Daftar nama Gembong Narkoba yang akan di eksekusi beserta ulasan kasusnya -->

Iklan Semua Halaman

DUNIA ISLAM

Daftar nama Gembong Narkoba yang akan di eksekusi beserta ulasan kasusnya

Kamis, 28 Juli 2016
Meskipun masih simpang siur terkait nama-nama terpidana kasus Narkoba yang akan di eksekusi regu tembak.Setidaknya beragam nama-nama yang muncul sudah bisa menjadi acuan siapa saja mereka. 
Daftar nama Gembong Narkoba yang akan di eksekusi beserta ulasan kasusnya
Mereka adalah Humprey Ejike (Nigeria), Seck Osmane (Afrika Selatan), Zhu Xu Xhiong (China), Cheng Hong Xin (China), Gang Chung Yi (China), Jian Yu Xin (China),  A Yam (Indonesia), Jun Hao alias A Heng alias Vass Liem (Indonesia), Zulfikar Ali (Pakistan), Suryanto, Agus Hadi, Pujo Lestari dan Merry Utami,Ozias Sibanda,Fredderikk Luttar,Freddy Budiman

1.Humprey Ejike (Nigeria)

Humprey Ejike masuk dalam daftar terpidana narkoba yang akan eksekusi mati jilid III.Nama lainnya adalah Doktor atau Koko,dia itu telah ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Pasir Putih, Nusakambangan.

Ia diketahui sebagai otak dari sindikat narkoba di Depok yang telah ditangkap atas kepemilikan dan memperjualbelikan 1,7 kilogram heroin.
Ejike ditangkap di rumah makan miliknya di kawasan Jakarta Pusat.

Heroin senilai Rp 8 miliar ditemukan usai petugas melakukan penggeledahan pada Agustus 2003.Berdasarkan keputusan majelis hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Ejike divonis hukuman mati.

2.Seck Osmane (Afrika Selatan)

Seck Osmane dijatuhi hukuman mati oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Juli 2004, didakwa atas kepemilikan 3 kilogram heroin di kamar indekosnya di Lebak Bulus Jakarta Selatan.

3. Zhu Xu Xhiong (China)

No-Reg MT.40/D/2007, lahir 10-06-1971, laki laki, Budha, SD. Putusan No.771.K/PID/2007 dalam perkara pasal 59 UU No.5/1997 tentang Psikotropika.

4. A Yam (Indonesia)

A Yam dan A Heng alias Vass Liem alias Jun Hao,  yang divonis mati oleh Pengadilan Negeri Tanjung Pinang dalam kasus pengelolaan pabrik ekstasi

5.Jun Hao alias A Heng alias Vass Liem (Indonesia)

Terpidana mati asal Tanjungbalai Karimun bersama rekannya telah menghabisi dua orang korbannya dan salah satu korban diperkosa.  Dia adalah pemilik pabrik ekstasi dan tertangkap dengan barang bukti 14.726 butir pil ekstasi beberapa tahun lalu di Kecamatan Meral.

6.Cheng Hong Xin (China)

Cheng Tin Kei dihukum mati karena terbukti bukti memiliki 360 Kg sabu. Dia adalah anggota kartel sabu internasional asal Hong Kong, Cheng . Dia terbukti bersalah melakukan penyelundupan sabu seberat 360 kg dari Cina ke Indonesia.

Kasus Cheng bermula ketika pada Jumat 10 Juli 2015 Subdit III Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya mendapatkan laporan adanya transkasi sabu yang dilakukan oleh Cheng.  Polisi langsung membuntuti (surveillance) dan menemukan adanya seorang laki-laki dengan ciri-ciri sesuai dengan informasi. Pria asal Hong Kong itu masuk ke dalam ruko Bisnis Park, Jalan Pluit Karang Karya Timur, Jakarta Utara, sekitar pukul 11.00 WIB.

Ketika Cheng keluar dari ruko dengan naik motor, polisi seketika menangkapnya. Polisi menggeledah motor Cheng. Hasilnya, polisi menemukan barang bukti sabu seberat 10 kg. Polisi menggeledah mobil Cheng di tempat terpisah dan mendapatkan 350 kg sabu. 

