Cerdas Membaca Ideologi, Menjadi Pembaca Digdaya -->

Iklan Semua Halaman

DUNIA ISLAM

Cerdas Membaca Ideologi, Menjadi Pembaca Digdaya

Kamis, 08 Desember 2016
Terbuka kesempatan bagi lima juta peserta (ada yang menyebut 7 juta lebih) aksi bela Islam 212 yang lalu untuk memeriksa pembingkaian media terhadap aksi. Mereka hadir di sana sehingga dengan demikian bisa membaca arah pembingkaian berita media. 


Pembingkaian media sangat terkait dengan ideologi media itu. Apa yang ditonjolkan, apa yang disembunyikan, akan menunjukkan posisi media dan  ideologi media. 

Cara paling mudah ialah dengan melihat headline surat kabar nasional dan daerah. Headline adalah berita terpenting dan disimpan di halaman pertama. Halaman depan adalah etalase media cetak. 

Untuk memahami arah berita, ada beberapa yang harus menjadi catatan. Yang pertama konteks berita. Aksi bela Islam jilid III dilakukan sebagai upaya menuntut ditegakkannya hukum secara berkeadilan atas penistaan agama yang dilakukan Ahok. Dalam berita atau judul mesti ada konteks ini. Jika tidak, maka peristiwa di Jakarta pada 2 Desember tidak akan utuh seperti realitanya. 

Yang kedua adalah tuntutan ulama yang dengan nyata disampaikan dalam ceramah-ceramah mereka. Aksi 212 bukan sekedar sholat Jumat bersama. Aksi 212 memiliti target yang jelas secara hukum kenegaraan, yakni segera ditahannya Ahok.

Yang ketiga peserta yang berasal dari seluruh provinsi Indonesia. Ini bukan aksi yang digerakkan oleh satu lembaga sosial kemasyarakatan, partai, atau perusahaan. Ini gerakan yang murni lahir dari masyarakat dan dibiayai masyarakat dari kantong mereka sendiri.

Mari diperiksa pemberitaan media. Media yang idealis itu mempraktekkan jurnalistik yang benar-benar objektif karena 'journalism’s first obligation is to the truth', kewajiban pertama dalam jurnalistik adalah pada kebenaran.  

Kebenaran yang seperti ditulis T.D Allman: T.D Allman. ‘Genuinely objective journalism is journalism that not only gets the facts right, it gets the meaning of events right. It is compelling not only today, but stands the test of time. It is validated not only by “reliable sources” but by the unfolding of history. Its journalism that ten, twenty, fifty years after the fact still holds up a true and intelligent mirror to events’.

Jurnalistik yang okjektivitasnya murni  adalah jurnalistik yang tidak saja mendapatkan fakta yang benar, tapi makna kejadian yang benar. Tidak saja tegak sebagai kebenaran sekarang, tapi tetap benar seiring waktu. Tidak sekedar divalidasi 'sumber terpercaya', tapi dibenarkan oleh bergulirnya sejarah. Jurnalistik yang sepuluh, dua, lima puluh tahun setelahnya, fakta itu tetap nampak sebagai cermin yang benar dan cerdas akan kejadian.

Lima juta warga Indonesia hadir dan merasakan langsung suasana aksi. Mereka saksi peristiwa yang tidak akan bisa dibohongi  karena mata dan telinga mereka menangkap itu semua. 

Ada media yang headlinenya berjudul ‘Damai Tertib Aman’;  Supermassa Superdamai’ (Koran Sindo); ‘Aksi Paling Super’ (Harian Jogya); ‘Aksi 212 Luar Biasa’ (Kedaulatan Rakyat); ‘Seruan Tangkap Ahok Bergema’ adalah judul yang menggambarkan dengan baik kondisi Aksi 212. 

Judul ‘Makar Terbukti Ada’ (Media Indonesia); ‘Demo 212 Tercoreng Rencana Makar’ (Tempo); ‘Rizieq Teriakkan Revolusi’ (Waspada); ‘Gagal Duduki Parlemen’ (Sumatera Ekspres); ‘Skenario Kuasai MPR’ (Sriwijaya Post); ‘Kok Nggak Ngefek Ke Penahanan Ahok’ (Rakyat Merdeka),  adalah judul media yang memiliki kebencian jelas pada Muslim. 

Mereka mencoba membingkai bahwa Aksi 212 memiliki hidden agenda  selain tuntutan ditegakkannya hukum. Mereka juga media yang berusaha menyebarkan kebencian dan berusaha memecah belah persatuan NKRI.

Ada juga judul yang berusaha lari dari isu utamanya, seperti ‘Langkah Jokowi’ (Warta Kota); ‘Dhani Cs Tersangka Makar’. Ini dari media yang menutup mata terhadap prestasi peserta Aksi 212 dan mengalihkannya pada isu yang tidak terkait sama sekali. 

Yang menarik, dua media sama-sama memiliki headline ‘Terima Kasih’, tapi dengan penyajian yang berbeda. Republika menyajikan isi pidato Presiden Jokowi secara utuh dan menunjukkan apresiasi Jokowi pada ulama dan peserta Aksi 212. Berbeda dengan media yang satu lagi yang hanya meletakkan judul tanpa penjelasan. 

Ada juga judul yang aneh, ‘Aksi 212 Berakhir Bahagia’ (Jawa Pos). Apanya yang bahagia? Sepanjang penista agama masih bebas, tidak ada bahagia bagi peserta aksi. Lalu juga ada media yang sama sekali tidak memberitakan Aksi 212 seperti Pikiran Rakyat.

Bagaimana menyikapi media-media di atas?

Matikan media mereka. Jangan beli media cetak mereka. Ganti langganan ke media yang jujur. Usahakan dengan sungguh-sungguh tidak masuk ke website media mereka. Lakukan piket secara berganti. Satu masuk ke website media mereka jika diperlukan, lalu screen captured  isi websitenya dan bagikan kepada yang perlu. Ini supaya berkurang yang masuk ke websitenya. Dengan demikian meminimalkan klik websitenya mereka. Tingkat klik konsumen pada website media akan mempengaruhi tingkat pendapatan media dari iklan.

Kita berdaya. Ada lima juta atau tujuh juta kita semua. Plus yang tidak bisa sampai ke Jakarta karena ditahan, dibatalkan tiket, dibatalkan sewa bus dan sebagainya. Jika berkurang oplah media-media pembenci Muslim ini 3 juta eksemplar saja, ini  akan membangkrutkan mereka dengan cepat. 

Ada media nasional yang saat ini di ambang kebangkrutan. Ada majalah terkenal yang saat ini mulai mengurangi berbagai dana operasionalnya karena mulai defisit. Sikap kita menolak membeli media mereka akan menusuk dan memburaikan pertahanan finansial mereka. Mereka akan merasakan betapa pedihnya ditinggalkan pembaca yang selama ini setia namun sering mereka khianati. 

‘Islam bersatu tidak bisa dikalahkan’, semboyan aksi ini harus nyata menjadi aksi berikutnya. Pembaca bersatu memboikot media yang sering berdusta. Apa kata mereka? Ratusan ribu? Jutaan. Bisa jadi tujuh juta. Dua kali lipat jumlah muslim berhaji  di tanah suci. (Maimon Herawati)

========================
Oleh : Maimon ., dosen Unpad