Terungkapnya Misteri 2 gepok uang damai yang di terima keluarga alm.Siyono dari Densus 88

Iklan Semua Halaman

DUNIA ISLAM

Terungkapnya Misteri 2 gepok uang damai yang di terima keluarga alm.Siyono dari Densus 88

Jumat, 01 April 2016
Akhirnya seiring perjalanan waktu fakta - fakta keanehan terkait pembunuhan terduga teroris Siyono yang dilakukan Densus 88 mulai terkuak. Ada banyak kejanggalan terkait kiprah team pemburu teroris ini yang mulai mencuat ke publik. Salah satunya adalah dengan pengakuan keluarga almarhum yang mengaku menerima dengan terpaksa 2 gepok uang dari seseorang yang disinyalir mewakili pihak Densus.

Selasa pagi keluarga Almarhum Siyono, korban kezaliman Densus 88, menghadap pimpinan Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah di kantor PP Muhammadiyah, Jalan Cik Ditiro, Yogyakarta. Pada kesempatan itu, Suratmi, janda Almarhum Siyono membawa dua gepok uang duka yang diterimanya dari seorang wanita di Jakarta.

“Ya ini nominalnya banyak sekali. Saya nggak berani buka, saya serahkan Bapak, saya titipkan biar diamankan. Saya ragu-ragu, Pak,” kata Suratmi kepada Busyro, lansir detik.
Hadir pula pada pertemuan itu Komisioner Komnas HAM Siane Indriani. Di hadapan sejumlah pengurus PP Muhammadiyah dan wartawan, Suratmi menyerahkan dua gepok uang yang terbungkus kertas Koran dan dililit lakban warna cokelat.

Uang tersebut diterimanya dari seorang perempuan bernama Ayu saat Suratmi datang ke Jakarta untuk menjenguk suaminya. Berniat menjenguk, ternyata Suratmi mendapati suaminya sudah meninggal dunia.

Uang tersebut, kata Suratmi menirukan Ayu, untuk biaya pemakaman dan untuk kelima anaknya.
Busyro menerima titipan uang tersebut dan akan menyimpan apa adanya sebagai barang bukti jika nanti diperlukan dalam proses hukum ke depannya.

“(Uang ini) Dititipkan sebagai bukti bu Suratmi menolak dan terganggu dengan adanya uang ini. Kami terima sementara, akan kami simpan dengan baik sebagai barang bukti,” kata Busyro.
Tak hanya itu, Suratmi juga bercerita saat dirinya menolak menandatangani sebuah berkas yang disodorkan Densus 88 usai kematian suaminya. Beberapa poin dalam berkas tersebut adalah Suratmi tidak akan menempuh jalur hukum dan mengikhlaskan kematian Siyono.
“Saya tidak mau menandatanganinya,” tegas Suratmi.

Sebagaimana diketahui Siyono warga Dusun Brengkungan, Desa Pogung, Kecamatan Cawas, Klaten yang meninggal dunia saat dibawa Densus 88.

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) menduga kematian Siyono saat dibawa aparat Densus 88, karena mengalami penyiksaan saat berada dalam pemeriksaan Polri.

“Kami menduga bahwa korban meninggal karena mengalami penyiksaan saat berada dalam pemeriksaan Polri. Jika penyiksaan memang terjadi maka dapat dipastikan telah terjadi pelanggaran pidana, etik, prosedur pemeriksaan dan pengamanan oleh anggota Polri dalam menangani terduga kasus terorisme.

Dengan begitu tentu perlu ada penindakan bagi anggota Polri yang melanggar tersebut dan evaluasi menyeluruh mengenai prosedur dan tindakan anggota Densus 88 saat menjalankan operasi penanggulangan terorisme,” demikian siaran pers Kontras yang diteken Koordinator KontraS, Haris Azhar, Senin (14/3/2016). (Arrahmah)

