Kepingan fakta Kasus Saenih yang tak diekspos oleh Kompas -->

Iklan Semua Halaman

DUNIA ISLAM

Kepingan fakta Kasus Saenih yang tak diekspos oleh Kompas

Senin, 20 Juni 2016
Buntut pemberitaan yang dinilai tendensius seputar razia warteg milik Saenih di Serang (8/6) lalu, sejumlah pengurus FPI (Front Pembela Islam) mendatangi kantor Kompas. Peristiwa ini cukup menjadi perhatian banyak orang, mengingat efek framing Kompas dalam seri berita itu cukup mengganggu perasaan kaum Muslimin yang tengah menjalani ibadah shaum. Sementara FPI dengan segenap atribut fakta maupun polesan media, selama ini dikenal sebagai kelompok keras dan intoleran.
 fakta Kasus Saenih
Dialog pengurus FPI, dengan Munarman sebagai juru bicaranya bersama jajaran redaktur Kompas, berjalan cukup lancar. Pesan-pesan tegas disampaikan Munarman dengan tutur bahasa yang tetap santun dan ramah. Diantara poin pentingnya, Munarman tidak berharap Kompas beralih membela Islam. Ia hanya berharap media itu bersikap adil dalam memainkan politik redaksinya.
Menanggapinya, Kompas sangat berharap hadirnya teman—yang tidak hanya memuji, namun juga berani meluruskan bila keliru. Kedatangan FPI dicontohkan sebagai wujud salah satu fungsi yang diharapkan. Entah ungkapan yang tulus keluar dari hati nurani terdalam, atau sekadar basa-basi sebagai obyek yang disorot banyak orang, bagi kita itu tidak penting.

Baca juga : Di Bulan Puasa, Ruben malah syuting makan siang diwarung Saeni
Yang pasti, aksi FPI di hari itu mungkin banyak mengecewakan pihak-pihak tertentu yang berharap mendapat umpan baru bagi kelanjutan framing berita Saenih yang lebih panas. Kamera yang semula siap mengabadikan aksi berangasan dan anarkis, harus kembali ke kotak penyimpanan tanpa ada berita yang ditampilkan. Selain mengecoh lawan, FPI telah memerankan diri sebagai wakil umat yang elegan dan berwibawa.
Babak baru tentang drama Ibu Saenih, pemilik warteg yang dirazia satpol PP Serang Banten kembali dimulai. Investigasi terhadap drama ini terus dilakukan guna menguak fakta sebenarnya yang banyak disembunyikan oleh media.

Bu Saenih Diberi Uang Satu Juta Oleh Kompas TV

Banner UtamaKalau sebelumnya diberitakan bahwa donasi untuk ibu Saenih mencapai ratusan juta dan berasal dari berbagai sumber – termasuk dari Presiden Jokowi, ternyata media Kompas TV yang mengangkat berita Ibu Saenih juga ikut memberikan sumbangan. Hal itu diakui oleh Wakil Pemimpin Redaksi Kompas TV, Yogi Arief Nugraha.


Menurut Yogi, medianya telah memberikan uang senilai satu juta rupiah kepada ibu Saenih, pemilik warteg yang melanggar perda No. 2 tahun 2010. Yogi mengatakan uang yang diberikan kepada ibu pedagang yang dirazia Satpol PP Kota Serang, Banten karena berjualan siang hari di bulan puasa sebagai dana nara sumber.

 “Uang satu juta itu, dana narsum. Itu ada biayanya,” kata Yogi kepada wartawan di Gedung Kompas, Jalan Palmerah Selatan No. 1, Jakarta Pusat seperti dikutip dari panjimas, Sabtu (18/6/2016).

Yogi menegaskan pemberian itu lazim diberikan kepada semua narasumber.

“Jadi bukan karena Kompas kasian, lalu diberikan satu juta. Engga. Itu kami berikan karena dia menjadi narasumber,” pungkasnya.

Sementara itu pengakuan berbeda terlontar dari Ibu Saenih. Ibu Saenih mengatakan dirinya telah menerima uang dari Kompas sebagai uang pengganti modal. Setelah dagangannya diangkut oleh Satpol PP.

“Saya baru menerima uang satu juta rupiah dari Kompas katanya sebagai uang pengganti modal,” kata bu Saenih saat diwawancara.
Sementara itu, sejumlah wartawan yang tergabung dalam JITU (Jurnalis Islam Bersatu) berhasil menemukan kepingan fakta yang tak diekspos oleh Kompas dan media mainstream lainnya. Kronologis razia yang sebelumnya menyisir warung-warung makan yang besar, fleksibilitas penerapan Perda di area khusus seperti terminal hingga sosok Saenih dan tanggapan warga Serang, misalnya, adalah temuan baru yang tak pernah dibeber sebelumnya.
Melalui investigasi yang langsung “disiarkan” lewat akun twitter, JITU berhasil memenuhi kehausan publik akan informasi yang jujur. Kejujuran itulah yang kemudian membuat umat kembali menemukan daya untuk bangkit, setelah sebelumnya tersungkur oleh berita manipulatif yang bertubi-tubi. Sejumlah alim ulama Banten pun bergiliran datang memberikan dukungan bagi penerapan Perda penghormatan bulan Ramadhan. Lapak sosial media kalangan Islam pun tumbuh kesadaran bahwa ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.
Dua peran yang dilakukan oleh FPI dan JITU cukup membangkitkan kepercayaan umat terhadap diri sendiri. Mereka sanggup bertahan dari bullyingdemi bullying yang di rezim pemerintah sekarang ini, sering terjadi. Kompas dan media lainnya boleh saja terus bermain-main dengan framing-framingtertentu yang menyudutkan Islam. Pemerintah pun bisa saja terus menyembunyikan niatan-niatan tertentu terhadap perda-perda yang akomodatif terhadap kepentingan umat Islam.
Mereka pun bisa memainkan jurus lempar batu sembunyi tangan. Gagah dan lantang mengumumkan pembatalan ribuan perda tepat setelah berita Saenih mencuat, namun menggantung dan menunda-nunda perda mana saja yang disikat. Siapapun bisa merancang tipudaya, termasuk begitu bernafsunya media asing melahap isu ini dengan bungkus Ramadhan Raid. Namun Allah, sebaik-baik pembuat rencana.
Ia hadirkan ujian itu kepada di saat kita sedang berada di bulan Ramadhan, bulan penuh tempaan iman. Bulan yang sebagian kaum Muslimin dalam kondisi iman di atas rata-rata dibanding hari-hari sebelumnya. Sehingga pun kita berani optimistis: berapapun mereka menanam ulah dengki dan benci, tohpada akhirnya umat Islam yang akan mengetam kemenangannya.