7.Gang Chung Yi (China)

No-Reg MT. 36/2007, laki laki, budha SD. Putusan No.771.K/PID/2007/ MA RI dalam perkara Pasal 59 UU No. 5/1997 tentang Psikotropika

8.Jian Yu Xin (China)

Sebenarnya Jian Yu Xin masih satu komplotan dengan dengan Zhu Xu Xhiong, Cheng Hong Xin, Gang Chung Yi.

Keempatnya dinyatakan bersalah usai upaya penggeledahan dilakukan di sebuah pabrik sabu di Banten pada 2005 lalu.

Mereka dituduh atas aksi penyelundupan narkoba dan mendapat vonis hukuman mati.
Keempatnya diketahui ateis dan ketika ditanyai soal apa yang mereka imani, mereka hanya menyebut nama pemimpin komunis Tiongkok, Mao Zedong.

Itu sebabnya tidak ada pembimbing spiritual dikirim untuk empat orang itu, yang akan menemani mereka menghadapi masa-masa menjelang ajalnya.
Meski demikian, keluarga empat warga Tiongkok itu akan datang dan diperkirakan tiba di Cilacap pada Rabu (27/7/2016) atau Kamis (28/7/2016) mendatang.

9.Zulfikar Ali (Pakistan)

Ali, bapak enam anak itu, ditangkap di kediamannya di Jawa Barat pada 21 November 2004 dan dituduh memiliki 300 gram heroin.Menurut kuasa hukumnya Ali, Saut Edward Rajagukguk Proses hukum tidak adil (unfair trial) diduga terjadi pada persidangan kasus narkotik yang mengorbankan kliennya.Dia  menjelaskan, pada 22 November 2004 kliennya ditangkap di rumahnya pada kawasan Ciampea, Bogor, oleh polisi. Penangkapan dilakukan atas pengembangan penangkapan seorang warga negara India Gurdip Singh pada 29 Agustus 2004.

Ali disebut harus bertanggungjawab atas keberadaan narkotik jenis heroin seberat 300 gram yang ditemukan Kepolisian Resor Bandara Soekarno-Hatta ketika dibawa Gurdip Singh. Usai ditangkap Singh mengaku bahwa ia membawa heroin menuju Malang atas perintah Ali.

Berbekal pengakuan tersebut, polisi pun bergerak untuk menangkap Ali. Saat penangkapan dilakukan, polisi disebut tak menemukan satu pun barang bukti narkotik dari kediaman Ali dan istrinya.

Menurut Saut, wajar jika tak ada narkotik yang ditemukan pada diri Ali. Sebabnya, Ali diyakini bukan orang yang menyuruh Singh membawa heroin dari Jakarta menuju Malang saat itu.

Ali disebut baru kenal dengan Singh dua bulan sebelum sang warga India ditangkap. Ia memang diakui membelikan tiket pesawat untuk Singh menuju Malang. Namun, pembelian itu dilakukan atas permintaan Singh kepada Ali.

"Pada 29 Agustus 2004 Gurdip Singh meneleponnya (Ali) dan minta tolong agar dibelikan tiket tujuan Surabaya. Ali tidak mengetahui tujuan Singh ke Surabaya. Sebagai teman Ali hanya membantu membeli tiket,” katanya

"Tiga bulan kemudian polisi mendatangi Rumah kontrakan Ali di Bogor. Pihak kepolisian datang tanpa memperlihatkan surat penangkapan atau disaksikan pengurus RT dan RW setempat," kata Saut di kantor LSM Imparsial, Jakarta.

Proses hukum pun dilalui Ali pasca dirinya ditangkap Polisi. Selama menjalani proses hukum itulah ketidakadilan disebut semakin menjadi-jadi.

Saut mengungkapkan, kliennya kerap mengalami penyiksaan agar mengaku memiliki heroin 300 gram. Selain itu, Ali juga tak pernah didampingi penasehat hukum dan penerjemah hingga sidang perdana di Pengadilan Negeri Tangerang digelar.

