Lagi Tragedi Pelemparan Sepatu Terulang Di Mesir -->

Iklan Semua Halaman

DUNIA ISLAM

Lagi Tragedi Pelemparan Sepatu Terulang Di Mesir

Selasa, 01 Maret 2016
Pelemparan sepatu di dunia politik menjadi fenomena tersendiri. Berangkat dari kemarahan dan rasa muak si pelaku pelemparan kepada orang yang dianggapnya mendapat pemghinaan itu. Memang secara nilai etika tragedi pelemparan sepatu menjadikan korbannya srperti tidak punya harga diri. Seperti Tawfik Okasha, seorang politisi kontroversial dan juga presenter televisi Mesir, mendapatkan lemparan sepatu dari rekannya di parlemen. Kejadian ini merupakan buntut dari ulah ulah Okasha yang mengundang duta besar Israel makan malam di rumahnya.
 
Seperti dilansir Aljazeera, pelemparan sepatu pada politikus Mesir itu terjadi di parlemen di Kairo, Ahad (28/2) kemarin setelah Okasha menerima Duta Besar Israel Haim Koren untuk makan malam di rumahnya di Dakahlia. Makan malam itu memicu kemarahan di media dan di Parlemen Mesir.
Beberapa politisi menuntut pemberhentian Okasha dari parlemen. Rekannya, Kamal Ahmed, bahkan melemparkan sepatu selama sesi di parlemen karena marah akan ulah Okasha.
Video yang muncul pada Ahad menunjukkan, insiden pelemparan sepatu yang diikuti tepuk tangan dari banyak anggota parlemen yang hadir. Okasha dan Ahmed kemudian diminta keluar ruangan setelah kejadian. Tak lama setelah serangan, tagar berjudul "Tawfik Okasha Serangan Sepatu" meluas di Twitter netizen Mesir.
Dalam pertemuan makan malam Okasha dan Koren, dilaporkan keduanya membahas sejumlah topik, mulai dari konflik Israel-Palestina hingga bendungan Etiopia era Renaisans. Kedutaan besar Israel dalam laman Facebook pribadinya menyoroti pertemuan tiga jam tersebut dan merilis sejumlah foto.
Duta Besar Koren mengisahkan kepada Reuters pertemuan pada Rabu (24/2) tersebut. Menurutnya, Okasha mengusulkan pertemuan dan meminta bantuan Israel untuk pertanian dan pendidikan Mesir.
Surat kabar Mesir al-Masry al-Youm memberitakan, sejumlah orang di Dakahlia menandatangani petisi mengutuk makan malam. Sejumlah anggota parlemen juga menyerukan Ketua Parlemen Ali Abdel Al untuk memberikan hukuman kepada Okasha.
Mesir merupakan negara Arab pertama yang mengakui Israel dengan disponsori perjanjian damai AS tahun 1979. Namun, sebagai negara tetangga, selama ini Mesir bersikap dingin terhadap Israel.
Okasha mengatakan kepada media lokal, ia tak berbuat sesuatu yang salah. Sebab, menurutnya, Mesir memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Ada 22 perusahaan Israel yang beroperasi di Mesir.(sionline)