Isyarat Misteri Airmata Sang Penista Agama -->

Iklan Semua Halaman

DUNIA ISLAM

Isyarat Misteri Airmata Sang Penista Agama

Rabu, 14 Desember 2016
Sidang perdana kasus penistaan agama oleh Ahok yang digelar 13 Desember 2016 kemarin, memancing reaksi publik. 

Mengapa? 

Karena Ahok menangis di persidangan sambil mengatakan bahwa dirinya tidak ada maksud sama sekali menodai agama Islam, karena dia punya orangtua angkat orang Islam yang taat. 


Dan sejak kecil sangat menghormati dan mencintai ortu angkatnya tersebut.."makanya kl dituduh saya menistakan agama Islam, saya sangat sedih..." katanya sambil beberapa kali mengelap air matanya.

Ia juga menegaskan bahwa maksud perkataan dia di Kepulauan Seribu adalah bukan menistakan agama Islam, tp untuk menyindir para lawan politiknya yang menggunakan ayat suci untuk bisa dipilih.

Ahok menangis bukanlah sesuatu yang biasa terjadi, sebab figur yang biasa ia tampilkan adalah sosok yang keras, galak dan tak mengenal belas kasih. Banyak orang yang kemudian mengatakan tangis ahok di sidang adalah air mata buaya. 

Tapi sesungguhnya secara manusiawi siapapun bisa menangis, sekeras apapun hatinya bisa saja menangis. Karena menangis adalah luapan emosi yang muncul dari fitrah alami manusia yang memiliki naluri. 

Apalagi Ahok menangis saat dia menceritakan tentang ayah angkatnya yang seorang muslim. Tentu ada keterikatan secara psikologis dengan yang diceritakan, lebih-lebih dengan adanya tekanan publik untuk memenjarakannya.

Umar bin khatab ra pun pernah menangis. Padahal ia terkenal sebagai sosok yang keras bahkan setan pun takut kepada Umar, saat setan melewati suatu jalan dan ternyata ada Umar di sana, maka setan akan memilih jalan yang lain untuk dilaluinya. Itulah tangisan, bisa dilakukan oleh siapa saja. Sekeras apapun perangainya.

Sebagai seorang muslim sejati yang menjadikan Rasulullah sebagai teladan tentu kita akan terus menyoroti kasusnya, bukan membully individunya. Ahok menangis adalah manusiawi, tapi hukum atasnya harus tetap ditegakkan dan kita wajib mengawalnya sampai keadilan itu benar-benar ditegakkan.

Apapun alasannya, Ahok tetap menista Al-Quran. Meski ia mengakui bahwa perkataan tersebut diniatkan untuk menyindir lawan politiknya yang kerap menggunakan ayat suci untuk mengalahkan dirinya. Secara tersirat ia juga memposisikan dirinya sebagai pihak yang terdzolimini, minoritas yang termarginalkan.

 Allah swt dengan sangat tegas mengharamkan seorang muslim untuk memilih pemimpin kafir. Salah satunya dalam surat Al-Maidah:51 yang dinistakan sang penista.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi auliya bagimu; sebahagian mereka adalah auliya bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi auliya, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.  Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” (QS. Al-Maidah: 51)

Ayat tersebut adalah larangan tegas bagi seorang muslim menjadikan orang kafir sebagai wali/auliya (pemimpin) dan memberikan loyalitas terhadap mereka.

 Pemimpin disini maknanya adalah seseorang yang diamanahkan untuk mengurusi urusan umat, jadi bukan bermakna pemimpin agama sebagaimana dipelintir oleh kaum liberal untuk menghalalkan pemimpin kafir.

Pelarangan Islam terhadap pemimpin kafir sangat tegas, dan hal tersebut pernah dicontohkan oleh Umar Bin Khatab ra.
Ibnu Katsir menukil sebuah riwayat dari Umar bin Khathab. 

Umar bin Khathab pernah memerintahkan Abu Musa Al Asy’ari bahwa pencatatan pengeluaran dan pemasukan pemerintahan dilakukan oleh satu orang. 

Abu Musa memiliki seorang juru tulis yang beragama Nasrani. Abu Musa pun mengangkatnya untuk mengerjakan tugas tersebut. Umar bin Khathab pun kagum dengan hasil pekerjaannya.

Umar berkata, “Hasil kerja orang ini bagus.”

Umar melanjutkan, “Bisakah orang ini didatangkan dari Syam untuk membacakan laporan-laporan di depan kami di masjid?”

Abu Musa menjawab, “Ia tidak bisa masuk masjid.”

Umar bertanya, “Kenapa? Apa karena ia junub?”

Abu Musa menjawab, “Bukan. Ia tidak bisa karena ia seorang Nashrani.”

Umar pun menegurku dengan keras dan memukul pahaku dan berkata, “Pecat dia!”

 Umar kemudian membacakan surat Al-Maidah ayat 51.

Muslim sejati selayaknya mengimani pula ketetapan Allah tersebut, kecuali imannya telah terbeli dengan materi. 

Jadi tuntutan untuk menangkap penista Al-Quran semestinya bukan semata dorongan kebencian, apalagi konspirasi politik untuk memenangkan pihak lainnya, melainkan karena dorongan akidah untuk menjaga kesucian Al-Quran.

Sayang, Sistem demokrasi memberikan ruang kepada orang kafir untuk berkuasa menjadi pemimpin. 

Dilematis. Adalah mimpi panjang yang tak akan ada akhirnya menegakkan hukum Allah di tengah-tengah iklim ayat konstitusi lebih tinggi dari ayat suci.   

Lantas masihkah kita berharap pada demokrasi?

#CatatanAnnisa
#TangkapPenistaAlquran
#HaramPemimpinKafir

Oleh.Hana Annisa Afriliani,S.S