"MENGAPA JADI SANGAT DIAM?" -->

Iklan Semua Halaman

DUNIA ISLAM

"MENGAPA JADI SANGAT DIAM?"

Sabtu, 17 Desember 2016
Salah satu sisi kisah yang paling banyak dalam sejarah Islam adalah peperangan dan pembebasan negeri-negeri. Sejak perang Badar, Uhud, Khandaq, Yarmuk, Qadisiyah, perang dengan tentara Mongol dan tentara Salibis, hingga penaklukan benteng Konstantinopel, semua menjadi kisah dan pelajaran bagi tiap muslim sejak anak-anak. Lalu maksudnya, Islam mengajarkan perang?


Ya. Jelas Islam mengajarkan perang, bahkan bisa jadi satu-satunya agama yang mengatur soal peperangan. Aturan perang dalam Islam sangatlah ketat. Karena ada adab yang harus diperhatikan, yang diatur oleh Allah melalui Al-Quran dan teladan Nabinya.

Agak mengerikan? Tentu tidak. Karena aturan tersebut menjadi bukti bahwa peperangan dalam Islam adalah aktivitas suci, yang tidak bisa sembarangan dilakukan, melainkan harus sesuai dengan aturan Allah. Karena jika tidak maka hawa nafsu lah yang menjadi penuntun dalam berperang.

Jangankan membunuh sembarangan, mengirim misil, atau membantai... menebang pohon saja tidak diperbolehkan selain untuk dijadikan bahan makanan.

Dilarang membunuh anak-anak, wanita, orangtua, bahkan para pemuka agama. Dilarang merusak bangunan dan tempat ibadah. Lawan sepadannya adalah orang-orang yang memang memangku senjata, bukan warga sipil. Dan tidak diperbolehkan membunuh lawan yang menyerah.

Bahkan jikapun memiliki tawanan, diperlakukan dengan seharusnya, bahkan didakwahi. Seperti kisahnya Salman al-Farisi; seorang tawanan dari Persia yang akhirnya memeluk Islam dan menjadi salah satu penasihat strategi perang Rasulullah dalam Perang Khandaq.

Seperti juga Khalid al-Walid dan Salahuddin al-Ayyubi, dua jenderal perang paling gemilang dalam sejarah Islam. Juga Muhammad al-Fatih, yang memimpin pasukan terbaik untuk membebaskan benteng Konstantinopel. Di mana ia dan pasukannya menghabiskan malam dengan berdzikir dan tahajjud, dan siang dengan berpuasa.

Mendirikan shalat jumat berjamaah terbesar sebelum memasuki benteng. Memohon kemenangan dengan mencari ridha Allah, bukan dengan menghalalkan segala siasat.

Tidak ada dalam sejarahnya pasukan Muslim diam melihat kezhaliman besar. Kemenangan dan kekalahan adalah sunnatullah, tetapi memperjuangkan kebenaran dan ikhtiar di jalan tersebut adalah amanat bagi tiap Muslim.

Namun sejarah gemilang yang tetap tak luput dari kekurangan tersebut hanya menjadi cerita heroik bagi generasi saat ini, karena apa yang terlihat sekarang, justru sebaliknya.

Umat Muslim di berbagai belahan negara, jadi komunitas yang paling banyak menerima serangan dan penindasan. Fisik mau pun pemikiran, dari luar maupun dalam.

Umat dijauhkan dari agamanya. Melupakan wahyu-wahyu Tuhannya dan Sunnah Nabinya. Hingga para pemuda yang dahulu jadi para pejuang yang kuat, kini disibukkan dengan kenikmatan dunia.

Warga sipil pun terpaksa mengangkat senjata, karena misil-misil dan peluru sampai ke rumah-rumah hingga sekolah anak-anak mereka.

Bukan kali pertama hal itu terjadi. Bahkan Rasulullah pun merasakannya. Juga pada masa tentara Gengis Khan dan Salibis yang membantai umat Muslim, mengambil dan menghancurkan literatur tentang ilmu-ilmu temuan para cendikiawan pada masa kejayaan Islam di era Abbasiyyah. Ini bukan propaganda. Ini fakta.

Lalu kemana pasukan-pasukan Muslim itu? Mereka tidak menghilang, tetapi tertahan dalam paham kebangsaan. Indonesia itu bukan Palestina, bukan juga Malaysia, apalagi Suriah. Saudi itu berbeda dengan Turki, dan bukan Mesir.

Begitulah yang terjadi, sementara Rasulullah menghilangkan rasisme dan menyatukan berbagai suku bangsa, klan, status sosial, warna kulit dan bahasa jadi satu keyakinan. Menjadi umat Islam dengan satu kepemimpinan.

Innamal mu'minūna ikhwah. Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.

Prinsip dasar tentang persatuan ummat inilah yang diserang oleh pemahaman-pemahaman yang menjadikan tiap individu merasa tidak punya kewajiban terhadap saudara seimannya.

Sementara telah sampai juga sabda Rasulullah bahwa ummat islam itu adalah satu tubuh, yang jika satu bagian sakit maka terasa pada bagian yang lain.

Apakah belum cukup mengerikan melihat saudara-saudara seiman yang diambil haknya untuk menyembah Allah, ditindas, dibunuh, hingga dirampas haknya sebagai manusia? Para wanita dan anak-anak yang juga turut menjadi korban dari manifestasi terburuk hawa nafsu dan keserakahan manusia?

Inilah bukti kecacatan apa yang digaung-gaungkan dunia dengan nama Hak Asasi Manusia. Karena nyatanya, gerakan itu tidak berpihak pada kebenaran hak-hak dasar manusia, tapi berpihak kepada hawa nafsu dan siapa yang punya kuasa.

Sungguh, kemandulan ini harus dipertanyakan oleh tiap jiwa yang telah mendeklarasikan bahwa 'tiada Tuhan yang patut disembah selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah!'. Pada tiap pribadi yang mengaku menggenggam Al-Quranul Karim dan mengikuti Sunnah kekasihNya. Juga pada tiap mata yang jelas melihat kezhaliman yang dengan dalih apapun tak bisa disembunyikan. Dan kepada para penguasa muslim yang ditangannya tersimpan hajat ummat Rasulullah.

Sudah menjadi sunnatullah bahwa segala ciptaan Allah akan mengalami perubahan di akhir masanya. Begitu juga dengan dunia. Maka dengan menggenggam ayat-ayat Allah dan teladan Rasulullah, sikap optimistik harus jadi penghias tiap visi seorang Muslim untuk bersama berjuang dalam kebenaran. Menegakkan kembali agama Allah sebagai rahmat semesta alam.

Jadi, apa itu artinya Tuhan harus dibela? Subhanallah. Allah tidak membutuhkan apapun, tapi ini adalah kesempatan dariNya untuk menggapai ridhoNya, mengambil posisi di hadapanNya, menjadi hujjah saat nanti kembali padaNya.

Jika kebenaran dan kebathilan itu sudah jelas di depan mata, maka tanya kenapa diri ini masih diam saja? (selesai)

#Savealeppo
#Khilafah2Aleppo
#IslamRahmatanLilAlamin

Source:

Aang Syarif
https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=380580655611301&id=100009781096958