Tak hanya penyiksaan dan ketiadaan penasehat hukum, Ali juga dikatakan pernah mendapat tawaran 'berdamai' agar tak mendapat hukuman. Saut berkata, tawaran damai diberikan kepada Ali dengan imbalan mahar uang.

Karena merasa tak bersalah, Ali pun tak pernah memenuhi tawaran damai tersebut. Akibatnya, proses hukum Ali pun berlanjut.Hingga akhirnya masuk daftar eksekusi mati jilid 3 mendatang.

10.Suryanto

Suryanto alias Ationg Bin Swehong disebut sebagai otak utama penyelundupan sebanyak 25.499 butir ekstasi dari Malaysia ke Batam.Ia ditangkap bersama dua orang lainnya.
Rencananya, dia akan menulis surat untuk Presiden Jokowi agar bisa bebas dari eksekusi mati.

Jawa Pos (grup batampos.co.id) berhasil menembus Nusakambangan bersama kerabat terpidana mati dan mendapatkan komentar dari Suryanto beberapa waktu lalu. Suryanto saat itu sedang duduk di dalam area Lapas Batu. Tubuhnya ceking, bahkan kepalanya tampak lebih besar dari tubuhnya. Tidak proporsional. Raut mukanya memang tampak tenang.

Saat itu dia mengenakan kemeja kotak-kotak yang warnanya sudah memudar dan celana jeans biru yang sudah mulai memutih. Dia berbeda dengan napi lain yang biasanya merokok. ”Saya memang sejak awal tidak merokok,” ujarnya terpatah-patah.

Dengan wajah cukup tenang, dia mulai menceritakan bagaimana tanggapannya soal eksekusi mati. Awalnya, dia mulai curiga dirinya akan dieksekusi karena dipindahkan dari Lapas Batam ke Lapas Batu, Nusakambangan. ”Pemindahan ini dilakukan mendadak,” tuturnya.

Kepanikan jelang eksekusi mati

Hal itu membuatnya panik, sebab Nusakambangan merupakan lokasi eksekusi terpidana mati tahap I dan II. Apalagi, jaksa dan sipir tidak menjelaskan sama sekali alasan pemindahan tersebut. ”Saya hanya bisa menurut saja,” ujarnya.

Namun, ada hal yang cukup menyakitkan. Yakni, keluarganya tidak diberitahukan pemindahan tersebut. Padahal, Suryanto sudah berbulan-bulan tidak bertemu dengan keluarganya. ”Mereka belum menjenguk saya lebih dari tiga bulan,” terangnya, lalu terdiam.

Beberapa menit kemudian, dia kembali menuturkan, jangan-jangan hingga saat ini keluarga belum mengetahui bahwa dirinya dipindah ke Nusakambangan. ”Saya hingga saat ini belum komunikasi dengan keluarga. Saya tidak punya uang untuk menelepon,” tuturnya.
Disiksa saat penyidikan

Apa ada rencana untuk melakukan proses hukum? Dia mengakui bahwa hingga saat ini memang belum mengajukan peninjauan kembali (PK). Namun, selain PK, dirinya ingin menulis surat pernyataan yang ditujukan pada Presiden Jokowi. ”Saya ingin menceritakan semuanya,” tuturnya.

Misalnya, soal proses penyelidikan dan penyidikan yang dialaminya. Menurutnya, selama dalam kedua proses itu, banyak sekali siksaan yang dihadapinya. Pukulan dan tendangan jadi makanan sehari-hari. ”Kami terpaksa mengakui seperti yang diinginkan petugas,” jelasnya.

Yang juga memberatkannya adalah penggunaan pasal internasional, sehingga membuatnya divonis hukuman mati. ”Padahal, saya baru sekali itu melakukannya dan karena terbujuk Bandar,” tuturnya.

Ketidakpastian hukuman terhadap dirinya juga membuatnya merasa dihukum dua kali. Dia menuturkan, dirinya sudah dipenjara sekitar sembilan tahun, lalu sekarang ada rencana eksekusi mati. ”Padahal, dalam vonis saya tidak ada hukuman penjara,” paparnya.
Dengan itu semua, Suryanto mempertanyakan, apakah tidak boleh mendapatkan satu kesempatan lagi untuk hidup.

