JIKA PEMIMPIN SUDAH DICEMOOH OLEH RAKYAT, MAKA SEBETULNYA SUDAH TIDAK ADA LAGI KEPEMIMPINAN

JIKA PEMIMPIN SUDAH DICEMOOH OLEH RAKYAT, MAKA SEBETULNYA SUDAH TIDAK ADA LAGI KEPEMIMPINAN

Sudah tidak ada apa-apa. 

Ibarat istri sdh tak taat suami dan suami tak menafkahi istri. Sudah tidak ada keluarga. Jika blm cerai, yang ada hanya sekedar surat nikah saja.

Suami tak merasakan apa-apa sebagai suami. Istri juga tak merasakan apa-apa sebagai istri. Yang ada hanya penyesalan, mengapa pernah terjadi pernikahan.

Sama juga kepemimpinan.

Semuanya jadi tak ada rasanya. Saya sangat tidak yakin, para pemimpin itu merasa tenang, meski dijaga ribuan polisi. Saya sangat tidak yakin, para pemimpin itu merasa bahagia, meski apapun yang dikehendaki dapat disediakan oleh ajudannya. Para pemimpin akhirnya tak beda dg robot. Tersenyum hanya karena protokolernya memang mengharuskan tersenyum. Bertemu rakyat bukan karena rasa melindungi dan kasih sayang, tapi hanya karena protokoler. Mengheningkan cipta tanpa ada doa dan rasa, semua hanya berjalan karena protokoler.

Di sisi lain, rakyat pun merasakan hal yang sama. Tak ada bapak yang melindunginya. Tak ada orang tua tempat melampiaskan keluh kesah.  Pejabat dan penguasa memang ada, tapi semua bukan miliknya. Rakyat merasa tak punya apa-apa dan siapa-siapa.

Semua menyesal. 

Para pejabat menyesal, mengapa harus mau jadi pejabat. Duhai betapa indahnya dan enaknya saat masih jadi penjual furniture. Bisa makan di manapun. Bisa tersenyum kapanpun. Bisa bercengkrama dg keluarga kapanpun. Bisa bercanda dg tetangga dan teman-teman kapanpun. Tidak ada kebohongan. Tidak ada tekanan majikan. Tidak dianggap petugas partai. Tidak dianggap mandor proyek kereta api.

Rakyat juga menyesal. Mengapa milih orang hanya karena lugunya, ndesonya, dan segala pencitraan yang nyaris sempurna. 

Yang berlalu, semua sudah berlalu. Tidak bisa kembali lagi. Masa lalu hanya bisa diambil pelajaran dan hikmah, bagi orang yang mau mengambilnya. Tetapi bagi yang tidak tahu hihmah, hanya akan jadi sumpah serapah.

Sayangnya, kejadian seperti ini bukan terjadi sekali. Tetapi berkali-kali. Rakyat memiliki harapan memuncak setiap melihat figur yg penuh simpati, tetapi setelah itu rakyat hanya bisa gigit jari. 

Iya, ini terjadi hampir pada semua pemimpin di negeri ini. Bukan hanya saat ini. Yang saat ini, memang terasa sangat menyayat hati. Yang saat ini memang terasa saat ini, sementara yang saat itu sudah terasa pada saat itu. Yang saat itu tak terasa lagi, karena yang saat ini begitu memilukan hati.

Mengapa selalu begini?

Inilah yang tidak disadari. Sebetulnya semua ini karena demokrasi. Semua orang hanya mengejat sensasi dan kenikmatan jasmani. 

Calon pemimpim dipoles dan didandani semenarik hati. Pemimpin dipilih bukan karena ketaqwaan dan kemampuan. Tetapi dipilih karena keterkenalan dan simpati. Maka tak heran profesi konsultan politik jadi sangat digemari oleh anak-anak negeri berbakat tinggi.


Seandainya yang sekarang berhasil dilengserkan dan dilongsorkan, juga akan diganti oleh figur lain tetapi dengan hati dan mekanisme yang sama. Selama demokrasi yang dijunjung tinggi, maka rakyat akan terus dikhianati. Selama ketaqwaan jadi bahan sindiran dalam kriteria calon pemimpin, rakyat hanya akan dipimpin oleh orang bertangan besi. Selama hukum masih dibuat manusia, maka rakyat pasti akan gigit jari karena hukum mengabdi kepada pemilik modal.

Semua telah Allah hamparkan kepada kita. Tinggal kita bisa ambil pelajaran dan hikmat, atau kita hanya akan mengisi hari-hari dengan sumpah serapah dan emosi.

Hanya dengan syariah Allah dan sistem Khilafah insya Allah kita akan dipimpin orang yang lebih takut Allah daripada pemodal kelas tinggi.

Insya Allah, 
Wallahu a'lam.

Ust: Choirul Anam

No comments

Copyright © . Lemahireng Info All Right Reserved - KabarIslam | Berita Panas | Info Cerdas | Viral News | Nasional Hot | Tips Sehat | Updatechno | Breaking .
Powered by Blogger.