Inilah Pekerjaan terhormat tapi terlaknat -->

Iklan Semua Halaman

DUNIA ISLAM

Inilah Pekerjaan terhormat tapi terlaknat

Selasa, 06 Agustus 2013
Pekerjaan terhormat adalah idaman siapa saja tanpa terkecuali,tetapi kadang terhormat belum tentu terbaik dalam standar syariah. salah satu yang lagi trend adalah perbankan. 

Dunia Perbankan menjadi pekerjaan favorit saat ini.Memang Sebuah pekerjaan adalah barometer kehormatan secara status sosial bagi pemiliknya.Tetapi belum tentu juga karena mengingat standar ukuran dalam menilai suatu pekerjaan ada beberapa kacamata.

Dalam era zaman yang liberal ini barometer ketika menilai suatu pekerjaan adalah dari penampilan dan megahnya fasilitas yang menjadi penunjang pekerjaan tersebut.

OK lah kita langsung ke TKP saja ... 

Ketika kita melihat ada orang yang bekerja di kantoran dengan membawa mobil dinas dan berjas juga selalu bersinggungan dengan uang banyak maka secara umum akan mengatakan bahwa pekerjaan seperti ini adalah pekerjaan yang bagus atau terhormat.


Tetapi di lain pihak kita melihat ada seseorang yang bekerja sebagai pemulung yang  hanya membawa karung untuk memungut sampah di pinggir jalan untuk di jual.Kalau pekerjaan model ini banyak yang mengatakan pekerjaan yang hina.Ini penilaian dengan kacamata liberal.

Lalu sebenarnya pekerjaan yang mulia itu yang seperti apa... Dalam hukum islam pekerjaan mulia adalah pekerjaan yang tidak melanggar hukum syariat dalam hal ini adalah standar halal haram.Itu kalau kita mau memakai kacamata islam lhooo...

Menurut hukum islam memang lebih mulia sang pemulung dari pada si pegawai Bank.Karena kalau boleh jujur secara umum gerak dunia perBankkan saat ini tidak lepas dari yang namanya bunga terlepas dengan berbagai versi nya tetapi meskipun di desain apapun agar tidak berbau bunga.Padahal bunga adalah riba.Definisi riba sendiri secara umum adalah transaksi yang melipat gandakan hasil akhir,secara kesimpulan transaksi yang bermuatan bunga maka bernilai Riba.

Jadi para pekerja di Bank dengan berbagai bidangnya  sangat rentan terlibat dengan tindakan yang terlaknat oleh Allah swt.Bahkan ada yang mengatakan meskipun hanya sebagai pencatat transaksi saja juga terkena dosa riba.Karena siapapun yang bertindak untuk berperan dalam berjalannya proses Riba maka dia termasuk pelaku riba walaupun kadar kontribusinya berbeda-beda.

“… dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya telah dilarang darinya, dan karena mereka memakan harta dengan jalan yang batil…” (Surat an-Nisa, ayat 161)

Apapun namanya, bunga ataukah fawaid, tetap perlu dilihat hakekatnya. Keuntungan apa saja yang diambil dari utang piutang, senyatanya itu adalah riba walau dirubah namanya dengan nama yang indah. Inilah riba yang haram berdasarkan Al Qur’an, hadits dan ijma’ (kesepakatan) ulama. Para ulama telah menukil adanya ijma’ akan haramnnya keuntungan bersyarat yang diambil dari utang piutang. Apa yang dilakukan pihak bank walaupun mereka namakan itu pinjaman, namun senyatanya itu bukan pinjaman. Mufti Saudi Arabia di masa silam, Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah berkata,

Secara hakekat, walaupun (pihak bank) menamakan hal itu qord (utang piutang), namun senyatanya bukan qord. Karena utang piutang dimaksudkan untuk tolong menolong dan berbuat baik. Transaksinya murni non komersial. Bentuknya adalah meminjamkan uang dan akan diganti beberapa waktu kemudian. Bunga bank itu sendiri adalah keuntungan dari transaksi pinjam meminjam. Oleh karena itu yang namanya bunga bank yang diambil dari pinjam-meminjam atau simpanan, itu adalah riba karena didapat dari penambahan (dalam utang piutang). Maka keuntungan dalam pinjaman dan simpanan boleh sama-sama disebut riba.

Ancaman bagi pelaku Riba 

Dengan tegas dan jelas bahwa sekecil-kecilnya dosa Riba seperti menzinahi ibu kandung sendiri.
Jadi mungkin dosanya lebih besar dari zina dengan pelacur atau orang lain.Zina sudah termasuk dosa besar dalam islam terlebih lagi berzina dengan ibu kandung sendiri.

Mengenaskan sekaligus menjijikan berarti.Mungkinkah lebih mulia pelacur daripada pegawai perbankkan....


Karena kalau pelacur hanya dapat dosa zina tetapi pelaku riba berdosa karena berzina dengan ibu kandung sendiri. Hmm...seperti hewan saja. Lalu apakah mereka yang bekerja di dunia perbankan mendapat  status hukum dari dosa riba ini...Jelas iya..walaupun merek mungkin terhormat secara status sosial tetapi terlaknat secara hukum riba itu sendiri...

Naudzubillah...

Lemdia.com (media milik kaum rakyat jelata) "Media lokal yang menggali dan mengangkat potensi masyarakat bawah"