Jangan Mau dibohongi Pakai Pancasila, UUD45, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI -->

Iklan Semua Halaman

DUNIA ISLAM

Jangan Mau dibohongi Pakai Pancasila, UUD45, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI

Jumat, 18 November 2016
Kalangan nasionalis sekuler liberal extrimis radikal kerap kali menjadikan Pancasila, UUD45 dan Bhineka Tunggal Ika sebagai senjata untuk menghadang aksi dan gerakan dakwah Islam di Indonesia yang penduduknya mayoritas muslim yang berarti beragama Islam. Mereka melabeli gerakan dakwah dan pengembanya dengan sebutan Makar, Ekstrimis, Rasis, Radikal, Teroris dan macam-macam itu. Tetapi ketika aksi dilakukan oleh kelompok bukan Islam, mereka diam.

Jangan Mau dibohongi Pakai Pancasila, UUD45, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI

Dalam faktanya sesangar-sangarnya Umat Islam melakukan aksi damai, mereka tidak menyerukan atau membuat kalimat yang berpotensi mengarah pada disintegrasi.

Tetapi mereka yang menjadikan Pancasila, UUD45, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI sebagai senjatanya itu justru melakukan hal-hal yang berpotensi menimbulkan disintegrasi.

Seperti dilansir mediapapua, Aliansi Papua Bersatu untuk Indonesia Damai melakukan aksi damai dengan slogan-slogan yang mengarah pada perpecahan: ‘Jika Ahok tak jadi Gubernur Jakarta, Ahok jadi Presiden di Papua’. Selain itu, ada pula spanduk bertuliskan ‘Stop dagelan SARA, Stop Kafir, stop tolak Ahok’.

Dilansir netralnews, Tidak hanya foto pencalonan Ahok jadi Presiden Papua, juga muncul dua foto aksi protes warga Papua lainnya. Foto pertama berisi aksi unjuk rasa dengan tulisan: “Demo ulang Ahok, sama dengan Usir Papua dari NKRI.” Sementara foto berikutnya berisi tulisan “Salam Damai Papua. Bubarkan FPI, Ormas Radikal.”

Jelas-jelas aksi yang mereka lakukan adalah aksi provokatif dan rasis, tetapi adakah media yang membuat headline semacam itu?

Aliansi Papua Bersatu untuk Indonesia Damai dari seluruh denominasi gereja yang juga dihadiri oleh Pimpinan Umat Hindu di Papua Barat membuat 14 poin petisi diantaranya:

Indonesia ada Negara Pancasila yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh Tumpa Darah Indonesia, Tanpa membedakan Suku, Ras, Agama dan Budaya,maka Aliansi Menolak sikap Arogansi dan Dominasi atas nama suku dan agama apapun di bangsa ini.

Ahok adalah WNI yang berhak mendapat perlindungan dan kesempatan yang sama menjadi pemimpin, serta membangun Indonesia. Aliansi menilai adanya upaya dari pihak tertentu untuk menghalangi Ahok kembali menjadi Gubernur di DKI Jakarta dengan berbagai cara, termasuk melakukan rekayasa atas pidato Ahok dan memainkan Isu SARA serta menggunakan kekuatan masa.

Aliansi juga berpendapat kasus penistaan agama yang dituduhkan kepada Ahok melalui Demo 4 November lalu merupakan rekayasa politik untuk menjatuhkan Ahok demi kepengingan pihak tertentu. Selain itu, seruan kepada semua suku, agama dan golongan, untuk tidak terprovokasi dengan isu SARA yang dimainkan pihak tertentu untuk menciptakan konflik internal.

Aliansi mendorong untuk segera mengakhiri kasus Ahok karena penuh rekayasa dan dapat membahayakan kerukunan bangsa, termasuk menolak perlakuan diskriminatif terhadap Ahok dan golongan minoritas, karena melanggar Pancasila dan UUD 1945 serta Bhineka Tunggal Ika.

Aliansi mendorong pemerintah Indonesia menghentikan semua aksi demo yang menolak Ahok. Pasalnya, ‘Menolak Ahok sama dengan Menolak Papua Dan Jika Diteruskan Sama Halnya Dengan Mengusir Kami dari NKRI’.

Pemerintah didesak menangkap dan memproses hukum semua aktor politik dan tokoh intelektual yang telah sengaja memanfaatkan kasus Ahok untuk memicu Konflik SARA dan Mengancam keutuhan NKRI.

Aliansi mengajak semua Agama sebagai saudara sebangsa untuk tetap bergandengan tangan menjaga keutuhan NKRI dengan menolak semua bentuk radikalisme dan terorisme. Desakan juga muncul bagi pemerintah untuk membubarkan ormas radikal dengan memiliki ideologi berbeda dengan Pancasila dan menyampaikan ujaran kebencian secara terbuka didepan umum.

Aliansi mengajak semua pihak baik masyarakat dan TNI/Polri, menjadikan Papua sebagai Tanah Damai dan menolak semua bentuk kekerasan dan pelanggaran HAM.

Aliansi meminta penyelesaian Kasus Ahok secara kekeluargaan sebab banyak Kasus Gereja yang dibakar, ditutup, dibongkar, dilarang, bahkan pendeta-pendeta dibunuh namun kami tidak membalas sebagaiman ditunjukan Orang Tua dari Intan Olivia Marbun, korban BOM Samarinda 13 November 2016, yang dengan tulus Hati memberikan Maaf dan mendoakan Pelaku Pengeboman.

Petisi Aliansi Papua Bersatu untuk Indonesia sama saja menyuruh kaum muslimin untuk diam saat agamanya dihina, untuk tidak melakukan aksi saat alqu’an dinista. Hebatnya mereka melandasi petisi itu dengan landasan Pancasila, UUD45, 

Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. Apakah mereka lupa mayoritas penduduk Indonesia itu muslim. Oleh karena itu jangan mau di bohongi pakai Pancasila, UUD45, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI, terus kawal kasus Ahok sampai Tuntas. (ui)

Source : up-islam