”Pak Jokowi, tolong beri kami kesempatan sekali saja. Saya pastikan saya tidak akan mengulangi kesalahan itu,” keluhnya dengan mata yang mulai memerah.

Kalau pun bisa, sebelum eksekusi mati dilakukan, Presiden Jokowi bisa bertemu dengan dirinya. Dengan begitu, maka Jokowi bakal bisa menilai bagaimana kepribadiannya. ”Kalau bisa ketemu presiden, tentu saya akan membuka semuanya,” jelasnya.

Tidak hanya itu, untuk menjadi peringatan bagi pengedar dan pengguna narkotika, Suryanto juga akan menuliskan semua kisah hidupnya. Harapannya, semua pengedar dan pengguna belajar dari hidupnya. ”Biar semua bisa tobat dan menjauhi narkotika,” tegasnya.
Bertemu John key

Sementara, ternyata Suryanto di lingkungan barunya mendapatkan sambutan yang tidak disangka-sangka. Dia menuturkan bahwa dirinya dan kedua rekannya, dijamu oleh John Kei.


”Dia membelikan kami makanan nasi ayam di luar makanan penjara. Di kantin lapas itu,” tuturnya.

Hampir setiap hari, John Kei memberikan jamuan tersebut. Dia menuturkan, kondisi ini cukup berbeda dengan yang terjadi di Lapas Batam. ”Kalau di Lapas Batam itu tidak semanusiawi di Lapas Batu,” ujarnya.

Sementara, John Kei yang juga berhasil ditemui Jawa Pos menuturkan bahwa jamuan itu merupakan kewajiban dirinya untuk membantu terpidana. ”Itu kewajiban kita, harus saling membantu,” paparnya singkat.

11.Agus Hadi

Dalam persidangan PK saat itu, Charles Lubis selaku kuasa pemohon sempat mengajukan novum (bukti baru) yakni pengakuan Suryanto alias Ationg yang menyatakan bahwa kedua terpidana mati yakni Agus Hadi alias Oki dan Pudjo Lestari bin Kateno hanya sebagai kurir yang membawa barang titipan dari Ong (DPO) dari Malaysia ke Batam.

Charles Lubis mengajukan bukti baru yakni tulisan tangan dari Suryanto yang isinya mengatakan bahwa kedua terpidana merupakan anak buah kapal yang hanya menerima barang titipan dari Ong atas permintaan dari Ationg.

Acin, isteri Agus Hadi (Oki) saat dihubungi melalui selulernya juga mengaku masih belum bisa memutuskan apakah ia akan mengunjungi suaminya di Nusakambangan atau tidak. Pasalnya hingga saat ini pihak keluarga belum memiliki uang yang cukup untuk menjenguk Agus Hadi.

"Kami belum punya uang. Rencananya kami akan menggalang dana untuk ongkos kesana (Nusakambangan red). Saat suami saya masih di Lapas Batam, saya sering menjenguknya. Kondisi terakhir dia sehat dan terlihat sedikit gemuk," ujar Acin.

Acin mengaku terpukul terhadap putusan Pengadilan Negeri Batam atas suaminya, pasalnya suaminya hanya sebatas kurir. Ia menilai hakim PN Batam tidak adil dalam memutuskan perkara tersebut.

"Suami saya kan sebatas kurir, masa bandar dan kurir mendapatkan hukuman yang sama beratnya. Kami sekeluarga sangat terpukul, saya dan ketiga anak saya sampai saat ini selalu menangis," ujar Acin.

12.Pujo Lestari 

Beredarnya kabar rencana Jaksa Agung mengeksekusi mati Pujo Lestari juga sampai ke sejumlah tetangga Pujo. Sejumlah tetangga Pujo tidak yakin jika Pujo terlibat langsung dalam penyelundupan narkoba dari Malaysia ke Batam.

