Naudzubillah... Di hongkong Tren lesbian dikalangan tkw indonesia sudah jadi rahasia umum

“Tidak sedikit TKW di Hongkong yang sudah terjerumus dalam kemaksiatan. Ada yang menjadi wanita tunasusila. Kemudian, yang sekarang makin banyak adalah TKW yang melakukan lesbi,” kata Kiai Athian Ali, kepada ROL, Senin (20/7). 
Ketua Forum Ulama Ummat Indonesia (FUUI), KH Athian Ali mengisahkan maraknya fenomena lesbi di kalangan TKW Indonesia di Hongkong. Mereka telah mendeklarasikan diri secara terang-terangan, termasuk di ruang publik. 

Kiai Athian melihat jumlah penyimpangan seksual ini semakin membengkak dan mengkhawatirkan. Mereka sudah tidak malu lagi menunjukkan eksistensi di jalanan, misalnya dengan cara berpelukan.  Pasangan lesbi itu bahkan berani mengundang orang lain untuk merayakan pernikahan sesama jenis. Sebagai pasangan lesbi, mereka meminta hak-haknya dihormati oleh orang lain. 

Ia menambahkan, pasangan lesbi itu memposisikan layaknya laki-laki dan perempuan. Yang berperan sebagai perempuan biasanya berambut panjang, sedangkan yang berperan sebagai laki-laki berpotongan ramput cepak. Sedemikian parahnya, sampai-sampai Athian menilai para lesbian ini sudah sakit secara mental.

Setelah setahun bersama, lanjut Athian, mereka membeli boneka. Boneka itu mereka anggap sebagai anak.
Ada yang bonekanya sudah dua, tiga, empat, dan seterusnya. Tak tanggung-tanggung, pasangan lesbi itu sampai datang ke KBRI untuk mengeluarkan zakat fitrah bagi boneka-boneka yang dianggap anak tersebut.
Kiai Athian juga mendapat laporan, pasangan lesbi itu acapkali membawa boneka-boneka itu di jalanan seperti menggendong anak.
Misalkan ada orang yang menyenggol boneka tersebut sampai jatuh, pasangan lesbi bisa sampai melapor ke polisi. Mereka mengadukan anaknya sudah jatuh lantaran disenggol oleh pelaku.

“Saya pikir ini perlu perlu menjadi perhatian. Kalau saya melihat, Konjen sudah luar biasa perhatian. Mungkin dia juga perlu dukungan dari pemerintah. Saya kira ini harus melibatkan banyak pihak untuk memikirkan bersama-sama bagaimana menangani masalah ini,” katanya.

Athian Ali menyambangi Hongkong atas undangan Konsuler Jenderal (Konjen) KJRI Hongkong, Chalief Akbar Tjandraningrat.  Dalam kesempatan itu, ia mengisi khotbah Idul Fitri di lapangan rumput Victoria Park, Hongkong pada Sabtu (18/7).ROL

Semula tkw yang hanya ikut2an akhirnya malah terjerumus.

Ketika melihat sudut Victory ,causewaybay, jangan heran ketika melihat penampilan para tkw yang macho/maskulin. Pasangan anak muda yang jalan mesra, seakan individualisme sudah menjadi budaya mereka. Modernisasi yang dialami para tkw membuat kita berpikir, betapa mereka cepat menerima pengaruh budaya baru,seperti dandanan, maupun aksesoris yang dipakai.

Tenaga kerja di hongkong didominasi oleh wanita. Mayoritas bekerja disektor domestik alias pembantu rumah tangga. Setiap minggu dan publik holiday adalah jatah libur para tkw. Dan tkw dari Indonesia menjadikan Victory sebagai kampung jawa alias tanah air sebagai tempat berkumpul disaat libur. Disini kita bisa melihat gambaran tanah air yang berbhineka tunggal ika.

Ada yang tradisional, modern, religi,yang pasti kita bisa menyaksikan berbagai gaya tkw dari Indonesia yang super kreatif dan inisiatif.

Tren lesbian sudah jadi rahasia umum dikalangan tkw hongkong. Semua bisa memaklumi dan mencoba mengerti mengapa hal ini sampai terjadi???????. Hal ini bermula dari tenaga kerja filipina yang membawa virus cinta sesama jenis. Semula tkw yang hanya ikut2an akhirnya malah terjerumus. Sebenarnya ketertarikan lawan jenis dimulai dari penampungan di PJTKI saat mereka akan bekerja keluar negeri. Kebersamaan mereka berlanjut hingga mereka bekerja di Hongkong.

