Wouw... Di Sudan Begal malah di nantikan..

Iklan Semua Halaman

DUNIA ISLAM

Wouw... Di Sudan Begal malah di nantikan..

Jumat, 22 April 2016
Masih ingat fenomena begal yang salah satu pelaku tertangkap dan dibakar massa hingga menemui ajalnya. Kejadian brutal warga setempat kala itu mampu menyita perhatian publik. Ada yang pro ada pula yang kontra . Begitu mencekamnya kala itu hingga aparat pun sangat serius dalam memberantas kelompok begal - begal yang bertebaran di penjuru kota besar. Dan menurut kabar yang beredar Begal yang ada di Indonesia konon katany kebal senjata tajam dan kebal dengan timah panas. Hal ini semakin meresahkan baik masyarakat umum maupun pihak aparat sendiri.

Baca Juga : Selain kebal terhadap senjata tajam, Kabarnya Begal juga kebal peluru

Itulah begal yang ada di Indonesia tetapi fenomena begal di sudan Sungguh jauh berbeda. Kalau di indonesia begal itu mematikan tetapi Begal disana malah dinantikan. Kenapa demikian, simak kisahnya di bawah ini. 

Qutho’u Thuruq, artinya pemotong jalan. Dalam istilah orang Arab, nama itu sangat menakutkan. Sebab disematkan kepada mereka yang biasa merampok bahkan membunuhi para musafir. Kalau di negara kita, mungkin lebih akrab dengan panggilan Begal.

Namun, ada pemandangan yang berbeda di sebuah desa di negara Sudan. Kemunculan para “Begal” di daerah ini malah dinanti-nanti. Kedatangan mereka tak ubahnya kabar gembira buat para musafir yang tengah kehausan dan kelaparan.

Ya. Tentu mereka bukan perampok layaknya Qutho’u Thuruq pada umumnya.

Mereka adalah masyarakat setempat yang berlomba-lomba memberi makan orang berbuka puasa. Begitu semangatnya, sampai-sampai mereka Mencegat para pengendara untuk bersantap buka bersama-sama.

Chanel TV Aljazeera merilis video dokumenter berdurasi 1 menit dan 55 detik demi menceritakan hal tersebut.

Di awal video, nampak puluhan orang, anak anak dan orang dewasa berbaris menutup jalan raya sembari melambai-lambaikan tangan. Sebuah mobil berwarna putih pun berhenti. Lantas seorang diantara mereka mendekati jendela supir, menawarkan kiranya seisi mobil berkenan untuk mencoba hidangan yang telah disiapkan.

Pemandangan seperti itu nampak di sepanjang jalan. Maka, setiap perkumpulan berlomba-lomba agar hidangan dan pelayannya sanggup menarik minat para pengguna jalan untuk mampir. Dan kesemuanya itu gratis.

“Demi memuliakan tamu. Para tamu Allah. Tamu Bulan Ramadhan,” terang salah seorang warga saat berbuka. Nampak di belakangnya ratusan orang duduk berbaris panjang, berhadap-hadapan. Diantara mereka terbentang selendang panjang yang penuh dengan beragam makanan dan minuman.
Begal Sudan2

“Demi memuliakan tamu. Para tamu Allah. Tamu Bulan Ramadhan,” terang salah seorang warga saat berbuka

Pemandangan seperti ini amat mudah dijumpai di seluruh daratan Sudan. Baik itu di desa, kota, masjid, pasar, pertokoan hingga jalan raya. 


Sebuah adat yang diwariskan dari generasi ke genrasi. Tidak perduli dengan keadaan pokitik yang terus berubah, masyarakat Sudan memegang kuat adat istiadatnya yang mulia ini.(hidayatullah)