H Kharim, tetangga Pujo saat ditemui di rumahnya mengungkapkan, ia sudah mengenal Pujo sejak kecil. Selain pernah menjadi guru Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) tempat Pujo menimba ilmu, H Kharim merupakan Lurah di tempat tinggal Pujo. 

Menurut Kharim, Pujo adalah sosok yang ramah, suka membantu, penurut dan tidak sama dengan pemuda-pemuda pada umumnya. "Mungkin karena keluguan Pujo, sindikat narkoba memanfaatkan dia. Saya sangat menyayangkan putusan hakim yang telah memvonis mati Pujo," ujarnya.

Sepengetahuan Kharim, Pujo hanya bekerja di sebuah kapal pengangkut sembako. Sebelum Pujo ditangkap polisi, ibu Pujo memang sempat keluar masuk rumah sakit karena mengidap penyakit yang parah. Namun, ia tidak yakin, jika Pujo terpaksa menjadi kurir narkoba untuk membiayai perobatan ibunya. "Saya tidak yakin dengan alasan itu. Saya tau betul Pujo seperti apa. 

Saya yakin dia dimanfaatkan sindikat narkoba," pungkas Kharim.
Adik Pujo saat ditemui di rumahnya, Rabu (11/5) mengaku hanya bisa berharap ada mukjizat agar abang kandungnya terlepas dari eksekusi mati dan bisa berkumpul bersama isteri dan kedua anaknya. 

Adik perempuan Pujo Lestari ini juga menilai jika putusan hakim Pengadilan Negeri Batam pada 13 Agustus 2007 lalu sangat berlebihan, pasalnya ia yakin jika abangnya hanya korban dari sindikat narkoba.

"Setelah grasi ditolak Presiden Joko Widodo dan PK ditolak oleh MA pada 2015 lalu, seluruh harapan kami telah hancur. Saat ini saya hanya berharap adanya mukjizat dari Tuhan," ujar warga Kelurahan Selatpanjang Selatan, Kecamatan Tebingtinggi ini.

Menurut perempuan yang mengajar di salah satu sekolah swasta di Selatpanjang ini, kondisi Pujo terakhir saat dikunjungi pihak keluarga beberapa waktu lalu di Lapas Kelas II A Barelang, Batam sehat dan tabah. Namun, pihak keluarga belum mengetahui kondisi Pujo setelah dipindahkan ke Nusakambangan, Minggu (8/5) pagi kemarin.

"Setelah ia dipindahkan ke Nusakambangan, kami belum ada rencana mengunjungi dia. Kami belum ada biaya untuk mengunjungi Pujo," ujar Nr.

Nr menuturkan, tertangkapnya Pujo merupakan pukulan berat bagi keluarga. Pasalnya, setelah ibunya meninggal, Pujo ditangkap polisi karena kasus penyelundupan belasan ribu narkotika jenis pil ekstasi dan Happy Five dari Malaysia menuju Batam pada 2006 lalu. 

Beban Nr berlanjut ketika kedua anak Pujo harus melanjutkan ke tingkat sekolah menengah pertama. "Saya dan keluarga ipar mas Pujo lah yang menanggung biaya hidup isteri dan kedua anaknya. Saya kasihan dengan kedua anaknya, hingga saat ini kedua anaknya belum tau jika bapaknya terpidana mati," ujar Nr.

13.Merry Utami

Saat ini, ibu beranak dua itu sudah ditempatkan di ruang isolasi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, sejak Minggu, 24 Juli. Komisi Nasional (Komnas) Perempuan baru saja mengunjungi dan berbincang dengan Merri serta 4 terpidana mati perempuan lain.

"Kami menemukan fakta adanya kerentanan berlapis terhadap nasib perempuan-perempuan ini," kata Wakil Ketua Komnas Perempuan Yuniyanti Chuzaifah dalam konferensi pers di kantornya pada Selasa, 26 Juli.

Ia menemuan kalau sebagian besar perempuan terpidana mati memiliki latar belakang serupa: buruh migran dan lemah secara finansial.

Korban KDRT

Nasib serupa jualah yang menimpa Merri, yang sejak 1990-an sudah menjadi buruh migran di Taiwan. Kepada komisioner Komnas Perempuan, Merri mengatakan kalau awalnya dipaksa oleh sang suami.

