Hanya orang "bodoh" yang merayakan 17 Agustus sebagai hari kemerdekaan -->

Iklan Semua Halaman

DUNIA ISLAM

Hanya orang "bodoh" yang merayakan 17 Agustus sebagai hari kemerdekaan

Minggu, 11 Agustus 2013
Assalâmu‘alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh.

Merayakan kemerdekaan dengan suka cita dan berfoya-foya adalah tindakan bodoh mengingat bahwa kemerdekaan kita hanya sekedar simbol saja. Ok..lah kalau memperingati masih mendingan karena mengenang para pahlawan bangsa yang dengan berkorban jiwa raga demi mengusir penjajah. Tapi kalau merayakan... apanya yang dirayakan?


Kemerdekaan seperti apa yang kita rayakan kalau sampai detik ini masyarakat masih dalam kondisi yang jauh dari kemakmuran.Padahal Indonesia kaya akan kekayaan alam yang melimpah ruah.

Bahan tambang,hasil hutan dan kekayaan di bawah laut yang sebenarnya kalau di kelola dengan baik bisa mengentaskan kemiskinan warganya.Dan yang jelas rakyat tidak membayar pajak.
Pembaca yang budiman, bulan Agustus tahun 2013 ini, bangsa Indonesia memperingati HUT Kemerdekaannya yang ke-68. Enam puluh delapan tahun tentu bukan waktu yang pendek. Selama 68 tahun itulah bangsa ini diklaim telah merdeka.

Jika ukurannya adalah kemerdekaan dari penjajahan fisik (militer), tentu saja bangsa ini memang telah lama merdeka. Namun, jika ukurannya adalah kemerdekaan dari segala bentuk penjajahan termasuk dari penjajahan non-fisik (non-militer), sesungguhnya bangsa ini belum merdeka.


 "Kita justru masih dijajah di semua lini:politik, hukum, pendidikan, sosial, budaya, dll" 

Bahkan yang paling mendasar kita sebetulnya dijajah secara ideologi. Sebab, Pancasila sejauh ini hanyalah simbol.Ideologi yang sebenarnya berlaku di negeri ini adalah Sekularisme yang merupakan ibu kandung Kapitalisme dan Liberalisme yang justru menjadi sumber penjajahan negeri ini.Ironisnya, kenyataan ini berlangsung bahkan sejak Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tahun 1945.


Seluruh kekayaan alam di gunakan untuk kemakmuran rakyatnya.. Benarkah staitment ini... Rakyat yang mana yang di maksud...karena pada faktanya kekayaan alam kita di kuras habis oleh pihak asing...Sehingga kaum rakyat kecil masih tetap dalam kondisi kemiskinan.Pejabat hanya memperkaya dirinya dengan politik kotornya... 


Pemilu sudah berkali-kali di selenggarakan tetapi belum mampu mensejahterakan rakyatnya.Mengapa ini... apa yang salah..Bukankah para pejabat rata-rata berpendidikan tinggi bahkan ada yang profesor,doktor dan berbagai title keahliannya yang berderet mengelilingi nama aslinya..aneh...
Betulkah bangsa ini masih terjajah? 

Sinonim kata terjajah adalah tertindas atau terbengkalai.Sedangkan kata lain kemerdekaan adalah kebebasan(umum) Atau mungkin kemerdekaan sendiri dalam konteks ini mengarah pada kata kesejahteraan atau kemakmuran.
Lalu pertanyaan sederhananya adalah sudah makmurkah rakyat indonesia..
Sudahkah kita sebagai rakyat indonesia sudah sejahtera di bidang :
  • Politik (berapa persen masyarakat yang menjadi korban kebijakan politik pejabat kita)
  • Ekonomi (Benarkah seluruh masyarakat indonesia sudah terpenuhi semua kebutuhan pokoknya)
  • Hukum  (Sudah tegak kah keadilan di negeri ini)
  • Sosial (Bukankah di media sudah memuat tentang fenomena sosial yang  jelas-jelas membuktikan bahwa negara ini masih mengikuti pola sosial yang ada di barat/penjajah)
Mengapa semua ini bisa terjadi? Apa faktor penyebabnya? Apa pula akibatnya? Lalu bagaimana solusinya agar negeri ini benar-benar merdeka dari segala bentuk penjajahan?

"Dulu indonesia di jajah Belanda,jepang dan sekutunya tetapi sekarang Rakyat indonesia di jajah pejabatnya sendiri."

Beberapa pertanyaan di atas menjadi kajian utama al-waie edisi kali ini. Selain itu, karena Ramadhan belum lama kita jalani, kajian seputar memelihara spirit Ramadhan disajikan juga di sini. 


Suasana Perayaan Idul Fitri tahun ini juga menginspirasi kami untuk mengkaji kembali makna silaturahmi, yang memang selalu identik dengan Hari Lebaran. 

Menengok ke luar negeri, analisis di seputar krisis Mesir pasca kudeta tentu penting pula untuk disajikan dalamal-waie edisi kali ini. Di luar itu, sejumlah tema menarik lainnya tentu sayang untuk dilewatkan.
Terakhir, masih dalam suasana Ramadhan dan Idul Fitri 1434 H, atas nama Redaksi, tentu kami tidak lupa untuk menyampaikan ucapan: “Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir-Batin.” Kami pun memohon kepada Allah SWT, “TaqaballalLâhu minnâ wa minkum, Shiyâmanâ wa Shiyâmakum, Kullu ‘âmin wa Antum bi khayrin.”
Wassalâmu‘alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh.
Lebih detail bisa klik di sini