Psikologi Massa dan Politik Pelumpuhan , Skenario untuk membuat massa rusuh

Jutaan umat Islam di negeri ini dibuat heran, kesal, kecewa, marah, dan dongkol terhadap sikap Presiden Jokowi dalam menghadapi Aksi Damai Bela Quran, 4 November 2016 lalu. Jokowi dinilai banyak pihak bertindak pengecut, menghina ulama serta umat Islam. Kabur dari tanggung jawabnya sebagai pemimpin negara.


Mengapa Jokowi memilih 'kabur' dengan alasan meninjau proyek dibanding menghadapi aksi massa? Mengapa baru kembali ke istana setelah kondusif, lalu menggelar rapat malam hari dengan beberapa pejabat terkait. Tentu, bukan karena agenda penting saat blusukan, juga bukan semata-mata takut menghadapi massa. 

Ada agenda tersembunyi dibalik sikapnya. 

Pertama, psikologi massa yang ada di kerumunan (crowd) punya peluang rusuh tatkala bahan bakar habis. Teorinya, massa dibuat lelah dan lapar, hingga berpengaruh secara psikologis pada emosinya. Massa telah seharian aksi, namun, penguasa tidak segera merespons. Dialun dengan lambat, dan terakhir dihadapkan dengan kekecewaan. 

Jelas, ini skenario untuk membuat massa rusuh, marah, sehingga mudah dimonsterisasi, dialihkan isunya, dibunuh karakternya, bahkan bisa jadi alasan dihukum secara legal dengan dalih kekerasan melawan aparat. 

Itulah, sebabnya kerusuhan terjadi setelah maghrib. Massa yang sudah panas, mudah disusupi penyusup dari kalangan musuh yang bikin rusuh. Padahal, selama siang sampai sore, penyusup selalu tertangkap.

Lalu, bekerjalah para penyebar opini, haters, dan musuh-musuh Islam, melalui media, terus melakukan pengalihan isu, pembunuhan karakter ulama dan umat Islam, bahkan monsterisasi perjuangan mereka.

Cocok dengan narasi yang sudah dibuat sebelum aksi dilakukan.

Kedua, Jokowi dan elit-elit yang menguasainya, berupaya melakukan pembungkaman suara umat.

Caranya, sikap cuek, penghinaan, dan tidak peduli pada ulama dan umat yang aksi, sekaligus cuek terhadap tuntutan umat. Hal ini ditujukan untuk melemahkan semangat ulama dan umat.

Sekitar dua juta jiwa lebih peserta aksi tak dihiraukan. Seolah dua juta orang tiada berarti bagi Jokowi dan penguasa di sekitarnya. Bagi sebagian orang, hal ini akan menimbulkan sikap apatis dan pasrah. 

Logikanya, sudah sebanyak ini orang yang nuntut, tapi pemerintah bergeming. 

Ya, sudahlah, capek aksi terus menerus.

Capek, lelah, dan segala jenisnya bisa membuat orang frustasi. Berhenti berjuang. Apalagi ketika perjuangan dilakukan dalam jangka waktu lama dan mengeluarkan biaya. 

Capek ini juga yang bisa membuat orang akan bersikap pragmatis, 

"ya sudahlah, biarin aja, biar Allah yang mengazabnya".

Dengan kata lain, perjuangan berhenti.

Bagi yang masih semangat berjuang, nanti akan ada skenario ketiga, kanalisasi dan stigmatisasi. Disalurkan pada kelompok tertentu buatan musuh, di mana kelompoknya disamarkan sebagai kelompok Islam. 

Lalu, dilabeli kelompok radikal, ekstrem, dll. Sementara kelompok yang masih semangat dan benar pun dimonsterisasi dan dipukul rata dengan kelompok radikal buatan mereka. Walhasil, terjadi pembungkaman dan penghentian perjuangan.

Sebagai gambaran, Barat, yakni musuh-musuh Islam yang dikomandoi Amerika Serikat (AS), telah melakukan politik pembungkaman perjuangan umat dalam menegakkan Islam di Suriah, dengan memanfaatkn psikologi masyarakat.

Barat melakukan siyasatu tauzi'iy atau politik penglaparan. Umat Islam dibiarkan menderita, kelaparan, dibombardir, untuk menekan psikologis mereka agar menyerah, berhenti berjuang. Dan mengikuti rancangan AS dan sekutunya.

