Menyibak gemerlapnya AADC 2 dengan Suksesnya MTU

Iklan Semua Halaman

DUNIA ISLAM

Menyibak gemerlapnya AADC 2 dengan Suksesnya MTU

Kamis, 28 April 2016
Sebagaimana kita ketahui, gala premier film Ada Apa Dengan Cinta? 2 (AADC? 2) sukses digelar di Yogyakarta, Sabtu 23 April lalu. Film legendaris yang telah dinantikan kelanjutannya sejak 14 tahun yang lalu itu begitu menyedot perhatian publik.  Dilansir liputan6.com, antusiasme masyarakat Yogyakarta turut memeriahkan suasana gala ketika para bintang AADC? 2 berjalan di red carpet. 
Jadwal lengkap AADC 2 di berbagai kota

Para bintang AADC? 2 pun tampil maksimal di acara tersebut. Mereka di antaranya Dian Sastrowardoyo, Titi Kamal, Adinia Wirasti, Sissy Priscillia, Nicholas Saputra, Dennis Adhiswara, penata musik Melly Goeslaw dan Anto Hoed, serta duet sutradara Riri Riza dan produser Mira Lesmana (liputan6.com, 23/04/2016).
Gala premier ini menjadi momentum, bahwa penayangan serentak AADC? 2 akan segera berlangsung. Dua puluh delapan April, dipilih sebagai tanggal tersebut. Tak tanggung-tanggung, tiga negara akan serempak menayangkan, yakni Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam. Seperti film yang pertama, AADC? 2 ini juga diyakini bakal mendulang sukses.

Antara AADC? 2 dan #MTU1437H

Sebagaimana juga kita ketahui, pada hari Ahad 24 April lalu, 19 kota/kabupaten serentak menggelar agenda bulan Rajab 1437 H, bertajuk Muktamar Tokoh Umat (MTU). Yang juga tak kalah tanggung, di hari tersebut, tagar #MTU1437H pun memuncaki trending topic di Indonesia. Pelaksanaan MTU sendiri telah dimulai sejak hari Sabtu (23/04) di Balai Sudirman, Jakarta.

Dilansir dari laman resmi penyelenggara MTU, Hizbut Tahrir Indonesia di hizbut-tahrir.or.id, ketika hari pertama MTU digelar, Sabtu (23/04) di Jakarta, tagar #IslamRahmatanlilAlamin langsung menjadi topik bahasan nomor satu para pengguna jejaring sosial twitter di Indonesia (trending topic Indonesia/TTI). Saat dicek melalui program penghitung (tools) brand24, jangkauan tagar tersebut hingga 2.941.162 netizen. 

Sementara di hari kedua MTU digelar, Ahad (24/4) di Yogyakarta dan beberapa kota lainnya, tagar #MTU1437H menjadi TTI nomor satu dengan jangkauan hingga 7.884.507 netizen. Sedangkan kata “khilafah” masuk TTI pula di nomor urut sembilan dengan jangkauan yang menembus 4.268.279 pengguna jejaring sosial twitter.

Sehari setelahnya, Senin (25/04), pun tak kalah ramai. Sejumlah media cetak dan online, baik lokal maupun nasional, memuat liputan pelaksanaan MTU. Padahal, sejumlah kota/kabupaten di tanah air yang dijadwalkan, belum semuanya menggelar momentum spektakuler ini. Penyelenggaraan MTU masih akan berlanjut hingga tanggal 1 Mei mendatang. Masya Allah.

Telah nyata, sungguh krusial penyelenggaraan MTU. Tokoh umat dari berbagai kalangan akan hadir, atas izin Allah. Mereka berasal dari berbagai kalangan dan beragam latar belakang, seperti ulama, intelektual muslim, pengusaha, budayawan, insan media, dan sebagainya.

Tokoh umat, merekalah simpul umat. Merekalah tempat umat terikat dan bergantung, karena seorang tokoh adalah pimpinan dan panutan. Di tangan tokoh umat pulalah terletak nushroh (pertolongan). Tholabun nushroh (meminta pertolongan) adalah aktivitas dakwah dalam mencari perlindungan dan kekuasaan dari para ahlul quwwah (pemilik kekuatan). Aktivitas ini merupakan metode yang tetap dan wajib dilaksanakan untuk menegakkan Khilafah, karena aktivitas ini adalah hukum syariat yang diperintahkan oleh Allah kepada Nabi-Nya.

