7 Tokoh "Emansipasi Wanita" yang berhasil Guncangkan Dunia

Wanita memang selalu jadi topik yang menarik dalam setiap perbincangan. Baik itu perbincangan yang dilakukan oleh kaum hawa sendiri, maupun perbincangan yang dilakukan oleh kaum adam. Setuju? Ya, wanita memang merupakan kaum yang unik. Ia sering disebut sebagai makhluk terindah, makhluk yang tangguh dan kokoh, yang mampu melakukan banyak hal yang tak mampu dilakukan oleh pria. 


Tapi di sisi lain wanita disebut juga sebagai sosok yang rapuh, lemah, tak berdaya, dan tertindas sehingga patut untuk dilindungi. Membingungkan memang. Yang lebih parah lagi, wanita terkadang dianggap sebagai sekedar ‘perhiasan dunia’ atau perhiasan bagi kaum lelaki saja.Dari berbagai sudut pandang inilah dapat disimpulkan kalau wanita memang makhluk yang rumit.

Namun, setujukah Anda kalau semua pandangan rumit ini memang benar adanya? Wanita memang sosok makhluk yang kokoh di satu sisi karena mampu menahan sakit luar biasa ketika melahirkan.Di sisi lain pula air mata seorang wanita sangat mudah berlinang kalau perasaannya tersentuh.

Tapi, ia juga seringkali dianggap sebagai sosok yang hanya sekedar melengkapi para pria. Ia tak diberikan hak untuk melakukan banyak hal dengan sesuka hati. Wanita secara kodrati ‘dianggap’ tunduk terhadap kaum pria.

Baca Juga : Swalayan ini menyediakan jasa pasangan Online di April Mop

Anggapan ini tumbuh selama berabad -abad, dan di hampir seluruh dunia. Bahkan, anggapan ini pun masih diakui oleh sebagian orang di sebagian wilayah dunia, hingga saat ini. Pemikiran dipelihara seolah -olah untuk mempertegas bahwa pria adalah makhluk yang super power.

Terhadap pemikiran seperti ini, bukan berarti setiap wanita tunduk saja menerimanya. Nyatanya, ada banyak wanita tangguh yang menentang secara tegas penempatan wanita yang hanya dianggap layak duduk di dapur dan di kursi belakang.

Berbagai penentangan inilah yang sukses membuahkan hasil sehingga banyak di antara para wanita pada jaman modern ini, bisa menikmati kebebasan yang "lebih". Kebebasan atau emansipasi yang banyak dinikmati oleh wanita modern ini tak lepas dari peran para wanita -wanita tangguh yang telah berjuang atas nama emansimasi wanita, dan atas nama kesetaraan gender.

Baca Juga : Emansipasi, Benarkah Terselip Konsep Penghancur Generasi

Tentu ada banyak sekali wanita yang berjasa dalam hal ini. Tapi, di antara mereka, ada yang paling populer dan dianggap sebagai yang paling berpengaruh. Mereka adalah para tokoh emansipasi wanita yang luar biasa. Siapa saja mereka? Berikut adalah secuplik di antara para tokoh emansipasi wanita dari seluruh dunia yang luar biasa. Siap -siaplah berdecak kagum.

1. Mary Wollstonecraft

Mary Wollstonecraft (1759-1797) adalah seorang feminist sekaligus filsuf yang mendedikasikan dirinya untuk emansipasi wanita di seluruh dunia. Salah satu tulisannya yang paling populer berjudul “A Vindication of the Rights of Women (1792)”. Inilah buku yang paling awal yang mengejawantahkan mengenai persamaan derajat antara kaum wanita dan kaum lelaki yang seharusnya.

Wanita kelahiran 27 April 1759 di Spitalfields, London ini tumbuh dalam kehidupan yang cukup sulit. Ayahnya adalah seorang pemabuk dan sosok yang kasar. Kehidupan masa kecilnya yang sulit inilah yang justru membuka pemikiran Mary tentang sosok perempuan yang ideal.

Ia melihat bagaimana para wanita di sekitarnya begitu terkungkung dan tidak memiliki kemerdekaan yang nyata. 

Wanita -wanita pada jamannya hanya bertugas untuk menyenangkan para pria saja. Sebagai seorang istri pun, seorang wanita harus sepenuhnya tunduk dan bergantung pada suaminya.


