"Spesial Ulasan" Tanjung balai dan Tolikara bukti ketidakadilan di negeri ini

Iklan Semua Halaman

DUNIA ISLAM

"Spesial Ulasan" Tanjung balai dan Tolikara bukti ketidakadilan di negeri ini

Sabtu, 06 Agustus 2016
Mantan anggota DPR RI, Maiyasyak Johan, menilai ada perlakukan dan penangan yang berbeda oleh pemerintah atas peristiwa Tolikara dan Tanjung Balai. Dia khawatir hal ini bisa memicu ketidakpuasan dan menodai keadilan masyarakat. Ada apa dengan pemerintah?
Tanjung balai dan Tolikara bukti ketidak adilan di negeri ini
"Dari dua peristiwa ini, kita melihat ada perlakuan berbeda yang diberikan pemerintah dan media massa. Pertanyaannya, ketika ketidakadilan diperontonkan, apakah yang akan kita tuai?," papar Maiyasyak, mantan anggota DPR Dapil Sumatera Utara melalui pesan tertulis, Rabu (3/8/2016) di Jakarta.

Dia mengungkapkan pada peristiwa Tolikara, sebagaimana dilaporkan media massa, digerakkan tokoh agama. Juga dimulai dari surat edaran yang ditujukan kepada pemerintah dan aparat, ada pengkondisian untuk menggalang massa dan ada pula yang memimpin massa dilapangan.

"Mereka itu (pada peristiwa Tolikara-red) tak perduli atas larangan dari aparat yang menjaga orang beribadah - dan akhirnya umat Islam tidak bisa ber-ibadah dan masjid terbakar. Pelakunya, tak ada yang diproses secara, bahkan diterima di Istana," papar mantan Anggota Komisi III DPR dari Fraksi PPP ini.

Sedang pada peristiwa di Tanjung Balai, menurut Maiyasyak, tak ada tokoh yang terlibat. Selain itu juga tak ada pengkondisian. Aksi yang terjadi adalah reaksi atas sikap agresif, arogan dan provokatif (mendatangi masjid dengan marah-marah dan melarang azan) yang dilakukan oleh seorang wanita etnis tertentu.

"Jadi nyata lebih bersifat spontan, pelakunya rata-rata remaja dan pemuda tanggung. Yang terlibat aksi sejumlah remaja dan anak muda ditahan, tuduhan digeser ke-arah kriminal yaitu penjarahan," papar Maiyasyak. Menurut dia hal itu jelas sangat berbeda saat aparat dan pemerintah menangani peristiwa Tolikara.

JK Salahkan Speaker Masjid

Sedangkan Menurut JK, pengurus masjid kerap menyetel rekaman pengajian menjelang azan dalam durasi yang cukup lama, yaitu sekitar 25 menit. Padahal, kata dia, jamaah yang akan datang ke masjid tidak memerlukan waktu hingga setengah jam.

"Pengajiannya setengah jam, padahal orang datang ke masjid hanya lima menit, masak pengajiannya setengah jam," tuturnya.

Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) ini mengatakan jumlah masjid di Indonesia adalah yang terbanyak di dunia. Jumlahnya mencapai sekitar 800 ribu masjid. Artinya, rata-rata untuk setiap 250 orang Islam di Indonesia ada masjid. Jumlah masjid pun berdekatan. "Di Jakarta, setiap 500 meter ada masjid," katanya.

Berdasarkan hal itu, kata JK, waktu tempuh jemaah ke masjid tidak akan lama, yaitu sekitar lima menit. Suara loudspeaker, Kalla melanjutkan, seharusnya juga tidak terlalu besar agar tidak mengganggu banyak orang.

Baru Sekarang Ada yang Protes Adzan

Sekretaris Pusat Ham Muslim Indonesia (Pushami) Aziz Yanuar,SH menyatakan harusnya Dalam menyikapi peristiwa pembakaran Vihara di Tanjung Balai, Sumatera Utara pemerintah dan aparat keamanan harus bertindak bijak dan proporsional.

"Yang harus digaris bawahi pemicunya itu adalah tindakan warga minoritas yang arogan dan tidak toleran serta melanggar aturan dan kesopanan disana. Dia wajib ditindak agar kericuhan tidak terulang lagi dan menyebar di wilayah lain,"  Tegasnya.

Lebih lanjut lagi Menurutnya, untuk mengatasi konflik horizontal itu kuncinya dengan menegakkan keadilan dan proporsional. "Jika itu tidak dilakukan maka pemerintah sudah menabur benih perpecahan dan kerusuhan yang akan meledak lebih besar lagi suatu hari nanti," jelasnya.

Kata Aziz, selama 71 tahun Indonesia merdeka, tidak pernah ada yang protes adzan berkumandang, baru sekarang ada. "Ini artinya bukan adzan dan speakernya yang jadi masalah, tetapi mereka yang mulai menyerang ajaran Islam," terangnya.

"Dan kalau masalah speaker ini diakomodir maka pasti mereka akan minta diakomodir masalah lainnya seperti misalnya waktu jumatan dibatasi atau hari raya Idul Adha dilarang memotong hewan kurban seperti di Jakarta. Waktu bulan puasa kemarin masalah penutupan warung itu juga bagian dari 'test water' dari mereka yang anti Islam," tambahnya.