Dukungan tokoh-tokoh umat adalah kunci dalam perjuangan menuju tegaknya Khilafah. Di tangan mereka, opini di kalangan umat mengenai syariah dan Khilafah dapat dengan cepat diperbesar melalui berbagai uslub (cara teknis) yang memungkinkan. Dengan demikian, dukungan masyarakat luas pun akan diperoleh, sehingga para ahlul quwwah pun bersedia memberikan nushroh-nya. Semua itu dalam rangka mewujudkan Islam rahmatan lil ‘alamin, sebagaimana Mush’ab bin Umair ra yang membuka akal dan hati Usaid bin Hudhair ra dan Sa’ad bin Mu’adz ra untuk memberikan nushroh-nya kepada Rasulullaah saw, hingga Khilafah yang pertama dapat tegak di Madinah.

Lalu, AADA 2?

AADA 2 sejatinya akronim dari Ada Apa dengan Aqabah 2. Tepatnya, hal tersebut merepresentasikan peristiwa Baiat Aqabah 2. Kaitannya dengan pelaksanaan MTU, jelas erat. Karena Baiat Aqabah 2 adalah momentum dimana para tokoh umat, dalam hal ini para tokoh Anshor dari Aus dan Khazraj dari Madinah, membaiat Rasulullaah saw di Bukit Aqabah. Baiat ini sendiri memang baiat kedua, sebagai tekad mereka menjadi pembela Islam dan Rasul-Nya. Baiat Aqabah 2 adalah baiat pengangkatan Rasul saw sebagai kepala negara. Maka urgen bagi Rasul saw untuk menyaksikan secara langsung terhadap apa yang dapat diberikan oleh kaum Anshor bagi perjuangan Islam. Bahkan, Baiat Aqabah 2 sering disebut Baiat Perang.

Ketika pertama kali 6 orang warga Madinah masuk Islam di musim haji, hingga kemudian mereka kembali ke Madinah dan menceritakan keislaman mereka kepada kaumnya, sungguh telah terjalin hubungan batin yang melapangkan dada dan mempertautkan jiwa. Penuh dengan kesyahduan terhadap agama Islam, yang masih baru bagi mereka. Sejak saat itu, tidak satu rumah pun di perkampungan Aus dan Khazraj kecuali di dalamnya disebut-sebut nama Muhammad saw.

Tatkala tahun berikutnya tiba dan musim haji datang, 12 orang laki-laki dari penduduk Madinah datang. Mereka dan Nabi saw bertemu di Aqabah, lalu mereka membaiat beliau dalam peristiwa Baiat Aqabah Pertama. Mereka membaiat beliau bahwa seorang pun di antara mereka tidak akan menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak mereka, tidak akan mendatangkan bukti-bukti yang direkayasa di antara dua tangan dan kakinya dan tidak akan melakukan maksiat dalam hal yang ma’ruf. Jika dia memenuhinya, maka baginya surga dan jika dia mengingkari sedikit saja dari hal tersebut, maka urusannya dikembalikan kepada Allah.

Bila Allah menghendaki, maka Dia akan mengadzabnya dan jika Dia menghendaki, maka Dia akan mengampuninya. Setelah mereka menyempurnakan bai’at tersebut dan musim haji berakhir, mereka seluruhnya kembali ke Madinah.

Ibnu Ishaq berkata, “Ketika orang-orang Madinah itu hendak kembali, Rasulullah saw mengutus Mush’ab bin ‘Umair menemani mereka. Mush’ab diperintahkan beliau agar membacakan al-Quran, mengajarkan Islam, dan memberi pemahaman agama kepada mereka. Sehingga dia dinamakan Muqarri’ Madinah: Mush’ab. Mush’ab tinggal di rumah As’ad bin Zurarah.”