Setelah 2 tahun berlalu, Merri mengetahui kalau suaminya ternyata tidak memanfaatkan uang yang dikirimnya dari sana dengan baik. Selama Merri membanting tulang, suaminya justru berfoya-foya dengan berjudi dan membeli miras — bahkan berselingkuh dengan perempuan lain.

Setiap kembali ke Indonesia, Merri juga kerap menerima perlakuan kasar. Pada usia 25 tahun, ia memutuskan untuk bercerai, namun tetap bekerja di Taiwan untuk menghidupi dua anaknya.

Pada 2001, ia bertemu dengan Jerry — oknum pria yang kelak menjebloskannya dalam sindikat narkoba — saat mengurus dokumen kerja di Sarinah, Jakarta.

"Jerry mengaku sebagai warga negara Kanada dan memiliki bisnis dagang di Indonesia," kata Yuniyanti.

Berangkat dari pertemuan tersebut, keduanya kemudian menjalin hubungan asmara selama tiga bulan. Menurut pengakuan Merri, Jerry adalah sosok yang mesra dan romantis. Akhirnya, pada 16 Oktober 2001, mereka sepakat untuk melancong ke Nepal.

Keanehan muncul saat Merri, yang janjian bertemu dengan Jerry di Thailand saat transit, justru ditinggal terbang. Akhirnya, mereka bertemu di Nepal dan berlibur selama 3 hari.
Jerry akhirnya pamit duluan ke Jakarta pada 20 Oktober 2001, dengan dalih mengurus bisnis. Ia meminta Merri untuk tetap tinggal di Nepal karena ada barang yang hendak diberikan.

"Itu adalah tas tangan, karena menurut dia tas Merri sudah jelek," kata Komisioner Advokasi Internasional Komnas Perempuan Adriana Venny. Barang tersebut baru diserahkan sepekan kemudian lewat dua teman Jerry, Muhammad dan Badru.

Merri sempat bertanya mengapa tas tersebut berat. Keduanya berkilah kalau tas itu terbuat dari kulit asli yang berkualitas bagus dan kuat. Belakangan diketahui kalau di bagian dalamnya telah disisipi heroin seberat 1,1 kilogram.

Setelahnya, pada 31 Oktober 2001, Merri kembali Indonesia lewat Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Selama penerbangan, ia membawa serta tas tangan pemberian itu di dalam kabin.

Ia sudah sempat meninggalkan bandara dan hampir menaiki taksi, saat teringat kalau kopernya tertinggal. "Merri senang sekali, karena kata Jerry kalau kembali ke Jakarta mau dinikahi," kata Venny.

Merri masuk kembali ke bandara untuk mengambil kopernya di bagian Lost & Found. Namun, saat hendak keluar, petugas meminta supaya tas tangannya dipindai di mesin X-ray.

Karena merasa tidak menyembunyikan barang terlarang, Merri menyerahkan tasnya. Dari situlah terungkap keberadaan heroin. Panik, ia pun segera menghubungi Jerry dan teman-temannya. Namun, hasilnya nihil.

Kekerasan saat interogasi

Merri diboyong polisi bandara (Polsek Cengkareng) untuk pemeriksaan lebih lanjut. Di situ, ia menerima siksaan berupa pukulan bertubi-tubi. "Supaya ia mau mengaku sebagai pemilik heroin," kata Venny.

Karena bungkam, ia pun dibawa ke tempat lain, yaitu sebuah hotel di mana beberapa interogator menggerayangi tubuhnya, bahkan mencoba memerkosa. Hal tersebut tidak berhenti saat akhirnya ia dibawa ke reserse narkoba Polri, yang tidak menghentikan siksaan terhadap dirinya.

"Ia sampai mengaku berpuasa supaya tidak disiksa, tapi tetap dipukuli," kata Venny. Kondisi ini juga yang membuatnya menandatangani Berita Acara Pemeriksaan (BAP) tanpa memahami detil dokumen tersebut.

