sahabat-sahabat WatchdoC ini menunjukkan secara lugas wajah politisi yang mengusung ide Jakarta Baru: Jokowi dan Ahok,”ujarnya melalui laman Facebook.

Film Dokumenter “Jakarta Unfair” juga menampilkan video pasangan Jokowi-Ahok, saat keduanya maju 2012 lengkap dengan janji-janji manis bagi warga miskin dan terpinggirkan. Termasuk video Jokowi yang cerita pengalamannya sangat sekali tergusur.

“Dan kenyataan yang bertolak belakang 179,8 derajat, dengan penggusuran yang masif dan bengis – tanpa dialog, tanpa kesepakatan – seperti yang dijanjikan,”ujarnya.

Berikut link filmnya: 

https://youtu.be/sJXecz6oEvU

Lahir dari Keprihatinan

Film Jakarta Unfair batal penayangannya malam mini di XXI Taman Ismail Marzuki (TIM). Film ini mengangkat mengenai penggusuran yang terjadi bukan saja di Jakarta tapi juga Tangerang.

Sutradara film Jakarta Unfair, Dhuha Ramadhani yang merupakan mahasiswa kriminolog, Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, Universitas Indonesia ini menjelaskan film ini lahir karena keprihatinan mereka pada warga yang terdampak gusuran. Mereka ingin mengungkapkan pendapat warga yang selama ini tidak dimunculkan oleh media. Kebanyakan media massa, menurutnya, hanya didominasi oleh pendapat pejabat publik atau pemerintah. 

“Film ini didominasi oleh pendapat warga. Juga ada data-data penggusuran, berapa kali terjadi, para terdampak gusuran dibawa kemana dan lainnya,” jelasnya saat dihubungi Republika.co.id, Sabtu (26/11).

Film dokumenter berdurasi 53 menit ini lahir atas inspirasi 16 mahasiswa UI, UIN, dan UMN. Dan ini adalah karya pertama mereka yang didukung oleh WatchDoc. 

Sebelum memutuskan membuat film ini, mereka melihat data dari LBH Jakarta tahun 2015 yang menyebutkan bahwa penggusuran tahun 2015 ada sebanyak 113 pengusuran dan ini adalah penggusuran paling banyak dalam satu tahun.

“Kami angkat yang kaya gini. Ini inisiatif sendiri, karena terlalu banyak penggusuran,” tambahnya.

Namun karya masalah yang diangkat dalam film ini berkaitan erat dengan salah satu calon gubernur, maka dikhawatirkan ada indikasi politik. 

Yang pada akhirnya akan mengganggu keamanan. “Kami sudah memprediksi pelarangan ini akan terjadi, kami santai-santai saja,” ujarnya.

Source : Republika