Di Media Australia, Ahok Sebut Peserta Aksi Damai 411 Dapat Uang Rp 500 Ribu -->

Iklan Semua Halaman

DUNIA ISLAM

Di Media Australia, Ahok Sebut Peserta Aksi Damai 411 Dapat Uang Rp 500 Ribu

Jumat, 18 November 2016
Gubernur (non-aktif) DKI Jakarta tersangka kasus penistaan agama, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), rupanya tak kapok dengan aktraksi lidahnya di depan publik.

Dalam pernyataan baru-baru ini, ia menyebut Aksi Bela Islam II (Aksi Damai 411) yang dihadiri jutaan orang sebagai aksi bayaran.



Dalam wawancara eksklusif dengan 7.30 ABC, Ahok menuduh para pengkritiknya korupsi.

Ia mengatakan akmi besar massal umat Muslim, Jumat (04/11/2016), sebagai aksi kelompok ‘garis keras’ berlatar belakang politik, dan para pendemo menerima Rp 500.000 agar hadir.

“I need to go to the court to prove this is political and not the law (Saya harus pergi ke pengadilan untuk membuktikan ini merupakan politik dan bukan hukum),” ujarnya mengatakan pada 7.30 ABC.

Namun, dalam wawancara itu Ahok itu tidak mengatakan siapa yang mendanai kerusuhan tersebut.

“I don’t know, we don’t know, but I believe the President knows from the intelligence, I believe they know (Saya tidak tahu, kami tidak tahu, tetapi saya kira Presiden tahu dari intelijen, saya kira mereka tahu),” katanya dikutip laman abc.net, Rabu (16/11/2016).

“It is not easy, you send more than 100,000 people, most of them, if you look at the news, they said they got the money, 500,000 Rupiah (Tidaklah mudah, Anda mengirim lebih dari 100.000 orang, kebanyakan dari mereka, jika Anda melihat berita, mereka mengatakan mereka mendapatkan uang, 500.000 rupiah),”ujar Ahok.

Ahok Dilaporkan

Atas kasus ini, hari Rabu, Komunitas Alumni Institut Pertanian Bogor (IPB), akan segera menuntut Ahok secara hukum.

Diberitakan hidayatullah.com sebelumnya, Koordinator Forum Alumni Muslim IPB (FAM-IPB), Sirod M Rasoma, menyatakan, Ahok telah menjadi public enemy (musuh publik) yang dapat memicu disintegrasi bangsa.

“Dengan status tersangka pun, Ahok tidak bisa menjaga mulutnya yang tidak beradab itu.

Karakter Ahok tidak mewakili kesantunan masyarakat Belitung dan etnis China. Jadi sebaiknya polisi menahan tersangka Ahok,’’ ujar Sirod yang mengaku keturunan China.

Alumnus Fakultas Tekhnologi Pertanian ini mengungkapkan, FAM-IPB ikut aksi pada 4 November lalu di Jakarta dengan biaya saweran.


“Kami iuran dari kantong sendiri hingga terhimpun dana jutaan rupiah untuk bekal demo. Sama sekali tidak ada kucuran dana dari pihak lain,’’ terang Sirod yang juga seorang pengusaha pengolahan air limbah.* Panji, Nashirul Haq AR

ACTA Laporkan Ahok ke Bareskrim

Sejumlah pihak telah dan akan melaporkan Ahok ke kepolisian terkait dugaan fitnah dan penghinaan tersebut.

Salah satunya Advokat Cinta Tanah Air (ACTA), yang telah melaporkan Ahok terkait tudingan tersebut.

Laporan disampaikan perwakilan ACTA, Habiburokhman, di Gedung Bareskrim Polri, Kementerian Kelautan dan Perikanan, kawasan Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (17/11/2016).

Habiburokhman mengatakan, pernyataan yang diduga fitnah itu pihaknya dapatkan dari laman mobile.abc.net.au dengan judul berita “Jakarta Governor Ahok Suspect in blasphemy case, Indonesia Police say” yang dipublikasikan pada Rabu (16/11/2016).

“Di dalamnya juga terdapat rekaman video pernyataan langsung Ahok yang secara garis besar mengatakan ‘It’s not easy, you send more than 100.000 people, most of them if you look at the news, said they got the money 500.000 rupiahs‘,” ujar Habiburokhman dikutip ROL dari Antara.

Menurut dia, selain berisi dugaan fitnah, berita tersebut juga menggambarkan sikap Ahok yang sama sekali tidak merasa bersalah. Ahok juga dinilainya tidak menyesal atas apa yang membuat dirinya menjadi tersangka kasus penistaan agama, Rabu (16/11/2016).

“Di saat situasi yang mulai mereda saat ini, Ahok malah terkesan kembali ingin menimbulkan gesekan,” jelasnya.

Ia menyatakan, perlu dicatat, banyak di antara peserta Aksi Bela Islam II, 4 November itu, para ulama. Sehingga, menuduh peserta aksi itu dibayar sama saja dengan menghina ulama.

Sementara itu, Herdiansyah, pelapor dari kasus ini mengatakan, pihaknya sebagai WNI diatur untuk mengemukakan pendapatnya di muka umum.

Ia mengaku dirinya tergerak untuk turun dalam unjuk rasa damai yang juga disebut Aksi Bela Al-Qur’an itu.

“Tapi saya difitnah dengan mengatakan saya dibayar Rp 500 ribu. Tolong tunjukkan siapa yang dibayar itu dalam aksi 4 November. Saya, kan, peserta aksi nah saya termasuk. Kalau memang Pak Ahok tahu ada yang dibayar, tunjukkan siapa itu karena saya merasa itu dituduhkan karena saya peserta aksi 4 November,” tuturnya.

Sehari sebelumnya, Badan Reserse Kriminal Polri resmi menetapkan Ahok sebagai tersangka kasus penistaan agama.

Kasus itu terkait ucapan Ahok yang dilontarkan saat melakukan kunjungan kerja ke Kepulauan Seribu sebagai Gubernur DKI Jakarta pada 27 September 2016.*
Source : Hidayatullah