Profesor ini menemukan dokumen kecil berisi rencana pemberontakan PKI

Iklan Semua Halaman

DUNIA ISLAM

Profesor ini menemukan dokumen kecil berisi rencana pemberontakan PKI

Selasa, 17 Mei 2016
"Masyarakat harus tetap waspada dengan isu-isu yang seolah-olah PKI itu tidak kejam, bukan antiagama dan tetap berjuang untuk NKRI," ucap Guru Besar Sejarah Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Prof Dr H Aminuddin Kasdi MS dalam diskusi kecil di Surabaya.
Peneliti kelahiran Nganjuk, Jawa Timur, 9 Januari 1948 itu menilai, semua isu yang mengaburkan kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI) itu tidak didukung bukti historis.

"Saya justru menemukan dokumen kecil berisi rencana pemberontakan PKI dengan target untuk mendirikan Negara Komunis di Indonesia," kupas Prof Aminuddin seperti dikutip Antaranews.com.

Dokumen yang ditemukan itu berupa buku kecil atau buku saku tentang "ABC Revolusi" yang ditulis Comite Central PKI pada 1957 yang isinya menyebut tiga rencana revolusi atau pemberontakan oleh PKI untuk target Negara Komunis di Indonesia.

"Buku itu justru membuktikan bahwa rencana pemberontakan PKI yang diragukan sejumlah pihak itu ada dokumen historisnya, bahkan dokumen itu merinci tiga tahapan pemberontakan PKI yang semuanya gagal, lalu rumor pun diembuskan untuk mengaburkan fakta," ujar penulis tesis "Masalah Tanah dan Keresahan Petani di Jawa Timur 1960-1965" dalam diskusi yang dihadiri rekannya, Prof Dr Sam Abede Pareno.
Anggota Masyarakat Sejarawan Indonesia Jawa Timur itu menyatakan, temuan dokumen yang sudah lusuh itu tak terbantahkan.

"Kalau ada orang NU yang dituduh melakukan pembunuhan, itu bukan direncanakan, tapi reaksi balik atas sikap PKI sendiri yang menyebabkan chaos saat itu," tuturnya.
Mantan aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII/1963-1965), GP Ansor (1965-1968), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI, 1965-1975), dan Muhammadiyah (1976) itu mengungkapkan, sikap PKI memang menyakitkan.

"PKI melakukan provokasi dengan ludruk yang temanya menyakitkan, seperti matinya Tuhan, malaikat yang tidak menikah karena belum dikhitan, dan banyak lagi," tukasnya.
Oleh karena itu, ia menyatakan, masyarakat jangan terpengaruh dengan provokasi politik yang didukung sejumlah media massa untuk membesarkan PKI guna mengaburkan sejarah, seperti menunjukkan bahwa orang PKI juga ada yang menciptakan salah satu lagu nasional.

"Kita jangan terpancing dengan sisa-sisa orang PKI di berbagai lini yang berusaha membangkitkan mimpi tentang Negara Komunis melalui media massa, buku-buku dan semacamnya yang seolah-olah benar dengan bersumber testimoni. Ada sisa-sisa PKI bercokol di media," papar sejarawan Unesa itu.

Testimoni itu mungkin saja benar, dan ia menilai, namun testimoni itu bersumber dari individu-individu yang tidak mengetahui "skenario besar" dari PKI untuk mendirikan Negara Komunis di Indonesia.

"Saya bukan hanya testimoni, saya mempunyai bukti yang sangat gamblang dari dokumen PKI sendiri yang dikeluarkan CC PKI yang dipimpin DN Aidit itu. Jadi, rencana Negara Komunis Indonesia itu fakta historis," katanya menambahkan.

Aminuddin Kasdi juga menulis disertasi "Hubungan antara Pusat dan Daerah pada Periode Kartasura Akhir (1976-1745); Studi Peranan Cakraningrat IV dalam Merebut dan Mengembalikan Kraton Kartasura kepada Pakubowana II".

Ilusi kebangkitan komunisme

Sementara  kalangan liberal dan aktivis kiri hingga hari ini menampik isu bangkitnya Partai Komunis Indonesia (PKI) dan ideologi Komunis di Indonesia. Peneliti lembaga think tank di masa Orde Baru CSIS, Joseph Kristiadi, misalnya. Ia mengatakan bila komunisme sudah tidak laku lagi. 