Akibat siksaan tersebut, Merri mengalami gangguan penglihatan, di mana sering ada kilat putih yang memburamkan pandangannya.

Persidangan tak adil

Saat persidangan pertama di Pengadilan Tangerang, Merri hanya didampingi pengacara negara, yang menurut Komnas Perempuan tidak terlalu getol melakukan pembelaan. Hakim juga cenderung tutup telinga pada semua pembelaan Merri.

Dua fakta yang semakin memberatkan adalah, pandangan hakim yang tidak percaya kalau ia adalah korban penipuan. "Dalihnya, semua kurir narkoba juga selalu memakai alasan sama," kata Komisioner Subkomisi Hukum dan Kebijakan Sri Nurherwati.

Selain itu, ternyata Merri Utami bukanlah nama asli, melainkan alias yang digunakan oleh agen perjalanan guna memuluskan dokumen Merri kerja di luar negeri.
"Menurut hakim, alasan dia mengubah nama adalah karena mau jadi kurir di Nepal. Padahal bukan," lanjut Nur.

Atas pertimbangan tersebut, Merri dijatuhi hukuman mati pada putusan tingkat pertama. Berbagai upaya, lewat banding maupun kasasi, selalu ditolak. Permintaan Peninjauan Kembali (PK) juga ditolak.
"Sudah keluar dari Agustus 2015, tapi baru diberikan ke PN Tangerang Maret 2016," kata Nur.
Saat ini, Merri dan pengacaranya menunggu grasi dari presiden.

Menunggu mati

Sudah hampir 15 tahun Merri mendekam di penjara. Berdasarkan wawancara Komnas Perempuan dengan petugas lapas, ia sangat aktif dalam kegiatan pembinaan.
"Ia rajin menanam tanaman organik, juga membuat lagu spiritual dan kerajinan tangan," kata Yuniyanti. Merri juga kerap memberi penguatan kepada sesama warga binaan, 
terutama bagi yang mendapat pidana seumur hidup dan sesama terpidana mati.
Selama itu pula, ia diasingkan oleh keluarganya. Saat anak perempuannya menikah, mantan suami Merri mengatakan kalau "ibunya sudah meninggal." Keluarga yang lain pun tak ada yang mencoba mengunjungi.

Satu-satunya yang masih peduli adalah sang putri yang rutin berkunjung. "Merri bilang kalau putrinya percaya dia tidak bersalah, dan itu sudah cukup baginya," kata Yuniyanti.
Perspektif lain memandang korban

Ketua Komnas Perempuan Azriana berharap presiden akan memberikan grasi kepada Merri, dan dapat melihat permasalahan narkoba ini dari perspektif gender. "Hukuman mati hanya menghilangkan korban, tokoh, tetapi tidak jaringannya," kata dia.

Menurut Azriana, sebenarnya yang harus dibongkar adalah jaringan sindikat narkoba, yang terus menjebak perempuan Indonesia yang miskin dan rentan untuk menjadi kurir. Bila tidak terbongkar dan para pelaku tetap berkeliaran, maka masih ada banyak Merri Utami lainnya di luar sana, yang akan terjerat. 

14.Obina Nwajagu (Nigeria)
Obina Nwajagu adalah satu dari sejumlah terpidana narkoba yang tengah menanti pelaksanaan eksekusi mati jilid III.

Nwajagu kedapatan hendak membeli 45 pil heroin seberat 400 gram dari seorang warga Thailand di Hotel Ibis Jakarta pada 2002 lalu.

Karena itu, ia kemudian diganjar vonis mati di Pengadilan Negeri Tangerang.
Pada Maret 2003, Nwajagu ditempatkan di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan, sembari menunggu waktu eksekusi.

Namun, alih-alih jera, Nwajagu malah sempat kembali berbisnis narkoba dari balik jeruji penjaranya.

Nwajagu bersama enam narapidana LP Nusakambangan lainnya lalu ditangkap Badan Narkotika Nasional pada 2012.


Segala upaya telah dilakukan Nwajagu untuk menghindar dari eksekusi mati, termasuk grasi yang hanya berakhir ditolak oleh Presiden Jokowi.

