Ahok dan Risma menjadi ujian berat bagi Ulama dan kaum muslim

Iklan Semua Halaman

DUNIA ISLAM

Ahok dan Risma menjadi ujian berat bagi Ulama dan kaum muslim

Selasa, 09 Agustus 2016
1.Saya pernah bertamu ke rumah seorang Kyai di saat ramai Pilgub DKI 2012-2017. Saat itu sedang ramai dibicarakan oleh para ulama akan memilih siapa, Foke atau Jokowi tapi memiliki wakil orang kafir.

2. Ternyata, pak Kyai yang kami kunjungi juga sedang galau. Seingat saya, beliau mengatakan

‘Kalau kita memilih Foke, yaa kita sudah tahu sepak terjangnya bagaimana…. lalu, kalau kita pilih Jokowi, dia memiliki wakil non-Muslim. Kalau nanti Jokowi ini jadi maju ke Pilpres, maka kita akan dipimpin orang kafir…

3. Hal yang sama terjadi kali ini jika Bu Risma benar akan melawan Ahok

4. Apakah akan memilih pemimpin laki-laki tapi kafir, atau muslim tapi perempuan.
5. Dalil larangan memilih pemimpin Kafir:

- “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN/PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Alloh, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Alloh memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Alloh kembali (mu).” QS. Aali ‘Imraan : 28

- “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Alloh (untuk menyiksamu) ?” QS. 4. An-Nisaa’ : 144

- “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi PEMIMPINMU, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Alloh jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.” QS. 5. Al-Maa-idah : 57

6. Dan masih banyak lagi

7. Saya yakin, jika Bu Risma jadi maju ke DKI, dalil-dalil semisal akan bertebaran dimana-mana layaknya dalil keharaman memilih wanita sebagai pemimpin saat Pilpres dulu Bu Mega saat itu maju jadi Capres


8. Dalil larangan memilih wanita sebagai pemimpin

- “Kami tiada mengutus Rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka. “ (QS. Al-Anbiyaa’: 7)

- “Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri.” (QS. Yusuf: 109)

- “Dan kalau Kami bermaksud menjadikan Rasul itu dari golongan malaikat, tentulah Kami jadikan dia berupa laki-laki.” (QS. Al-An’aam: 9)

- “Kaum laki-laki itu pelindung bagi kaum wanita.” (QS. An-Nisaa’: 34)

- “Dan anak laki-laki tidaklah sama dengan anak perempuan.” (QS. Ali Imran: 36)

- “Diriwayatkan dari Abu Bakrah, katanya: Tatkala sampai berita kepada Rasulullah bahwa orang-orang Persia mengangkat raja puteri Kaisar, Beliau bersabda: Tidak akan pernah beruntung keadaan suatu kaum yang menyerahkan kepemimpinannya pada seorang perempuan.” (HR. Bukhari, Turmudzi dan An-Nasa’i)

9. Lalu, pilih yang mana jika keduanya dilarang dalam Syariah Islam? | Apakah kita tidak bisa mengambil yang lebih ringan kerusakannya?

10. Coba perhatikan ilustrasi berikut ini:

11. Ada seorang yang sedang kehausan, kemudian ia masuk ke Kedai Khamr berharap menemukan air putih. Disana ternyata tidak ada air putih, yang ada arak atau khamr dari tingkat yang paling ringan sampai yang paling berat tingkat memabokkannya.

12. Apakah Anda akan menggunakan qaidah ‘ambil yang paling ringan’ untuk kemudian menghalalkan arak/khamr yang jelas di larang oleh Islam?

13. Tapi kan tidak ada pilihan lain? | Iya, jika Anda tetap berada di Kedai Khamr itu, maka Anda tidak memiliki pilihan minuman lain. Tapi, kenapa Anda tidak keluar dari Kedai Khamr itu dan memilih Kedai lain yang menjual air putih?

14. Sama, menggunakan Qaidah ‘ambil yang lebih ringan’ tidak bisa digunakan untuk memilih 2 pemimpin dengan kriteria diatas (laki tapi kafir, muslim tapi perempuan)

15. Maka, coba keluar dari kedai Demokrasi, dan beralih ke kedai lain. Bukannya ada kedai lain yang seharusnya dipilih dan diperjuangkan untuk tegaknya Syariah Islam?
**
Coba perhatikan ini
**
1. Qaidah ambil yang lebih ringan

- Qaidah Ahwanusy syarroini (أهون الشرين) yaitu: melakukan yang paling ringan dari dua perkara yang buruk

- Qaidah Aqalu al-dhararain (أقل الضررين): yaitu melakukan yang paling sedikit bahayanya dari dua perkara yang berbahaya

- Qaidah Akhafu al-mafsadatain (أخف المفسدتين),yaitu melakukan yang paling ringan dari dua perkara yang merusak

- Qaidah Dar’ul mafsadat al akbar bil mafsadat al ashghar (درء المفسدة الأكبر بالمفسدة الأصغر),yaitu menangkal kerusakan yang paling besar dengan melakukan kerusakan yang paling kecil

2. Qaidah-Qaidah tersebut maknanya sama.

3. Sebagian ulama dan intelektual muslim ada yang melegalisasi beberapa aktifitas yang diharamkan. Baik untuk dirinya atau untuk orang lain dengan menggunakan;

4. Contoh:

- Membolehkan lokalisasi zina dan judi dengan alasan jika tidak dilokalisasi akan menimbulkan bahaya yang lebih besar yaitu menyebarluasnya perzinaan dan perjudiaan di tengah masyarakat.