Senada dengan Kristiadi, salah satu LSM liberal, Imparsial, juga berpendapat senada. Direktur Imparsial Al Araf menilai pasca perang dingin paham komunisme telah runtuh dengan jatuhnya Uni Soviet. Sehingga, isu komunisme dianggap sudah tak menjadi ancaman bagi dinamika keamanan dalam negara.

"Hanya sedikit negara-negara yang menerapkan paham komunis. Korut, China pun sudah bergeser menjadi kapitalis. Meski parpolnya komunis," tutur Al Araf di Kantor Staf Kepresidenan, Jakarta, Senin (16/5/2016), seperti dikutip Sindonews.com.

Karenanya, Al Araf menilai berlebihan jika sebagian pihak khususnya pemerintah terlalu khawatir dan takut jika masih dalam bayang-bayang paham komunisme.

"Sehingga kebangkitan komunisme adalah sebuah ilusi. Masyarakat jangan terjebak dari ilusi tentang kebangkitan komunisme itu," katanya.

Al Araf juga menganggap berlebihan terhadap aparat yang melakukan penyitaan buku-buku atau simbol kiri. Dia beralasan, fakta di lapangan ternyata yang dianggap simbol itu justru bentuk kreasi masyarakat yang tak ada hubungannya dengan paham terlarang tersebut.
Apalagi, klaimnya, pihak keamanan juga menyita sejumlah buku-buku yang menurutnya bentuk dari kebebasan berpikir dan kajian akademis yang tak bisa dibatasi. Al Araf menilai, belum tentu masyarakat yang membaca buku 'Karl Marx' ingin menjadi bagian dari paham komunisme tersebut.

"Malah bisa jadi dia mau kritik ideologi itu. Artinya itu bagian dari kebebasan berpikir yang tidak bisa dikriminalisasi. Sama dengan kaos, sampai kaos Munir yang menolak melawan lupa, disita. Itu kesalahan, di Ternate juga disita," pungkasnya. 

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Jenderal (Purn) Ryamizard Ryacudu mengatakan, dulu tidak terdengar bahaya laten komunis, namun kini isu tersebut muncul kembali. 

"Dulu sering sekali kita dengar bahaya laten ditertawakan, nggak ada itu bahaya laten, kemudian komunis sudah tidak ada lagi, tapi disebut-sebut sekarang muncul," imbuhnya.
Mantan KSAD ini malah mencurigai pihak yang menganggap PKI tidak ada dan menduga mereka yang beranggapan seperti itu adalah komunis. 

"Jadi kita patut mencurigai mereka yang bilang enggak ada (PKI). Mungkin dia yang komunis," tutur menantu mantan Wapres Try Sutrisno ini. 

Selama Komunis Berkuasa, Tiap Hari Ada 4500 Orang Dibantai

Taufiq Ismail, budayawan dan penyair kondang yang selama ini dikenal sebagai tokoh anti-PKI (Partai Komunis Indonesia) mengungkapkan kezaliman yang dilakukan komunis saat berkuasa di beberapa negara

"Selama rezim komunis berkuasa di dunia selama 74 tahun, mereka telah membantai sekitar 120 juta manusia," ungkapnya saat memberikan sambutan di acara silaturahim purnawirawan TNI/Polri serta ormas Islam di Balai Sarbini, Jakarta Selatan, Jumat (13/5/2016).

"120 juta manusia dalam waktu 74 tahun, itu artinya setiap hari ideologi komunisme membantai 4500 orang," jelas Taufiq.

Menurutnya, informasi tersebut baru terungkap setelah dilakukan penelitian oleh enam orang peneliti sejarah.

"Kalau kita sampaikan kuantifikasi ini, khususnya kepada anak muda, maka mereka akan berpikir betapa bahayanya ideologi komunis," terangnya.

Oleh karena itu, menurut Taufiq, gerakan Komunis Gaya Baru (KGB) yang muncul saat ini harus diatasi dengan sekuat tenaga. "Komunis ini harus kita atasi secara habis-habisan," katanya.

Ia mengaku selalu menangis setiap membaca buku sejarah pembantaian PKI. Selama beberapa kali melakukan pemberontakan, PKI kerap melakukan pembantaian terhadap umat Islam. Namun pada akhirnya, umat bersama Tentara Nasional Indonesia (TNI) bisa bangkit untuk menumpas gerakan PKI.

"Tetapi orang-orang KGB sekarang itu selalu menutup-nutupi, mereka selalu mengatakan yang sebaliknya yaitu kekejaman umat Islam dan TNI, padahal sebabnya tidak pernah disebut," tandas Taufiq Ismail.