Sering sakit hati dengan laki-laki

Beberapa alasan kenapa mereka memilih menjadi lesbian antara lain sakit hati dengan kaum adam. Mayoritas di hongkong adalah wanita sehingga pergaulan ini secara tidak langsung melahirkan perilaku seks yang menyimpang. Pacaran jarak jauh biasanya dengan Tki korea maupun jepang dan juga malaysia. Sehingga tidak heran banyak menghabiskan pulsa telepon untuk melepas kerinduan dalam memadu asmara. Mereka kenal lewat dunia maya/yahoo.

Dan ada juga tkw yang pacaran dengan orang timur tengah maupun western, namun kebanyakan dari warga pakistan di Hongkong hanya memanfaatkan tkw,mereka memeras dan menghamili tanpa tanggungjawab.

Dandanan para tkw yang bergaya pria, benar2 jauh dari kesan feminim. Namun mayoritas majikan di Hongkong tidak mau ambil peduli dengan tingkah para helper selama mereka masih bisa bekerja baik untuknya. Seakan2 majikan disini memberi kebebasan untuk helpernya dalam mengekspresikan dirinya. Dan bagaimana kalau mereka pulang kampung untuk cuti ditanah air?? Sebelum cuti biasanya mereka memanjangkan rambut atau sekedar menghilangkan kesan maskulin agar keluarga tidak tahu tentang mereka di negeri orang.

Perkawinan sejenis yang ada di Hongkong bukan hal yang aneh. Hal ini sering dilakukan terang2an untuk memproklamirkan hubungan layaknya pernikahan Adam dan Hawa. Pernikahan mereka biasa diselenggarakan secara meriah didiskotik ataupun rumah karaoke yang tersedia disudut hongkong,seperti causewaybay, wanchai.

Pernikahan yang terjadi membutuhkan biaya yang tidak sedikit,bahkan pasangan ini juga patungan untuk biaya pernikahan mereka. Gaji dalam beberapa bulan habis untuk memproklamirkan hubungan cinta mereka dalam sehari. Dan yang pasti, hal ini dimanfaatkan untuk bisnis, karena di Hongkong hanya ada beberapa yang melakukan bisnis ini secara terang2an di kalangan komunitas tkw.

Dan yang pasti hal ini menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Banyak himbauan dari majelis dakwah maupun KJRI agar tidak dilaksanakan,namun toh masih banyak yang nekat dengan sensasi lesbi lainnya.(sumber:
RADIO GLOBAL MEDIA SWARA FM BANYUWANGI)

