Sentilan Pedas Hasyim Muzadi Kepada Nusron Wahid yang Melotot-lotot

Iklan Semua Halaman

DUNIA ISLAM

Sentilan Pedas Hasyim Muzadi Kepada Nusron Wahid yang Melotot-lotot

Rabu, 26 Oktober 2016
Mantan Ketua Umum PBNU KH A Hasyim Muzadi mengatakan, pemikiran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kini sudah tak utuh. Ia juga prihatin, Rais Aam Syuriah PBNU sebagai pemimpin tertinggi ternyata tidak dihormati bahkan dilawan oleh jajaran Tanfidziah.

Kyai Hasyim mencontohkan kasus Ahok yang dinilai telah melakukan penghinaan terhadap Alquran dan ulama. Dalam hal ini KH Ma’ruf Amin, Rais Aam PBNU yang juga Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) berpendapat Ahok telah menghina Alquran tetapi ternyata dilawan secara terbuka oleh salah seorang Ketua PBNU, Nusron Wahid. 

“Masa kyai dilawan dengan melotot-melotot,” ungkap Kyai Hasyim Muzadi dalam acara PW IKA PMII Jawa Timur di Surabaya, Senin (24/11/2016). Para peserta yang terdiri dari alumni PMII dan aktivis PMII pun langsung tertawa.

Menurut Kyai Hasyim, pengurus NU tidak cukup hanya pintar dari segi pemikiran tapi juga harus punya etika. Karena itu ia mengaku heran terhadap Nusron. Apalagi dari segi keilmuan KH Ma’ruf Amin jelas lebih alim ketimbang Nusron Wahid. 

”Yang mimpin NU itu Rais Aam apa Rais Awam,” sentil mantan Ketua Umum PBNU dua periode itu. Lagi-lagi peserta tertawa.

Pengasuh Pesantren Al Hikam Depok ini menekankan, ulama harus jadi patokan umat khususnya warga NU. 

”Sekarang pathokan itu malah diseret-seret wedhus (kambing),” katanya disambut tepuk tangan peserta. ”Sekarang ini kyai malah dipidatoni politisi. Seharusnya kyai yang menjadi pegangan para pengurus partai politik,” tambahnya.

Menurut dia, kasus-kasus ini terjadi akibat pengurus NU meninggalkan Khittah 26. Kini para politisi mengendalikan mindset NU. 

”Ini bahaya, karena NU kehilangan marwah atau muru'ah dan tidak dihargai baik oleh warga NU maupun oleh organisasi-organisasi di luar NU,” tegas Sekjen ICIS ini. Begitu juga di tingkat nasional maupun internasional, NU tidak punya pengaruh signifikan.

Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) itu mengingatkan pidato KH Ahmad Siddiq saat menutup Muktamar NU ke-27 di Situbondo Jawa Timur pada 1984 silam. 

Saat itu, menurut Kyai Hasyim, Kyai Ahmad Siddiq menyatakan bahwa NU itu ibarat kereta api, bukan mobil taksi. ”Relnya jelas, stasiunnya jelas. 
Di mana akan berhenti juga jelas,” katanya. Sehingga tak bisa berhenti sembarangan, berbeda dengan mobil taksi. 

”Kalau mobil taksi tergantung yang menyewa,” katanya. Sehingga bisa berhenti sembarangan. 

Sentilan Pedas Hasyim Muzadi Kepada Nusron Wahid yang Melotot-lotot
Ia menyindir, ketika didatangi calon gubernur non muslim muncul pernyataan bahwa pemimpin non muslim yang adil lebih baik ketimbang muslim tapi tidak adil. 

Tapi ketika datang calon lain pernyataannya berubah lagi. Akibatnya NU tak punya muruah dan tak dihargai umat Islam, termasuk tak dihargai warga NU sendiri. ( Suaraislam)