Apa kata Kapolri Jenderal Badrodin Haiti terkait hal ini?
“Ya enggak apa-apa,” kata Badrodin pada Selasa, (29/3/2016).
“Ya namanya kemanusiaan ya sah-sah saja,” sambungnya saat ditanya apa maksud Polri memberikan uang tersebut.
Badrodin menegaskan, uang tersebut bukan uang sogok untuk membungkam keluarga. “Bukan (sogok), uang bina, sogok mana maulah orang. Begini ya namanya kemanusiaan, kalau enggak mau terima ya enggak apa-apa,” ujarnya.
Asal usul Uang 200Juta sebagai uang "Damai"
Sementara Direktur An-Nashr Institute Munarman menyatakan dua gepok uang yang diserahkan keluarga almarhum Siyono kepada PP Muhammadiyah, sepatutnya dilacak darimana aliran dananya berasal.
Hal itu bisa dilakukan dengan cara melakukan audit terhadap seluruh dana-dana yang dikeluarkan oleh Densus 88 maupun penerimaannya.
“Bagaimana mungkin Densus 88 bisa memberi uang kepada satu keluarga dengan tujuan untuk membungkam, artinya ini pola yang dilakukan oleh Densus 88 terhadap lebih kurang 118 yang ditembak mati itu,” kata Munarman kepada Kiblat.net pada Selasa, (29/03).
Ia menegaskan, kalau selama ini Densus 88 memberikan uang dua gepok yang ditaksir mencapai Rp 200 juta itu lalu dikalikan 118 korban Densus 88 angkanya sudah mencapai Rp20 milyar.
“Dari mana itu duit sumbernya? Kalau itu dana APBN, apakah anggaran dari APBN dibenarkan digunakan untuk yang begitu? Itu yang pertama. Yang kedua kalau itu bukan dari APBN itu dari siapa? Jika itu sumbangan dari pengusaha maka harus dijelaskan siapa pengusahanya. Jika berasal dari lembaga internasional pun demikian. Perlu dilacak ini,” ujar mantan Direktur YLBHI ini.
Menurutnya, dengan adanya pemberian uang tersebut, berarti Densus 88 memiliki sumber daya keuangan yang tak terbatas. Oleh karena itu, uang pemberian Densus 88 harus menjadi starting poin dari tuntutan masyarakat untuk melakukan audit keuangan, selain audit kinerja terhadap Densus 88.
Munarman menampik, jika uang yang diberikan pada istri Siyono berasal dari APBN. Sebab, jika uang itu berasal dari APBN mestinya harus ada pos anggarannya dan harus ada pertanggung jawabannya.
“Sekarang pertanyaannya, pertanggung jawaban terhadap penggunaan uang seperti ini apa? Kan ada tanda terima segala macam. Nah kemarin itu, hasil dari investigasi teman-teman kan gak ada tanda terima. Yang seperti ini namanya uangnya uang gelap nih,” tegas Munarman.
Dana semacam ini, lanjut Munarman, merupakan dana yang disebut sebagai dana non budgeter. Ia menjelaskan, dana non budgeter ini mesti dilacak darimana aliran sumber dananya. Sebab, dalam hal ini negara tidak boleh membiarka. “Kalau setiap ada yang mati ditembak, disogok seperti ini diem semua, mau jadi apa ini republik?” Tanyanya retoris.
Sementara, jika Densus 88 beralasan bahwa uang yang diberikan pada istri Almarhum Siyono sebagai uang kerahiman maka hal itu tak bisa diterima.
“Kalau ada uang kerahiman berarti Densus merasa bersalah dong, kalau ia merasa benar ia gak perlu ngasih, ya kan?” ujar dia.
Munarman berkeyakinan, kalau Densus 88 merasa benar dalam bertindak atau bahkan membunuh maka tak perlu ada uang kerahiman seperti itu.
Kejanggalan di balik kematian Siyono
Wakil Ketua Komisi Hukum dan HAM MUI Pusat, Brigjen (Pol) Anton Tabah menganggap, kematian Siyono asal Klaten, Jawa Tengah saat menjalani pemeriksaan oleh Densus 88 penuh kejanggalan. Maka dari itu, perlu kajian serius untuk mengungkap alasan meninggalnya Siyono tersebut.
“Apalagi tewasnya sangat aneh, kelahi dengan polisi di mobil yang membawanya atau menangkapnya. Walau dengan berbagai alasan, ini sangat aneh dan perlu kajian serius,” kata Anton kepada Kiblat.net, Selasa (15/03).
Pria yang juga mantan penyidik tersebut mempertanyakan apakah Siyono saat dibawa dalam mobil tersebut diborgol atau tidak. Jika Siyono diborgol, maka tidak mungkin akan menyerang polisi. Sementara jika saat berada dalam mobil tersebut Siyono tidak diborgol, maka kesalahan ada pada Densus 88.
“Ingat, tersangka terkenal sejagat, Michael Jackson saja diborgol. Padahal kasusnya pelecehan seksual,” ucap Anton.
Kasus seperti Siyono ini, menurut Anton, justru dapat memunculkan kelompok baru untuk membalas dendam terhadap anggota Polri di lapangan.