Merasa Senasib, Berubah Jadi Pasangan Lesbi
Beratnya tekanan hidup di negeri orang memunculkan banyak fenomena. Salah satunya, tren tenaga kerja wanita (TKW) lesbian. Berawal dari sekadar teman berbagi hingga menjadi sahabat, mereka mengikrarkan diri sebagai pasangan suami istri alias lesbi.
“IKI bojoku. Aku wes suwe urip ambek de’e (Ini istriku, saya sudah lama hidup dengan dia,” kata Arum (bukan nama sebenarnya), salah satu TKW asal Malang dengan sangat cueknya. Sambil berkata dia memandang Ita (nama samaran) di depannya. Seolah tahu dengan sikap Arum yang cuek dan suka blak-blakan, Ita hanya menjawab dengan senyum tanda mengiyakan.
Sikap cuek Arum sudah terlihat dari dandanannya. Perempuan berusia 28 tahun itu memotong rambutnya ala bintang film mandarin yang sedang ngetren. Dia lebih suka mengenakan kaus oblong lengkap dengan celana gombor. Cara jalannya sangat mirip laki-laki.
Sedangkan Ita justru kebalikannya. Dia terlihat feminim. Siang itu, Ita mengenakan tank top warna kombinasi hijau dan putih dipadu jins hot pants. Rambutnya dipotong shaggy sebahu.
Minggu (8/8) lalu adalah hari yang istimewa bagi mereka. Sebab mereka bisa melepas rindu setelah seminggu sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Keduanya memilih menghabiskan waktu dengan menyantap makanan di salah satu warung dekat kantor Konsulat Jenderal RI. “Kalau nggak hari Minggu nggak bisa ketemu,” sambung Ita sambil melirik Arum.
Dengan sangat santai, Ita mengisahkan ihwal hubungan lesbinya. Perempuan berusia 37 tahun itu mengaku sudah menjalin hubungan dengan Arum sejak tiga tahun lalu. Semula, keduanya merasa cocok saat berbincang. Hubungan semakin erat karena sering sharing tentang permasalahan masing-masing.
Ita yang sudah sepuluh tahun di Hongkong mengaku sangat kecewa dengan suaminya. Sebab saat dia banting tulang untuk menafkahi anaknya, adik, dan orang tuanya, suaminya malah selingkuh dengan wanita lain. Perempuan berkacamata itu semakin sakit hati saat mengetahui uang yang dikirimkan untuk anaknya, justru dihabiskan sang suami. “Dia (Arum, Red) sangat memahami aku. Makanya, aku sangat nyaman bersamanya,” kata perempuan yang tetap terlihat cantik meski menjelang usia 40 tahun ini.
Rasa sakit hati dengan suaminya begitu dalam. Hingga, perempuan yang telah mempunyai tiga anak ini sudah tak menyukai laki-laki lagi. Sejak saat itu, Ita berikrar tak akan menikah dengan lelaki mana pun.
Meski menyadari hubungannya dengan Arum penuh ketidakpastian. Ita mengaku sangat menikmatinya. Setidaknya selama di Hongkong mereka tetap bersama. Tiap Minggu, mereka selalu berdua menghabiskan liburan. Biasanya makan di restoran, shopping, atau bepergian ke tempat wisata di Hongkong.Bagaimana aktivitas seks mereka? Di tahun pertama berhubungan dengan Arum, hampir setiap minggu Ita selalu check in di hotel. Di Hongkong, katanya, banyak hotel yang menjadi langganan TKI lesbian. Di antaranya hotel di kawasan Yau Ma Tei dan Cosway Bay.
Sewa kamar sehari cukup 150 HK$. “Ini sudah menjadi rahasia umum. Sudah banyak yang tahu dan mereka cuek saja,” kata perempuan asal Surabaya yang menyebut istilah check in dengan ngandang (di dalam kandang, Red) ini.
Kini, setelah hubungan mereka berjalan tiga tahun, seks bukan lagi menjadi prioritas utama. Saat bertemu, Arum dan Ita lebih senang mengunjungi beberapa tempat kos temannya atau shopping. Meski, beberapa kali sebulan mereka tetap saja check in di hotel.
Seperti layaknya komunitas lesbi di beberapa daerah, komunitas TKW lesbi di Hongkong juga mempunyai tempat favorit untuk nongkrong. Setiap hari Minggu sekitar pukul 16.00, mereka biasa berkumpul di dua diskotek di daerah Wan Chai. Di sana, mereka tak sungkan untuk bermesraan dengan sesama jenis, mengonsumsi narkoba, atau minum minuman keras.
Berbeda dengan di Indonesia, para TKW lesbi di Hongkong lebih terbuka. Mereka tak malu bermesraan di tempat umum. Ita memperkirakan jumlahnya ribuan. Jika di Indonesia dikenal pasangan hunter dan lines, TKW lesbi di Hongkong tak mengenal istilah tersebut. Mereka memanggil sesuai kesepakatan saja. “Kalau saya manggil dia (Arum, Red) sayang. Gitu aja,” terangnya.
Dilihat dari dandanannya, ungkap Ita, pasangan lesbi bisa dikenali dengan dandanan mereka yang tomboy seperti laki-laki. Meski, tak semua perempuan yang berdandan tomboy itu tergolong lesbian. Tetapi, menurut Ita, mayoritas TKI yang berdandan tomboy adalah lesbian. Mereka bisa berpasangan dengan sesama perempuan berdandan tomboy atau berpasangan dengan perempuan feminim seperti dirinya. “Lesbi seperti layaknya hubungan pria dan wanita. Kalau pasangannya diganggu, mereka bisa saling bunuh (dengan lesbian lain, Red),” tegasnya.
Demi cintanya pada pasangan, mereka rela hidup sekamar di tempat kos yang kumuh dengan harga mahal. Saking setianya dengan pasangan, mereka juga memilih tak pulang ke Indonesia. Meski di Hongkong tak punya pekerjaan tetap karena telah dipecat majikannya,sumber
Post : lemahirengmedia.com
Semua artikel bersifat dinamis karena sewaktu-waktu akan mengalami perubahan data/sumber/analisa dan lainnya demi keakuratan dan obyektifitas informasi.

No comments

Isi komentar adalah tanggapan pribadi,tidak mewakili kebijakan kami. Admin berhak mengubah/menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah, pelecehan dan promosi. Setiap komentar yang diterbitkan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Copyright © . Lemahireng Info All Right Reserved - KabarIslam | Berita Panas | Info Cerdas | Viral News | Nasional Hot | Tips Sehat | Updatechno | Breaking .
Powered by Blogger.