ANDA TIDAK MENGHORMATI ULAMA, MR PRESIDENT !

Iklan Semua Halaman

DUNIA ISLAM

ANDA TIDAK MENGHORMATI ULAMA, MR PRESIDENT !

Sabtu, 05 November 2016
Hari Jumat, 4 November 2016 ratusan ribu atau mungkin mencapai jutaan muslim turun ke jalan. Mereka datang dari berbagai daerah. Sebagian dari mereka ada yang menghabiskan malam di perjalanan, ada juga yang bermalam di berbagai mesjid-mesjid untuk menyampaikan perasaan hati mereka kepada pemerintah, khususnya Anda, Mr. President!

Anda mungkin membaca atau mendengar laporan bahwa berbus-bus muslim termasuk para ulama, ajengan, pimpinan pondok pesantren, habaib, kyai dan ustadz datang dengan harapan ghirah keimanan mereka dapat direspon oleh pemerintah. Mereka bukan orang sembarangan. Mereka adalah tokoh-tokoh umat, orang-orang alim, dan penyampai lidah umat.

ANDA TIDAK MENGHORMATI ULAMA, MR PRESIDENT !

Mereka bukan orang bayaran seperti sangkaan perempuan blonde, Sidney Jones, yang bertanya darimana dana sebesar itu didatangkan untuk membuat agenda ‘raksasa’ ini. Kita maklum karena ia memang sering dibayar untuk menyudutkan umat Islam.

Mereka juga bukan orang beringas seperti yang digembar-gemborkan banyak media massa yang gemar membuat cerita miring tentang umat Islam. Bahkan mereka tak rela lihat sampah berceceran. Ada pasukan pembersih sampah yang sebagai bukti kemuliaan akhlak Islam.


Tapi sayang, Anda tak berada di sana. Anda, Mr. President, justru membuang badan. Anda tak menemui mereka. Padahal Anda tahu mereka bukan orang sembarangan. Apakah Anda lupa bahwa ulama adalah pewaris nabi? Bahwa tak mudah bagi seorang ulama untuk turun ke jalan kalau bukan untuk sesuatu yang penting menurut keyakinan mereka?


Tapi Anda membuat niat baik dan aspirasi mereka menjadi seperti debu beterbangan. Hanya untuk menengok proyek yang sebenarnya cukuplah seorang dirjen saja yang melongoknya. Mungkin cost proyek itu besar, tapi apakah Anda tak berhitung bahwa cost politik dan sosial yang harus Anda tebus jauh lebih besar dengan mengabaikan ratusan ribu – mungkin jutaan – muslim yang telah turun ke jalan hari ini? Termasuk para alim ulamanya?


Anda bisa meluangkan waktu menemui pimpinan parpol sebelum tanggal 4. Anda juga mau saja ditemui Ahok sebelumnya, tapi mengapa Anda justru mengabaikan aspirasi jutaan orang dan tokoh-tokoh umat? Kalau Anda atau pendukung Anda berpikir toh massa sudah ditemui pemerintah juga? Wakil presiden, menteri-menteri, dan aparat kepolisian. Tapi adilkah semua itu secara moral?


Tokoh politik langsung Anda sambangi, Ahok pun Anda temui face to face. Padahal apa hebatnya mereka dibandingkan aspirasi jutaan muslim yang hadir hari ini. Jangan lupa, di belakang mereka masih ada lagi berjuta-juta muslim yang juga punya aspirasi serupa tapi tak sempat ikut turun ke jalan. Mereka hanya puncak gunung es aspirasi mayoritas muslim.


Tokoh politik tak ada artinya tanpa basis massa. Apalagi Ahok, dialah sumber persoalan ketegangan sosial dan politik belakangan ini. 


Lalu mengapa Anda tak mau menemui perwakilan umat Islam?

Anda sungguh tak adil!
Anda mengecewakan kami!
Anda tak punya adab pada ulama-ulama kami!
Anda harus tahu, ketika seorang santri dipanggil ulama, mereka merasa terhormat dan sangat menjaga adab untuk memuliakan mereka. Bahkan mereka berebut ingin berkunjung ke rumah guru-guru mereka seraya ta’zhim pada mereka.


Tapi Anda, ketika ulama ingin menyambangi istana Anda (tepatnya rumah rakyat!), Anda malah membuang badan dan membuang muka. Dimana adab Anda? Kalau Anda beralasan sebagian besar dari mereka bukan pemilih Anda saat pemilu, tapi bukankah sekarang Anda adalah pemimpin mereka? Dan dalam khazanah politik Islam seorang pemimpin adalah pelayan rakyatnya. Lalu dimana Anda ketika mereka meminta hak untuk Anda layani?


Sikap Anda justru membuat hubungan umat Islam dengan Anda semakin buruk. Bukan karena kecurigaan umat, tapi karena sikap politik Anda sendiri yang memutuskan jembatan komunikasi dengan simpul-simpul umat, para ulama.


Anda mungkin merasa didukung oleh sebagian ulama yang selalu setia memberikan stempel YES pada kekuasaan Anda. Tapi ketika Anda tak bisa merangkul umat dan membuka telinga.


Oleh : Iwan Januar