Mary pun memulai pemikirannya yang radikal. Ia bahkan antuasias untuk mendukung revolusi Perancis. Pada tahun 1790, Mary bahkan menulis Vindication of the Rights of Men (1790). Tulisannya ini begitu fenomenal dan penuh dengan kritikan. Tentu tulisan dan pemikirannya ini sungguh keterlalu berani karena pada masa tersebut, wanita betul -betul tidak punya hak apa pun selain untuk menyenangkan para pria.

Apa yang ia inginkan sebetulnya sederhana. Ia hanya ingin agar para wanita bisa lebih berpendidikan dan mempelajari banyak hal tentang ilmu pengetahuan dan etika. Dengan begitu, wanita tidak hanya jadi makhluk yang hanya bisa bergantung dan didikte oleh kaum lelaki saja.

2. Margaret Fuller

Margaret Fuller (1810-1850) adalah seorang wanita Amerika yang juga merupakan aktivis emansipasi wanita. Ia adalah pelopor pergerakan sosial yang sangat berpengaruh terhadap pemikiran feminism.Sarah Margaret Fuller lahir pada tanggal 23 May 1810 di Cambridgeport, Massachusetts. Ayahnya adalah seorang pengacara, dan selama delapan tahun sempat menjadi anggota perwakilan congress. Ini menjadi kesempatan bagi Margaret untuk mempelajari sekaligus mempengaruhi pergerakan politik.


Margaret cukup beruntung karena sejak kecil, ia telah menerima banyak pendidikan di rumahnya, dan juga di perkuliahan di Boston Lyceum yang ditujukan khusus untuk para wanita muda di tahun 1821- 1822. Ia sungguh senang belajar dan membaca. Margaret bahkan menjadi wanita pertama yang dapat mengakses perpustakaan Harvard.

Fuller mulai berbiacara tentang peran wanita dalam masyarakat sejak tahun 1839, ketika ia bersama dengan keluarganya pindah ke dataran Jamaica di Massachusetts. Sejak saat itu, ia banyak berpikir, berbicara dan menulis mengenai pergerakan transcendentalist. Bahkan, sosoknya sering dilabeli sebagai ‘Transcendentalist’.

Bersamaan dengan pergerakannya itu, Fuller juga mulai berusaha untuk mengangkat emansipasi wanita dan peran wanita dalam masyarakat, melalui berbagai tulisannya. Ia meyakini bahwa seorang wanita dapat memainkan peran yang lebih besar di masyarakat. Ia pun menginginkan agar para wanita dapat bertindak bebas selayaknya para pria dalam menentukan hidupnya.

Fuller menyuarakan agar para wanita dapat menikmati pendidikan yang lebih tinggi sehingga ia pun bisa lebih bebas dan lebih mampu melakukan banyak hal. Menurutnya, para wanita di jamannya terlalu banyak dikekang dan tidak berhak untuk menikmati pendidikan yang tinggi.

3. Elizabeth Cady Stanton

Elizabeth Cady Stanton adalah wanita kelahiran New York tanggal 12 November 1815. Ayahnya, Daniel Cady adalah seorang pengacara yang cukup tenar di pengadilan tinggi New York. Dari ayahnya inilah, Elizabeth banyak belajar tentang hukum dan juga berbagai permasalahan gender dan diskriminasi terhadap kaum kulit hitam.

Ia sangat aktif dalam pergerakan memperjuangkan hak perempuan. Di tahun 1848, Elizabeth bersama dengan Lucretia Mott dan 300 wanita lainnya sukses mencetuskan “women’s rights convention” pertama di Seneca Falls.


Pada konferensi tersebut, Elizabeth mempublikasikan tulisannya mengenai ‘Declaration of Sentiments’ yang didalamnya memuat deklarasi mengenai pentingya kesetaraan antara pria dan wanita. Deklarasi ini pun pada akhirnya juga diakui oleh “US declaration of Independence”.

Elizabeth Cady Stanton (1815-1902) adalah seorang pejuang feminism, aktivis hak asasi manusia dan juga pejuang hak perempuan. Ia adalah sosok yang cukup berpengaruh dalam pergerakan hak asasi manusia pada abad ke-19.