Menjelang AADA 2

Sebelum terlaksananya Baiat Aqabah 2, Rasul saw melakukan sejumlah monitoring dan evaluasi terhadap aktivitas dakwah di Madinah. Bukan gala premier layaknya AADC? 2 tentunya. Berikut kisahnya.

Baiat Aqabah pertama berhasil dengan baik dan penuh berkah. Orang yang masuk Islam jumlahnya memang tidak banyak. Tetapi cukup bagi mereka bersama seorang sahabat Rasul, Mush’ab bin Umair ra, untuk mengubah kondisi Madinah, menjungkirbalikkan pemikiran kafir, dan perasaan-perasaan yang sedang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Di Madinah, berlanjut dengan kondisi dimana mayoritas masyarakatnya telah masuk Islam. 

Mereka telah terpengaruh Islam, baik pemikiran maupun perasaannya.
Penduduk Madinah bisa merasakan kesalahan pemikiran-pemikiran yang mereka emban dan mencoba membahas pemikiran-pemikiran dan sistem-sistem lain bagi kehidupan mereka. Karena itu, selama tinggal di Madinah dalam waktu yang singkat, dakwah Mush’ab disambut dengan baik. Dia mengajak manusia kepada Islam dan membina mereka dengan pemikiran-pemikiran dan hukum-hukum Islam.

Seketika Mush’ab merasakan sambutan yang cepat dan menyaksikan masyarakat menerima Islam serta kesediaan mereka untuk memahami hukum-hukum Islam dengan sangat mudah. Dia juga menyaksikan semakin bertambahnya jumlah kaum Muslim dan pesatnya perkembangan Islam di Madinah. Karena itu Mush’ab sangat gembira, dan semakin meningkatkan upaya pemberdayaan melalui pengajaran dan penyebaran dakwah.
Ketika datang musim haji, Mush’ab kembali ke Makkah dan menceritakan kepada Rasul tentang kaum Muslim di Madinah, kekuatan mereka, berita-berita Islam, dan perkembangan penyebarannya. 

Dia juga menggambarkan masyarakat Madinah kepada Rasul, yaitu tidak ada hal lain yang terwacanakan di tengah-tengah masyarakat kecuali Islam. Kekuatan dan posisi kaum Muslim di sana memberikan pengaruh yang melahirkan kemampuan Islam untuk mengalahkan segala hal.

Pada tahun itu sebagian kaum Muslim akan datang dan mereka adalah yang paling tinggi keimanannya kepada Allah, siap mengemban risalah Allah, dan mempertahankan agama-Nya. Nabi saw amat gembira mendengarkan kabar yang cukup banyak dari Mush’ab, hingga beliau berpikir keras mengenai persoalan ini.

Beliau membandingkan antara masyarakat Makkah dan Madinah. Di Makkah, beliau telah menghabiskan waktu selama 12 tahun berturut-turut untuk mengajak penduduk Makkah kepada Allah, berusaha keras menyebarkan dakwah, tidak pernah meninggalkan kesempatan sedikit pun kecuali mencurahkan segenap kemampuannya untuk dakwah, dan menanggung semua jenis penganiayaan. Akan tetapi, masyarakat tetap membatu dan dakwah tidak menemukan jalan apapun untuk menuju ke sana. Hal itu karena hati penduduk Makkah sangat keras, jiwa mereka penuh kebencian, dan akal mereka membeku bersama masa lalunya.

Hal ini berarti masyarakat Makkah keras seperi batu dan potensi penerimaannya terhadap dakwah sangat lemah. Penyebabnya adalah karena jiwa penduduknya telah dikuasai berhala kemusyrikan yang memang Makkah merupakan pusatnya. Adapun masyarakat Madinah, seiring dengan perjalanan Islam, beberapa orang dari Khazraj masuk Islam, kemudian terjadi baiat 12 orang laki-laki (Baiat Aqabah 1), diikuti aktivitas Mush’ab bin ‘Umair selama setahun. 

Semua itu sudah cukup untuk mewujudkan suasana Islami di Madinah dan masuknya banyak orang ke dalam agama Allah dengan kecepatan yang menakjubkan. [Islampos]