Blokir Medsos Plus Situs Radikal Dan Penjarakan Adminnya, Tapi Hina Islam Kok Masih Bebas Ya?

Iklan Semua Halaman

DUNIA ISLAM

Blokir Medsos Plus Situs Radikal Dan Penjarakan Adminnya, Tapi Hina Islam Kok Masih Bebas Ya?

Minggu, 24 Januari 2016
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Panjaitan mengatakan, pelaku yang membuat situs-situs radikal guna menyebar paham terorisme akan ditangkap oleh kepolisian.
“Sangat mungkin (untuk ditangkap), kita akan telusuri kita kejar. Kita punya kemampuan,” kata Luhut di Jakarta, Jumat (22/1).
Ia mengatakan selama ini situs-situs radikal kerap bermunculan meski sudah diblokir berkali-kali oleh pemerintah. Oleh karena itu, ujar Luhut, pemerintah membuat undang-undang yang mengatur hal tersebut karena sebelumnya belum ada ketentuan hukumnya.
Menurut Luhut, peran media sosial dan teknologi informasi memiliki andil besar dalam perkembangan suatu negara dan tidak boleh digunakan sebagai salah satu cara merekrut kelompok teroris.
“Ke depan masalah medsos (media sosial), peran IT ini nanti besar. Kita harus waspadai, jangan nanti malah medsos itu jadi penggalangan untuk membuat orang menjadi radikal,” ujar Luhut.
Hingga saat ini pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika terus melakukan pemblokiran terhadap situs-situs yang memiliki konten radikal seperti penyebaran ideologi terorisme dan teknik-teknik membuat bom.

Terakhir, situs pribadi terduga dalang teror bom Jalan Thamrin, Bahrun Naim, lewat situs bahrunnaim.co dan bahrunnaim.site telah diblokir oleh pemerintah. Tak hanya situs atau blog pribadi, berbagai akun media sosial yang berkonten radikal juga ditutup.
Bahkan situs organisasi masyarakat yang belakangan menjadi kontroversial, Gerakan Fajar Nusantara atau Gafatar telah diblokir oleh pemerintah. Demikian artikel dari Kantor Berita Antara.
Namun yang lucu, akun-akun penghina Islam, Allah Swt, dan Rasul-Nya, termasuk akun-akun yang promosikan gerakan komunisme, LGBT, Syiah, dan lainnya sampai sekarang masih bebas gentayangan dan dibiarkan. Tunggu umat Islam tangkap mereka pak? (eramuslim)

Penghina Islam di media sosial Twitter Apollinaris Darmawan dengan nama akun @hikdun rupanya telah resmi dilaporkan ke pihak Kepolisian pada Sabtu, 5 November 2015 silam.
“Laporan Mitra Humas tentang @hikdun sudah kami terima dan akan kami tindak lanjuti,” tulis @DivHumasPolri.
Hingga saat ini, pihak kepolisian masih belum menangkap pemilik akun @hikdun. Tampak akun @hikdun masih aktif berkicau menghina agama Islam.

Tetapi berdasarkan penelusuran BataraNews, sejak netizen ramai teriakan tagar #TangkapHikdun dan menuntut dibebaskannya Yulianus Paonganan, pemilik akun @ypaonganan karena telah menghina Presiden Jokowi, akun @hikdun tak lagi ditemukan alias dibekukan.

Padahal, secara terbuka melalui Divisi Humas Mabes Polri, pihak kepolisian telah memberitahukan kepada publik bahwa @hikdun telah dilaporkan dan akan ditindaklanjuti.

Rupanya, hal itu tak membuat @hikdun takut. Kicauan dengan nada menghina Islam masih aktif disuarakan. Baru terhenti setelah ramai penangkapan Paonganan alias Ongen berkat peran netizen yang aktif suarakan #TangkapHikdun.

Siapakah Apollinaris Darmawan?

Seorang Pengacara bernama Rio Ramabaskara pernah mengungkap siapa sebenarnya di balik akun @hikdun. Berdasarkan penelusuran Rio, @hikdun merupakan kepanjangan dari Hikayat Dunia.
Hikayat Dunia merupakan Nama Perseroan Terbatas (PT) yang menjadi ‘Label’ usaha percetakan yang dimiliki oleh Darmawan.
hikdun hina islam“Buku Karya Darmawan yang Berjudul “Enam Jalan Menuju Tuhan” pun harus ‘Dicekal’ oleh Kejaksaan ditahun 2009. @hikdun,” tulis Rio di akun Twitter @Rio_Ramabaskara.

Bahkan Rio menuliskan alamat perisahaan milik Apollianus Darmawan, yakni PT Hikayat Dunia: “@hikdun Alamat PT. Hikayat Dunia, di Jl. Jatayu Dalam II/5 Bandung, Perwakilan Jakarta : Jl. Kayumanis VII No.40 Jakarta Timur.”
(ts/bataranews)

Post by : lemahirengmedia.com
Semua artikel bersifat dinamis karena sewaktu-waktu akan mengalami perubahan data/sumber/analisa dan lainnya demi keakuratan dan obyektifitas informasi.