Elizabeth Cady Stanton sangat aktif dalam memperjuangkan penghapusan perbudakan dan juga persamaan hak wanita serta kaum kulit hitam di Amerika. Setelah perang sipil berakhit, Stanton mulai memfokuskan kampanyenya terhadap hak -hak para wanita dan isu -isu feminisme.

Ia juga menulis banyak paper, buku dan termasuk juga “Declaration of Sentiments and Resolutions” 1848, “A Petition for Universal Suffrage” 1866, “History of Woman Suffrage” 1881-1922, dan “The Woman’s Bible” 1895-1898”. Dia juga menjadi salah seorang pencetus berdirinya pergerakan hak asasi wanita di Amerika Serikat.

4. Susan B. Anthony

Susan lahir pada 15 February 1820 di Adams, Massachusetts. Kedua orang tuanya juga seorang aktivis yang menentang keras terhadap perbudakan. Pantas saja, ia pun punya banyak bekal pengetahuan dan pemikiran mengenai isu -isu serupa.


Nama Susan B. Anthony cukup populer dalam pergerakan kampanye untuk memperjuangkan hak asasi manusia dan kesetaraan wanita. Ia adalah sosok yang sangat aktif dalam mengkampanyekan penghapusan perbudakan, sekaligus berupaya untuk memberikan hak suara bagi wanita.

Susan B. Anthony turut berperan dalam mencetuskan gerakan pantang minum alkohol. Ia memang sangat aktif dalam berbagai kegiatan kampanye yang dianggapnya positif dan sesuai dengan pemikirannya.

Misalnya saja seperti perjuangan dalam memperoleh kesetaraan hak bagi wanita. Perannya dalam hal ini sangat penting dan sukses membuahkan hasil dengan diizinkannya wanita untuk memiliki hak suara

5. Wangari Maathai

Nama Wangari Maathai (1940 – 2011) mungkin tidak cukup populer di dunia. Tapi, bagi mereka yang mengamati tentang gerakan para aktivis kemanusiaan dan wanita, tentu mengenal siapa itu Wangari Maathai.


Wangari adalah seorang aktivis lingkungan hidup dari Kenya. Ia juga menjadi tokoh pendiri Green Belt Movement pada tahun 1970. Langkah -langkahnya ditujukan untuk mempromosikan mengenai konservasi lingkungan hidup di Kenya dan Afrika.

Ternyata, pergerakan dari Wangari Maathai ini cukup menarik perhatian dunia. Bahkan, ia menjadi wanita pertama dari Afrika yang sukses meraih Noberl perdamaian tahun 2004. Atau the Nobel Peace Prize pada tahun 2004” Hadiah ini sebagai bentuk kontribusinya terhadap perkembangan suatu negara.

6. Malala Yousafzai

Nama Malala Yousafzai sempat sangat populer beberapa tahun lalu. Malala adalah seorang pelajar di sekolah Pakistan, sekaligus seorang pembicara utama dalam berbagai pergerakan untuk menuntut hak para wanita agar dapat memperoleh pendidikan. Ya, hal paling utama yang diupayakan oleh Malala adalah pendidikan.


Sayangnya, para kelompok Taliban yang sedang menguasai wilayah tempat tinggal Malala ini tidak menyambut baik pemikiran Malala. Bahkan, Malala pun sampai ditembak di kepalanya.

Hebatnya, Malala sukses bertahan dari tembakan yang sudah mengenai kepalanya ini. 

Adanya insiden ini justru membuat nama Malala semakin populer. Malala pun semakin dikenal banyak orang dan pergerakan yang dilakukannya mengenai hak asasi manusia, 

pendidikan dan kesetaraan wanita kan juga semakin banyak mendapatkan dukungan.

Pasca penembakan tersebut, gadis kelahiran 12 July 1997 di Mingora ini justru menerima banyak sekali penghargaan. Ia bahkan sukses menerima hadiah nobel perdamaian di tahun 2014.

7. Raden Ajeng Kartini

Sebagai masyarakat Indonesia, tentu kita tak boleh meninggalkan nama “RA Kartini” ketika sedang berbincang tentang emansipasi wanita. Namanya mungkin tidak cukup populer di seluruh dunia. Tapi bagi bangsa Indonesia, RA Kartini adalah sosok yang memiliki pengaruh cekup besar terhadap peroleh emansipasi wanita saat ini.