- Membolehkan ada di parlemen atau memilih pemimpin/wakil rakyat muslim yang sekuler dengan alasan jika itu tidak dilakukan akan munccul bahaya yang lebih besar yaitu kepemimpinan dan parlemen akan dikuasai oleh non muslim.

5. Apa makna yang sebenarnya dari Qaidah tersebut dan bagaimana menerapkannya?

Tulisan ini akan membahas hakikat makna syar’iy dari Qaidah tersebut.

6. Ulama yang mengambil Qaidah ini telah memahami batasan-batasan dan objek-objek pengamalannya. Karena itu Qaidah ini tidak bisa dijadikan seolah-olah secara mutlak selalu syar’iy untuk diterapkan atau diamalkan tanpa terikat dengan syarat-syarat yang telah ditentukan. Kemudian Qaidah ini dijadikan sebagai legalisasi terhadap beberapa perkara yang diharamkan untuk menipu kaum muslimin.

7. Qaidah syar’iyah bukan nash syara melainkan hanya sebatas hukum syara. Karena Qaidah ini redaksinya dibuat oleh manusia yaitu ahli fiqh atau mujtahid. Nash syara itu hanya ada dua yaitu Al Qur’an dan As Sunnah. Namun akan sangat tepat hukum syara ini jika disebut dengan istillah dengan Qaidah bukan hukum syara.

8. Berdasarkan hal ini apabila terjadi perbedaan pendapat tentang Qaidah ini atau tentang penerapannya maka wajib merujuk kepada sumbernya yaitu nash-nash syara. Nash syara inilah yang akan menjelaskan maknanya, batasan penerapannya, objek-objeknya dan pengecualiannya.

9. Berkaitan dengan permasalahan ini kita perlu memperhatikan bahwa maslahat dan mafsadat bukan berarti manfaat dan bahaya menurut perasaan manusia melainkan maslahat dan mafsadat yang sesuai dengan perintah atau larangan Allah.

10. Imam Gazali pernah berkata:

“Kemaslahatan menurut asalnya adalah manfaat dan bahaya menurut selera dan perasaan. Namun yang dimaksud di sini bukan itu, karena mengambil manfaat dan menolak mafsadat seperti itu adalah tujuan manusia dan kemaslahatan manusia untuk menghasilkan tujuan-tujuan mereka. Yang dimaksud dengan maslahat yang sebenarnya adalah menjaga tujuan-tujuan syariat yaitu menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga akal, menjaga keturunan dan menjaga harta.”

11. Berdasarkan penjelasan di atas menggunakan Qaidah “أهون الشرين ” untuk menfatwakan kebolehan melakukkan perkara yang diharamkan bukan pada kondisi-kondisi yang telah disebutkan tadi adalah fatwa yang bertentangan dengan wahyu yang tidak pernah dikatakan oleh para ulama yang jujur.

12. Rasulullah saw bersabda:

من أفتى بغير علم لعنته ملائكة السماء والأرض

“Siapa yang memberikan fatwa tanpa ilmu maka ia akan dilaknat oleh malaikat langit dan bumi (hadits hasan ditakhrij oleh Asy Suyuti dalam kitab Al Jamiush shagir).

13. Maka, perkataan "Pilihlah si A meski sekuler, fasik atau pilih si A walau perempuan, tapi di muslim. kita tidak bisa memilih si B yang Kafir.

14. Atau perkataan sejenisnya adalah perkataan yang tertolak secara syar’i, siapa pun yang mengatakannya.

15. Yang harus dikatakan dalam maslah ini adalah dua pilihan yang dilontarkan kepada kita itu, kedua-duanya adalah perkara yang diharamkan. Karena kita tidak boleh memilih pemimpin wanita dan tidak boleh memilih pemimpin yang kafir.

16. Karena walau memilih si A yang muslim walau perempuan, yang jadi masalah selain statusnya sebagai perempuan yang sudah dilarang, juga saat ia memerintah tidak akan diterapkannya hukum Allah, Syariah Islam, melainkan akan tetap melanjutkan aturan yang sudah berlaku yakni aturan berdasarkan Demokrasi dan Sekulerisme.

17. Maka kita tidak boleh memilih kedua-duanya. Karena memilih si A atau memilih si B sama saja haramnya. Dan karena tidak memilih si A atau si B ada dalam batas kemampuan kita.

18. Karena kita masih memiliki pilihan untuk meninggalkan si A dan si B berserta sistem yang ada untuk kemudian memilih untuk memperjuangkan tegaknya Syariah Islam yang akan melahirkan pemimpin yang sesuai dengan syarat-syarat yang sudah dibaku di dalam Islam yakni;

- Muslim
- Laki-laki
- Balligh
- Adil
- Merdeka
- Memiliki kemampuan
- (Tunduk kepada Syariah Islam)

19. Bagaimana jika ada ulama yang masuk bilik suara, padahal di dalam bilik ia tidak memilih namun saat keluar bilik ia mencelupkan jari?

20. Itu urusan beliau dengan Allah. Di hadapan Allah, boleh saja ia terbukti tidak memilih namun di hadapan manusia, ia terlihat sebagai orang yang telah memilih.

21. Jika ia memiliki pengikut, kemudian pengikutnya melakukan hal yang sama (masuk bilik tapi tidak memilih) atau pengikutnya masuk bilik dan memilih karena mereka melihat apa yang mereka lihat dari mulai beliau masuk bilik dan mencelupkan jari, dimana akhirnya mereka berkesimpulan bahwa ulama panutan mereka juga memilih…

22. Maka, itu urusan beliau dengan Allah. Kita tidak bisa menilainya.

23. Makanya, saya katakan, ini akan menjadi ujian bagi ‘Ulama dan kaum muslim.

Sumber: Fb Syamsul Arifin