Tentu, sebagian orang yang tidak kuat, akan berhenti berjuang dan mengikuti rancangan AS ini. Di sisi lain, Barat melakukan monsterisasi terhadap perjuangan penegakan khilafah dan monsterisasi khilafah dengan membentuk ISIS. Sebagian umat yang semangat berjuang tanpa berpegang pada mabda, tertarik untuk ikut ISIS, dan tidak berjuang untuk khilafah yang sebenarnya.

Kelompok yang ikhlas dan benar pun distigmatisasi dengan istilah radikal dan ekstrem, dan dilekatkan pada ISIS, Al-qaidah, dll. Targetnya, opini khilafah adalah monster, perjuangan Islam dan pejuangnya adalah teroris dan ekstremis. Menakuti masyarakat dengan label itu, hingga umat menjauhinya. Dan membuat legalitas pembungkaman dengan dalih againts terrorism and ekstremism.

Suriah adalah contoh pemanfaatn psikologis massa, dan pembungkaman perjuangan. Namun, Allah Maha Kuasa, perjuangan di sana tetap berlangsung melalui tangan-tangan umat yang ikhlas dan berpegang teguh pada thariqoh perjuangan Rasul, seraya selalu meminta pertolongan Allah, walaupun jumlahnya tidak sampai jutaan.

Inilah pentingnya "the power of people," bukan people power. Why? People power, adalah kekuatan massa. 

Yang diandalkan jumlah. 

Kuantitas massa. 

Betul, itu bisa berpengaruh, namun sampai kapan amunisi power-nya bisa bertahan? 

Lalu, sekadar jumlah, dengan beragam pemikiran, kepentingan dan perasaan, tidak menjadi kekuatan hakiki. Mudah terpecah sesuai dengan pemikran dan kepentingan masing-masing. 

Maka, people power bukan thoriqoh perubahan dan perjuangan.

Sedangkan the power of people, berarti kekuatan yang ada pada massa. Kekuatan apa yang dimiliki, itulah yang jadi amunisi. Bisa kekuatan materi, kekuatan jiwa, atau kekuatan ruh. Dan kekuatan ruh yang ada pada umat, itulah kekuatan tertinggi. 

Ruh jihad, menolong agama Allah, meninggikan kalimat Allah, melanjutkan kehidupan Islam. Itulah yang akan mengalahkan segala kekuatan yang lain. Dan kekuatan ruh ini, sudah pasti hanya dimiliki orang yang senantiasa sadar hubungannya dengan Allah.

Jika ada sekelompok umat yang memiliki kekuatan ruhiyah,  lalu berjuang, seraya menyempurnakan perjuangannya dengan kekuatan jiwa yang tidak takut mati, dan kekuatan materi dan militer dari ahlul quwwah yang mendukungnya, niscaya perjuangan akan menang dengan izin Allah. 

Walaupun jumlah kelompok umat yang memiliki kekuatan tadi tidak sebanyak jumlah people power.

Alquran mencatat, kemenangan pasukan Thalut melawan Jalut adalah karena kekuatan ruhiyah yang tinggi. Demikian pula peristiwa Hunain. Pada Allahlah segala kekuatan dan kekuasaan. 

Ditolong Allah adalah kunci kemenangan. Maka senantiasa berdoa minta tolong pada Allah, dan mengikuti thariqah perjuangan Rasulullah, untuk meraih kemenangan perjuangan. Wallahu'alam.

Oleh Ummu Syakira

==============================
Dukung terus Opini Syariah dan Khilafah. Raih Amal Sholih dengan Ikut Serta Menyebarkan Status ini.
==============================
Jika Saudari ingin bergabung dalam perjuangan MUSLIMAH HIZBUT TAHRIR INDONESIA silahkan layangkan pesan dengan format:

NAMA JELAS, ALAMAT LENGKAP, NO TELP/HP, ALAMAT EMAIL.

Insya Allah, Muslimah Hizbut Tahrir di daerah terdekat akan segera menghubungi.
==============================
Silahkan ikuti kami di:
www.hizbut-tahrir.or.id
Facebook : www.facebook.com/opinimhti
Twitter : www.twitter.com/women4khilafah
Instagram: www.instagram.com/muslimahhtiid
Youtube : www.youtube.com/user/MUSLIMAHMEDIACENTER
Radio CWS: www.muslimah-htichannel.blogspot.com/

No comments

Isi komentar adalah tanggapan pribadi,tidak mewakili kebijakan kami. Admin berhak mengubah/menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah, pelecehan dan promosi. Setiap komentar yang diterbitkan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Copyright © . Lemahireng Info All Right Reserved - KabarIslam | Berita Panas | Info Cerdas | Viral News | Nasional Hot | Tips Sehat | Updatechno | Breaking .
Powered by Blogger.