Raden Ajeng Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah pada 21 April 1879. Ia adalah putri dari RM Sosrodiningrat dan Nyi Ngasirah. Kartini dikenal sebagai simbol emansipasi wanita Indonesia yang sungguh inspiratif.

Kartini memang mempunyai latar belakang keluarga yang mapan dan terpandang. Akan tetapi, ia sadar betul bahwa masih ada wanita lain di sekitarnya yang tidak seberuntung dirinya. Para wanita pada jaman dulu memang sangat dibatasi pergerakannya.


Para wanita dipaksa untuk tunduk pada berbagai aturan, dan tidak boleh menikmati bangku pendidikan. Beruntungnya Kartini karena masih bisa menikmati pendidikan. Ia juga cukup mahir dalam menulis. Ia bahkan mengirimkan tulisan -tulisannya kepada sahabatnya, yakni J.H. Abendanon dan istrinya, Rosa.

Surat -surat dari Kartini inilah yang kemudian menjadi suatu karya fenomenal. Setelah kematian R.A. Kartini karena melahirkan, dirangkai dalam sebuah buku yang berjudul Door Duisternis tot Licht atau Habis Gelap Terbitlah Terang.

Baca juga : Di balik sosok R.A Kartini yang perlu di ungkap

Mereka hanya beberapa contoh wanita-wanita tangguh yang telah membuka mata dunia. Masih banyak wanita hebat lainnya yang tidak bisa kami rangkum di sini. Mereka mampu Menajamkan problematika yang menimpa para kaum wanita di jamannya sehingga semua kalangan khususnya para wanita menjadi sadar dan turut berperan serta dalam memperjuangkan hak-haknya.

Dengan terobosan pemikirannya pada akhirnya mampu membuat pihak - pihak yang hanya meneruskan kejamnya adat turun temurun menjadi memahami situasi yang sebenarnya. Ditambah lagi dengan kiprah serta perjuangan mereka dalam menentang penindasan terhadap kaum wanita patut mendapat perhatian lebih.

Itulah alasan yang menyebabkan mereka mendapat dukungan dari berbagai pihak yang sudah sadar berkat perjuangan para wanita pelopor penentang penindasan ini. 

Sehingga pada akhirnya posisi sosial publik sosok wanita setelah mereka menjadi setara dengan kaum pria. Di abad modern ini wanita tidak lagi berkutat di balik tirai dan di sekitar tungku perapian tetapi sekarang telah keluar rumah untuk beraktifitas sosial layaknya kaum pria, yang tentu saja tidak melampaui kodratnya.

Karena bagaimanapun hebatnya seorang wanita,dia tetaplah seorang ibu bagi anak-anaknya. Bagaimanapun tangguhnya seorang wanita,dia tetaplah seorang istri bagi suaminya. Dan bagaimanapun mahirnya seorang wanita bermanagement tetaplah seorang ibu rumah tangga yang bertanggung jawab terhadap kualitas keluarganya sehingga akan melahirkan generasi pilih tanding yang siap meninggikan martabat suatu peradaban. 

Apakah anda ingin melanjutkan perjuangan mereka?

Sumber:

Citation : Pettinger, Tejvan. “Biography of Mary Wollstonecraft“, Oxford, www.biographyonline.net 26 Jan. 2011
Citation : Pettinger, Tejvan. “Biography of Margaret Fuller “, Oxford, UK – www.biographyonline.net . Last updated 12th Aug 2014
Citation : Pettinger, Tejvan. “Biography of Elizabeth Cady Stanton“, Oxford, www.biographyonline.net, Last updated: 1st Feb. 2013
Citation : Pettinger, Tejvan. “Biography of Wangari Maathai “, Oxford, UK – www.biographyonline.net . Last updated 12th Aug 2014

Penulis: portal-ilmu.com

No comments

Copyright © . Lemahireng Info All Right Reserved - KabarIslam | Berita Panas | Info Cerdas | Viral News | Nasional Hot | Tips Sehat | Updatechno | Breaking .
Powered by Blogger.