15.Ozias Sibanda
Sibanda ditangkap bersama tiga orang temannya yang sama-sama berkewarganegaraan Nigeria di bagian imigrasi Bandara Soekarno-Hatta pada 2001 lalu.
Ketiga temannya itu adalah Okwudili Ayotanze, Hansen Antony Nwaolisa, dan Samuel Uwuchukwu Okoye.

Mereka ditangkap atas upaya penyelundupan ribuan gram heroin.
Heroin tersebut ditemukan dalam bentuk kapsul, yang kemudian ditelan oleh Sibanda dan tiga orang temannya tersebut.

Sibanda dan dua temannya, Ayotanze dan Okoye, kemudian mendapat vonis mati dan sempat mengajukan grasi, yang kemudian ditolak.

Sebelumnya, Sibanda diidentifikasi sebagai warga Zimbabwe, lantaran membawa paspor Zimbabwe.

Namun, pihak Kedutaan Besar Zimbabwe di Malaysia menyebutkan hal itu keliru sebab paspor Zimbabwe yang dibawa Sibanda adalah hasil duplikat.

16.Fredderikk Luttar

Fredderikk Luttar termasuk menjadi terpidana narkoba yang tengah menanti pelaksanaan eksekusi mati jilid III.
Luttar merupakan terpidana mati asal Zimbabwe yang terkait kasus penyelundupan satu kilogram heroin.Ia ditangkap pada Maret 2006 lalu dalam sebuah penggerebekan di sebuah rumah di kawasan Meruya Utara, Jakarta Barat.

Dalam penggerebekan itu, ditemukan barang bukti berupa 10 kantong plastik berisi serbuk putih, yang ternyata adalah narkoba berjenis heroin.

Luttar lalu divonis mati oleh Pengadilan Negeri Jakarta Barat pada Agustus 2006.
Segala upaya sempat dilakukan Luttar, termasuk mengajukan banding dan peninjauan kembali (PK), namun itu semua tak mengubah nasibnya.


Sampai pengajuan grasinya ditolak presiden pada awal 2015 ini, Luttar tetap dalam penantian eksekusi matinya.


17.Freddy Budiman

Freddy Budiman termasuk satu dari sekian banyak terpidana narkoba yang tengah menanti pelaksanaan eksekusi mati jilid III.
Freddy telah berulangkali berurusan dengan hukum atas kasus narkoba.
Pada 2009, Freddy ditangkap atas tuduhan kepemilikan 500 gram sabu-sabu dan divonis hukuman bui tiga tahun empat bulan.

Pada 2011, pria itu kembali kedapatan menyimpan ratusan gram sabu-sabu, ditambah bahan pembuat narkoba jenis inex.
Ia lagi-lagi terkena kasus narkoba di Sumatera, yang membuatnya menghabiskan masa tahanan 18 tahun di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang.

Namun, berada di balik jeruji besi tak menghentikan Freddy dari bisnis narkoba.
Berbekal telepon genggam, bisnis tersebut terus digarapnya sembari menjalani waktu tahanan, sampai aksinya ketahuan Badan Narkotika Nasional.

Pada 2012, lebih dari sejuta butir ekstasi dari bisnisnya disita oleh pihak Badan Narkotika Nasional.

Seakan tak cukup, jaringan ekstasi internasional Belanda - Jakarta kemudian memunculkan nama Freddy sebagai yang terlibat dalam sindikat itu.
Vonis mati akhirnya dijatuhkan atas Freddy pada 15 Juli di Pengadilan Negeri Jakarta Barat.

Tapi, tetap saja hal itu tak menghalanginya untuk kembali berulah.
Ia ketahuan membawa tiga paket narkoba jenis sabu di celana dalamnya saat dipindahkan ke LP Nusakambangan.

Freddy sempat mengaku ingin bertobat dan berhenti menjadi pengedar, yang dikatakannya demi istri dan empat anaknya.


Pelaksanaan eksekusi mati terpidana narkoba jilid III dikabarkan akan jatuh pada pekan ini.
( Berbagai sumber )