JANGAN ADA ALIBI DUSTA ANTARA PEMIMPIN DAN UMAT

"Siapapun Muslim Fardhu Bela Islam Termasuk Para Politisi Partai Politik !!!"

[Menyikapi Sikap "Absent-nya" Presiden Jokowi Terkait Aksi Bela Islam Jumat 4/12/2016 di Jakarta Indonesia]

Melalui pemberitaan media asing yang secara objektif memberitakan fakta Aksi Bela Islam di Jakarta, seluruh dunia kini mengetahui alasan yang membuat kaum Muslimin di Indonesia melakukan #AksiBelaIslam pada Jumat 4/11/2016 di Jakarta Indonesia. 

Tentunya dengan izin Allah, kebenaran pasti akan tetap tegak. Dan, kebathilan yang ditutupi oleh konspirasi apapun akan bisa terungkap. Kasus Ahok "oknum" pejabat negara yang menistakan akidah Islam, kini sudah menjadi sorotan kaum Muslimin di seluruh dunia Islam.
Banyak yang takjub atas aksi bela Islam tersebut, karena meskipun dihadiri jutaan kaum Muslim tapi barisan kaum Muslimin tersebut tetap terjaga tertib. Benarlah jika dalam beberapa head-line media nasional menulisnya dengan tajuk: "Aksi Bela Islam yang bermartabat".

Hanya saja, ada "secuil insiden" ulah provokator (yang saat ini masih diperiksa oleh pihak kepolisian), yang terjadi di depan istana Presiden, saat Ulama dan umat masih berdzikir dan sholawatan ba'da Isya di depan istana (seperti yang terlihat ditayangan breaking news di stasiun media i-news TV), saat peserta aksi masih tenang tersebut di depan istana Presiden, "tiba-tiba" sang provokator berulah dihadapan pihak keamanan polisi, dan peserta aksi akhirnya berhamburan karena ulah provokator membuat polisi pun akhirnya menembakkan gas air mata untuk pembubaran massa aksi yang masih bertahan di depan istana. Tapi, "secuil insiden" ulah provokator tersebut tidak merubah citra aksi bela Islam 4/11/2016 tersebut di akui sebagai aksi terbesar yang pernah ada di Indonesia dan berlangsung tertib dan bermartabat.

Hanya saja, seluruh elemen masyarakat di Indonesia menyesalkan sikap Presiden Jokowi yang lebih memilih melihat proyek kereta bandara dari pada mempersiapkan diri untuk bertemu dengan umat aksi bela Islam. Begitu juga sikap wakil presiden Jusuf Kalla yang lebih memilih melihat aksi sebatas melalui layar TV. 

Sampai akhirnya setelah lama Ulama dan umat menunggu Presiden Jokowi tapi tidak muncul juga, akhirnya perwakilan pemerintah dihadapi oleh wakil presiden Jusuf Kalla yang berjanji kepada perwakilan Aksi bela Islam (Ustadz Backtiar Nasir dan beberapa Ulama), bahwa dalam waktu dua minggu Insya Allah masalah kasus penistaan akidah Islam oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok akan segera di proses ke jalur hukum oleh Polri.

Setelah situasi kondusif, barulah Jumat malam 4/11/2016, melalui beberapa stasiun TV Presiden Jokowi muncul menampakkan diri untuk mengucapkan simpati atas aksi bela Islam yang berlangsung damai, akan tetapi Presiden Jokowi menyayangkan atas terjadinya insiden di depan istana yang membuat polisi harus menembakkan gas air mata dan ulama serta umat menjadi berhamburan. Dan Presiden Jokowi sempat menyebut aksi bela Islam ada terkait digerakkan oleh aktor politik, meskipun Presiden Jokowi tidak transparan atau bias dalam menyebutkan siapa aktor politik yang dimaksudkan tersebut. Dan statemen Presiden Jokowi tersebut malah memunculkan polemik baru serta keheranan bagi publik.

Dari sikap Presiden Jokowi tersebut, ber-statemen bahwa aksi bela Islam 4/11/2016 digerakkan oleh partai politik, hal itu semakin memperlihatkan, bahwa Presiden Jokowi sedang memainkan gaya statemen ber-ALIBI. 

Disaat Presiden Jokowi senantiasa minimalis menjawab setiap pertanyaan wartawan (saat di wawancara di stasiun TV) terkait aksi bela Islam, dan Presiden Jokowi pun tidak hadir menemui umat Islam yang hendak menjumpai Beliau di istana negara, lalu tiba-tiba pula Presiden Jokowi mengeluarkan pernyataan resmi di istana negara dengan pengawalan seluruh komponen institusi TNI, Polri termasuk pejabat kementrian yang disiarkan distasiun TV, Presiden Jokowi ber-statemen bahwa aksi bela Islam digerakkan aktor politik.

Semoga umat bisa tenang dan tetap kritis atas statemen Presiden Jokowi terkait aksi bela Islam yang dikaitkan dengan "sosok" penggerak aksi bela Islam dari kalangan partai politik.

Kita bisa lihat, betapa pemerintahan NKRI dalam hal ini terwakili melalui kepemimpinan Presiden Jokowi terlihat panik dalam statemen politiknya yang singkat tersebut dalam menyikapi aktifitas aksi bela Islam oleh jutaan kaum Muslimin di Indonesia.