Kronologi kejadian  yang Memicu Kerusuhan di Tanjung Balai

Sekretaris Badan Kemakmuran Masjid (BKM), Dailami menuturkan, bahwa sudah sejak lama Merliana melakukan protes terhadap suara yang keluar dari pelantang masjid.

“Terakhir, 5 hari sebelum kerusuhan dia (Meriana, red) menyampaikan keberatannya soal suara dari masjid,” ujarnya dikutip dari Hidayatullah.com, Senin (1/8/2016).

Namun setelah melaksanakan sholat maghrib pada Jum’at (29/07), dirinya bersama seorang pengurus masjid lain bernama Haristua Marpaung memutuskan untuk mendatangi rumah Merliana yang berada persis di depan Masjid Al-Makshum, guna menanyakan ihwal kebaratannya tersebut.

Namun, kata Dailami, setelah membuka pintu, Meriana justru menjawab pertanyaan dirinya dan Haristua dengan nada yang dinilai menantang.

“Itu bising kami terganggu. Kau tahu! Pekak telingaku dengar suara dari corong tu, tak tentram aku,” ucapnya dengan logat Medan menirukan Merliana.

Sejurus kemudian, sambungnya, ikut keluar juga dari rumah Meriana, anak laki-laki dan suaminya.

“Anaknya juga menantang. Kalau suaminya dia justru minta maaf,” diakui Dailami.

Ia mengungkapkan, cekcok tersebut cukup mengundang kemarahan jamaah. Bahkan, kata dia, sampai pak Zul (penggilan salah seorang pengurus masjid yang dituakan dan dikenal pendiam) juga ikut kesal dengan perkataan Merliana hingga mengeluarkan kata-kata makian.

Kejadian itu, tambah Dailami, sekaligus menyulut keramaian warga yang juga dikarenakan posisi tempat mereka adu mulut berada tepat di pinggir jalan.

Akhirnya setelah sholat Isya, ia menceritakan, bahwa pihak Kepala Lingkungan (Kepling) memutuskan membawa Meriana beserta suami dan anaknya ke kantor lurah untuk menyelesaikan perkara tersebut.

Disana, papar Dailami, juga hadir pengurus masjid atau BKM, lurah, beberapa polisi dan koramil.

“Tapi rupanya Merliana tetap ngotot tidak mau minta maaf dan meminta masjid berhenti melantangkan suara adzan,” katanya.

Kemudian dikarenakan pertemuan tersebut buntu dan tak membuahkan kesepatakan. Ditambah kondisi massa yang sudah semakin memanas. Dailami mengatakan, proses mediasi dibawa ke Polres Tanjungbalai dengan dipimpin langsung oleh Wakapolres serta dihadiri Ketua MUI Tanjung Balai.

Tetapi, lanjutnya, sebelum sempat berpindah ke Polres Tanjung Balai. Didapatkan informasi bahwa rumah Merliana sudah diserang massa. Terjadi pelemparan dan pembakaran.

Sahrir Tanjung, salah seorang imam masjid Al-Makshum yang rumahnya tak jauh dari rumah Merliana, saat terjadi penyerangan mengaku, berusaha menghentikan massa yang membakar rumah Merliana.

“Untung api tidak sempat besar, karena kita juga takut, kan disamping rumah Merliana itu ada tabung (agen gas elpiji), kalau meledak macam mana,” ujar Sahrir saat ditemui di rumahnya.

Menurut dia, karena merasa tak puas, massa pun akhirnya melanjutkan penyerangan dan aksi pembakaran ke Vihara dan Klenteng yang berada di sekitar Kota Tanjungbalai.

Dari data yang dihimpun di lokasi, terdapat 15 Vihara, Klenteng dan Yayasan Sosial yang dirusak massa. Terdiri dari 6 terbakar, 5 rusak berat, dan 4 rusak ringan.

Ketika Umat islam terusik

"Sebenarnya umat Islam itu tidak akan mengganggu kalau ketenangannya dalam beribadah tidak diusik. Jadi ini ada sebab akibat yang terjadi," ujar Ketua Pusat Ham Muslim Indonesia (Pushami) Muhammad Hariadi Nasution SH MH kepada Suara Islam Online, Selasa (2/7/2016).

Pria yang biasa disapa Ombat itu mengatakan, aparat harus jeli dan objektif dalam menangani kasus ini. "Karena kasus ini justru bisa jadi preseden buruk buat umat Islam dan menjadikan umat Islam merasa didiskriminasi hak asasinya sebagai warga mayoritas di Indonesia," jelasnya.

Pihak kepolisian seharusnya memproses hukum yang telah mempermasalahkan adzan, kata Ombat.

Karena itu, kata dia, umat Islam jangan pernah menyerah karena ini adalah hak ibadah yang harus dipertahankan. "Dari zaman penjajahan kafir Portugis, Belanda, Jepang umat Islam di Indonesia belum pernah dipermasalahkan suara adzan itu. Karena jika persoalan ibadah sampai diganggu umat Islam bisa marah dan bangkit bersatu untuk melawan!" tegas Ombat.

Seperti diketahui, sikap intoleran Meliana tersebut menyebabkan warga marah. Dan kemarahan itu meluas melalui media sosial sehingga menimbulkan kerusuhan di Tanjungbalai. Dalam kerusuhan itu, polisi telah menahan 12 orang warga yang dituding sebagai pelaku pengrusakan dan pembakaran Vihara. Sementara Meliana hanya dijadikan sebagai saksi. (berbagai simber)