Dari statemen tersebut, Presiden ingin melempar "kambing hitam", pada parpol, padahal kita ketahui bersama apapun profesi kita, maka wajib bagi kaum Muslimin untuk bela Islam dan tidak boleh dihalang-halangi. Fardhu hukumnya bagi seorang Muslim untuk menjaga nama baik Islam.

Alibi yang Presiden lakukan, hendak menutup "ke-absenan" dirinya dalam respon cepat yang seharusnya dilakukan oleh Presiden sebagai penanggung jawab umat. Terlebih lagi kasus Ahok, adalah masalah yang menyerang identitas kehormatan kaum Muslimin, yang bisa menyulut kemarahan kaum Muslimin seluruh dunia.

Ini mau dilihat dari sisi ranah hukum pun, Presiden Jokowi sebetulnya juga terkena teguran, atas kelalaiannya yang membuat umat akhirnya bergerilya mencari keadilan hukum untuk membela Islam, yang berawal 4/11/2016. 

Ini memang sangat nyata, Allah Swt sedang memperlihatkan kepada kita kaum Muslimin, betapa sebuah sistem politik import demokrasi yang bukan berasal dari Islam, kemudian jika diterapkan di tengah kaum Muslimin maka akan berdampak kepada ketidakberesan dalam pengaturan urusan umat. Dan figur kepemimpinan yang muncul dari produk sistem politik Demokrasi akan tidak jauh dengan stigma ruwaibidhah. Terjadinya pragmatisme dan ambiguitas serta tidak jarang muncul karakter egosentris dari sang pemimpin. Seperti yang kita rasakan saat ini. 

Presiden Jokowi yang notabene adalah pemimpin tapi tidak hadir disaat "momentum yang tepat" saat umat dari kaum Muslimin di Indonesia ingin bermuhasabah kepadanya (Jumat 4/11/2016) terkait penegakan hukum dan keadilan bagi umat Islam, yang telah merasa dihina oleh Ahok "oknum" pejabat negara yang telah menistakan akidah Islam diruang publik.

Berbeda dengan Panglima TNI Jedral Gatot Nurmantyo yang sudah sejak awal senantiasa memberikan apresiasi positif bahwa aksi bela Islam adalah hak nya umat jadi jangan sampai ada yang tercederai. Bahkan beliau melarang pihak keamanan bersikap represif dalam mengawal peserta aksi bela Islam. 

Termasuk statemen Panglima TNI dalam program Metro TV "mata najwa", beliau sempat mengatakan, "karena kaum muslimin tidak punya tempat di program TV mata najwa sehingga kaum Muslim akhirnya turun ke jalan". Hal tersebut merupakan sindiran politik Panglima TNI, seperti diketahui karena selama ini netizen bereaksi terhadap Metro TV sebagai media yang terkesan disrkiminatif dalam mengungkap berita persoalan kaum Muslimin.

Seperti inilah paradigma perpolitikan dampak diterapkannya sistem politik demokrasi yang berlandaskan #Sekularisme, sistem yang telah memisahkan urusan agama dan kehidupan. 

Saat perpolitikan dipisahkan dengan urusan agama, maka perpolitikan jauh dari amaliyah ahsanu amalan yang di atur oleh Allah Swt dan dicontohkan Rasulullah Saw.

Perpolitikan yang dijauhkan dari unsur agama juga akan memunculkan politisi arogan, politisi sombong, politisi angkuh, politisi yang beramaliyah sesuai hawa nafsunya. Tentu hal tersebut akan berdampak pada kacaunya kondisi keamanan dan kenyamanan ditengah umat. 

Umat pun akan menuai kelelahan dan kepayahan hidup, jika untuk mendapatkan keadilan saja dalam sistem politik demokrasi, maka umat harus marathon berbondong-bondong aksi terus, demonstrasi dulu, baru negara bergerak peduli dari kelalaiannya.

JANGAN ADA ALIBI DUSTA ANTARA PEMIMPIN DAN UMAT

Ini sebetulnya kesempatan bagi kita semua kaum Muslimin untuk menyadarkan umat betapa bengisnya sistem politik demokrasi yang berlandaskan sekularisme, yang jelas-jelas bertolak belakang dengan Islam.

Sudah saatnya, persoalan ini membuat umat #Hijrah kepada sistem Islam yang diturukan Allah Swt dan Rasul-Nya. Kaum Muslimin fardhu untuk berada dalam sistem politik institusi Islam Khilafah yang menerapkan syariah Islan secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan.

Sistem politik #Demokrasi yang di import dari dunia barat bersistem kufur, telah terbukti tidak memberikan solusi yang tuntas dan shohih bagi persoalan kaum Muslimin. Subhanallahu wabihamdihi. 

Oleh : Yuli S Ridwan, S.H.]
...................................................
#BelaQuran
#KapolriTangkapAhok
#SyariahDanKhilafah
#TangkapAhok
#Muhasabah
#TolakDemokrasi

No comments

Copyright © . Lemahireng Info All Right Reserved - KabarIslam | Berita Panas | Info Cerdas | Viral News | Nasional Hot | Tips Sehat | Updatechno | Breaking .
Powered by Blogger.